Minggu, 21 Juni 2015

Hamka Ulama yang Nyastra

Hamka Ulama yang Nyastra

Gambar : Serbasejarah.wordpress.com
Membaca karya Hamka khususnya yang berbentuk novel semisal Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der wijck mengajarkan kepada kita untuk lebih arif akan kompleksitas hidup yang ada di tengah-tengah masyarakat. Kadang nilai-nilai sosial tidak bisa kita kelompokkan menjadi dua kutub yang saling berhadapan, halal-haram, hitam-putih, terang-gelap dan lain sebagainya. Adakalanya nilai-nilai di mana frasa-frasa itu harus dikesampingkan terlebih dahulu atau mungkin bahkan tidak perlu dipakai untuk menilai sesuatu yang memang bukan ranahnya.

Hamka tentu sangat faham tentang ilmu agama, lebih-lebih beliau memang seorang ulama kenamaan, namun begitu beliau tidak bersikap arogan dengan segala kompleksitas nilai-nilai yang ada di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Kadang kita melihat kelompok-kelompok tertentu yang hantam kromo menerapkan standart kaku dalam menilai sesuatu yang dalam Al-Qur’an sendiri kadang masih musytabihat. Stempel halal-haram, hitam-putih seakan menjadi senjata pokok dalam menilai segala sesuatu seakan meniadakan warna-warni kehidupan yang memang oleh Allah kita disuruh untuk memilihnya sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan peradapan manusia. Saya berharap mereka-mereka  bukanlah seorang penyandang buta warna yang memang hanya mampu melihat hitam putih saja tanpa tahu warna-warni keindahan lainnya.

Semisal novel, roman, puisi dan sejenisnya kadang sebagian pihak memandang sebelah mata dan hanya dianggap karya sampah belaka. Namun saya kira Hamka tidak sedang bergurau ketika ia sebagai seorang ulama juga sebagai seorang penulis novel, disamping beliau juga menulis tafsir Al Qur’an. Hamka berhasil keluar dari pemikiran mainstream masyarakat dan memberikan definisi dan makna tersendiri terhadap karya sastra berupa novel yang dianggap nir-nilai keagamaan. Kita memang jarang memiliki ulama yang nyastra semisal beliaunya. Walau tidak ada keharusan memang seorang ulama adalah seorang sastrawan juga, sebagaimana tidak bisa dipersalahkan juga ketika ada ulama yang sekaligus seorang sastrawan.

Selain Hamka menurut saya ada tokoh-tokoh ulama yang juga sekaligus seorang sastrawan semisal Cak Nun, Gus Mus, Taufiq Ismail, Zawawi Imron, Ahmad Tohari. Beliau-beliau ini berusaha memberikan warna yang berbeda dalam dunia sastra.. Jika kita sepakat bahwa nilai-nilai ajaran Islam itu universal tentu dunia sastra pun tidak boleh luput dan kering dari nilai-nilai keislaman itu, agar dunia sastra tidak hanya dimonopoli oleh orang-orang yang hanya menjadikan sastra sebagai objek untuk merusak peradapan generasi muda kita. Bukankah dulu Partai Komunis Indonesia juga menjadikan dunia sastra dan seni untuk memprogandakan ajaran mereka ? ada satu organisasi seni dan sastra di bawah onderbouw PKI kala itu yang dikenal dengan sebutan Lekra (Lembaga kebudayaan Rakyat), PKI dengan Lekranya berusaha menghantam dan merusak nilai dan sendi-sendi ajaran Islam dengan kebudayaannya semisal menyelenggarakan pagelaran ketoprak dengan lakon “Matinya Gusti Allah.” Membuat lagu genjer-genjer yang booming di tahun 40-an dan lain sebagainya. Oleh karena itu kita memerlukan sastrawan-sastrawan yang peduli terhadap nilai-nilai ajaran Islam dalam setiap karyanya dan memberikan sentuhan profetik dalam hasanah  kebudayaan bangsa Indonesia.

Persoalan cinta adalah persoalan abadi pada tiap diri manusia, masalah cinta telah ada sejak manusia diciptakan Tuhan. Hamka pun tidak tabu untuk menulis tema ini. Terbukti dalam dua karyanya yang telah saya baca bercerita tentang romantisme percintaan. Novel Di Bawah Lindungan Ka’bah berkisah tentang cinta sepasang kekasih Hamid-Zainab, walau cinta mereka dipisahkan jarak bermil-mil namun cinta itu tidak kujung padam, hingga akhirnya keduanya meninggal dunia tanpa sempat mengikat cinta mereka dalam Miitsaqan ghalidzan, dalam keindahan mahligai rumah tangga. Hamid dan Zainab sama-sama tak mampu mengatakan gelora cinta mereka berdua, cinta itu mereka pendam dalam-dalam, hanya Tuhan dan pemilik cinta itu sendiri yang merasakannya. Mereka berdua memelihara cinta dalam bingkai KeTuhanan, hanya kepada Tuhan cinta itu diadukan, cinta mereka bedua sangat suci dan murni, jauh dari nafsu dan kesenangan duniawi. Hamid memilih berada dalam kibaran kiswah Ka’bah untuk menyalurkan hasrat cintanya kepada kekasihnya, begitu juga Zainab ia menghabiskan hari-harinya bermunajat kepada Tuhan. Sepasang kekasih itu menyimpan bara cintanya hingga kematian menjemputnya. Dalam lisannya yang mulia Rosulullah bersabda :
من عشق فعفّ فكتم فمات مات شهيدا

Artinya : Barang siapa yang sangat mencintai (seseorang) kemudian ia tetap menjaga diri dari perbuatan dosa dan menyimpan cintanya sampai mati karenanya, maka ia telah mati syahid”

Tenggelamnya Van der wijck pun menceritakan hal yang sama, cinta seorang pemuda bernama Zainuddin dengan kekasihnya Hayati. Cinta mereka berdua kandas karena tidak adanya persetujuan dari pihak keluarga Hayati. Gadis itu akhirnya dinikahkan dengan seorang pemuda dari keluarga kaya-raya Aziz. Sedang Zainuddin sendiri berasal dari keluarga yang papa.

Zainuddin dipaksa menerima keadaan, ia sama sekali tidak bisa mengharap keajaiban slogan “Cinta itu buta”  ataupun mengandalkan mantra-mantra yang mempesona :
في الحبِّ يموت كلّ الإيضاح
"Dalam cinta, matilah segala penjelasan”

Semua itu hanya semakin meneguhkan kesedihan dan keputusasaan terhadap cintanya yang

Hingga akhirnya Zainuddin pergi merantau ke tanah Jawa untuk berjuang dari keterpurukan cintanya. Walau banyak yang mengatakan bahwa cinta itu tidak memandang harta dan kedudukan namun pada kenyataannya kondisi sosial di tengah masyarakat tidak seindah slogan cinta. Mungkin slogan itu memang hanya ada di negeri dongeng yang memang tidak nyata. Hamka dengan sangat baik berhasil mengemas cerita cinta dalam dua novelnya dalam bingkai yang sangat manusiawi. Bukan cerita cinta yang hanya ada dalam negeri dongeng saja yang selalu happy ending.

Label cerita cinta dua anak manusia sering difahami dan dipandang negatif sebagai tema pasaran, bahkan mungkin label seperti itu juga kemudian membuat novel semacamnya dijuluki roman picisan yang cenderung berbicara cinta yang cabul dan binal atau dalam genre sastranya dikenal dengan istilah sastra tubuh. Namun setelah saya membaca dua novel Hamka ternyata pandangan itu keliru. Sebuah karya tulis diakui atau tidak sedikit banyak tentu mencerminkan pandangan dari si penulis itu sendiri, jika penulis memiliki pandangan yang sholeh tentu karyanya juga akan sholeh, begitu juga sebaliknya jika pandangan dan latar belakang si penulis adalah picisan tentu karya yang dihasilkan juga tak bermakna. Hamka berhasil memberikan warna yang berbeda tentang kisah yang bertemakan cinta dalam dua novelnya, ia mampu menghadirkan pada pembaca tentang makna cinta yang fitrah dan tak terkotori oleh nafsu-nafsu yang syaitoni. Sekian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar