Sabtu, 20 Juni 2015

Ongkek Bambu

“Ongkek Bambu”
Oleh : Joyo

Aroma sengak khas toak  memenuhi atmosfer langit-langitku, gelak tawa dan diskusi khas warungan, obrolan tanpa ujung berbaur dengan alunan gamelan yang mengiringi lengking suara pesinden di ujung kampung. Di sebuah sumur gedhe punden desa, aku dan beberapa temanku memang sedang menikmati pesta desa dalam rangka upacara nyadran di ujung musim panen. Pesta yang digelar dengan hiburan tayuban.

Tayuban adalah satu-satunya hiburan yang menyenangkan di desa kami, desa pelosok yang jauh dari sentuhan kemodernitasan dan segala glamaurnya zaman, kami para pemuda desa juga ikut memeriahkan pesta setahun sekali itu. Biasanya kami bergerombol sambil menikmati jamuan sederhana, sepasang ongkek berisi toak dan gelas-gelas dari bambu yang dikenal dengan nama centak. Minuman toak bagi kami pemuda-pemuda adalah hal yang lumrah dan biasa. Minuman itu ibarat air putih bagi kami yang menemani saat kami kerja di tegalan, saat kami membuka ladang dan hutan.

Biasanya kami bergerombol antara lima sampai enam orang di sore hari setelah pagi dan siang hari bekerja memeras keringat membanting tulang. Sambil mengeja senja kami mengisi waktu luang dengan minum toak bersama, menyulam kebersamaan antar sesama.

Begitulah cara kami pemuda-pemuda desa menjalin sosialitas antar warga dengan gelas-gelas bambu yang menebarkan aroma “surgawi”, melenakan alam indrawi, mematikan nalar dan nurani. Gelas-gelas bambu ibarat susunan rantai yang mengokohkan tali persaudaraan dan kebersamaan kami, dan aroma khas toaknya menjadi penanda akan eksistensi dan jiwa kami untuk saling berbagi. Berbagi kesenangan di tengah derita zaman yang semakin edan, berbagi senyum di tengah-tengah dunia yang semakin menggila. Berbagi empati di antara diantara kami para “Syaroobul Asyiqin”.

Tak menjadi masalah buat kami kebijakan-kebijakan pemerintah yang terus menindas rakyat kecil seperti kami, asal pohon-pohon Tal itu masih berbunga dan mengalirkan cairan toak jika kami sadap. Asal bambu-bambu liar di belakang rumah kami bisa kami tebang untuk membuat ongkek, bumbung dan gelas-gelas centak kami. Bagi kami pemerintah kadang tak lebih dari segerombolan perampok yang mengusik ketenangan hidup kami. Kami tak butuh wakil-wakil untuk menyampaikan aspirasi kami, semua itu hanya kami anggap sebagai mitos dan tahayul belaka. Hutan kami, ladang kami, sawah-sawah kami, kambing dan kerbau-kerbau kami lebih mengerti akan kebutuhan hidup kami, dibanding segerombolan orang-orang yang sok ke GR an menjadi wakil kami di pemerintahan.

Kami warga desa mungkin memang hanya dipandang sebagai rakyat jelata, masyarakat rendahan, kasta sudra, namun ingat bahwa sebenarnya kamilah pemilik sah negeri ini.  Rakyatlah yang seharusnya berdaulat. Jika bukan karena ketulusan dari kami para warga desa, sudah lama kami pensiun dini menjadi rakyat. Kalau rakyat telah mengundurkan diri maka apalah patut kita ini disebut sebagai sebuah negeri ?.

Kami warga desa memang berpendidikan rendah, namun kami masih mengenal benar apa itu sebuah kemurnian. Beda benar antara emas dan loyang. Tidak semua orang yang berteriak-teriak mengaku pembela rakyat jelata adalah pahlawan, mungkin ia sedang belajar akting seperti anak-anak teateran, semua hanyalah sandiwara, semua hanyalah kepura-puraan belaka, dan pada saatnya nanti semua akan terbukti, karena hanya kemurnian yang abadi, dan waktu tidaklah bisu.

Kami akui kami rakyat memang bodoh hingga bertahun-tahun selalu ditindas oleh rezim yang menamakan dirinya pemerintah. Tiap gerak dan aktivitas kami  harus dipajaki, katanya sih untuk kemakmuran. Kami rakyat dijadikan semisal tuyul penghasil uang oleh tuan bendoro-bendoro yang hasilnya mereka makan untuk anak cucu dan keluarga mereka sendiri. Tak ada yang tersisa buat kami kecuali hanya sekedar slogan yang urakan “Orang pintar taat pajak”.  Kami sebenarnya tak mau pintar-pintar amat agar tak perlu lagi membayar pajak buat memenuhi ambisi pribadi para bendoro itu.

Bagaimana mau pintar, sekolah pun mahal. Seperti zaman VOC dulu yang hanya kaum ningrat dan orang berduit saja yang boleh sekolah. Rakyat inlander kelas teri seperti kami hanya manggut-manggut saja melihat iklan di tv tentang sekolah gratis, tentang BOS, tentang APBN yang 20 % untuk pendidikan dan tentang-tentang hal lain yang hampir selalu dipastikan bertentangan dengan kenyataan.  Dengan berbagai dalil yang lebih mirip dengan dalih kami harus tetap membayar biaya sekolah, kami harus tetap membayar atas nama “Jer basuki mawa bea”  tidak ada yang gratis di dunia ini, semua ada harga yang harus dibayarkan. Hanya ada Tuhan yang menyediakan dzatnya untuk kita cintai secara gratis. Bahkan justru Tuhan Yang  Kuasa membayar kita dengan sifat rohman dan rohimnya yang kekal sepanjang masa.

Begitulah kami warga desa kaum pinggiran menikmati pesta tahunan di ujung kampung dengan ritual sederhana sepasang Ongkek dan gelas-gelas centak, bersama rancaknya iringan musik gamelan yang kemlungkung dan lengking suara sinden yang menembangkan harapan akan masa depan yang lebih mapan.

Harapan akan datangnya zaman yang membawa kami menaiki bahtera Nuh menuju jalan keselamatan. Harapan akan munculnya sang mesiah yang akan membawa kami merobek tirai kegelapan dan menuntun kami menuju  gerbang hidayah. Harapan yang akan menjadikan bambu tidak hanya sekedar sebagai Ongkek dan centak, namun juga seajaib tongkatnya Nabi Musa yang mampu membelah samudra angkara murka di dalam jiwa kami, atau setidaknya menjadi obor yang menerangi gelapnya jalan kehidupan kami, agar kami mampu mendaki puncak cahaya-NYA. Nuurun ‘ala Nur. Sekian. Bangilan, 1-6-15.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar