Selasa, 23 Juni 2015

“ Buah Cinta “

“ Buah Cinta “

Sebagaimana pohon yang menghasilkan buah, cinta pun demikian. Pohon yang baik dan subur tentu juga menghasilkan buah. Cinta yang tidak memberikan hasil atau buah bukanlah cinta namanya, akan tetapi sebuah penghianatan terhadap perasaan dan Pemberi Harapan Palsu (PHP).
                Pohon cinta adalah ketulusan, cabangnya adalah keikhlasan, rantingnya adalah kesucian sedang daunnya-daunnya adalah penghambaan. Jika cinta dilandasi oleh hal-hal tersebut diatas tentu buah yang dihasilkan pun sama, ketulusan, keikhlasan, kesucian dan penghambaan. Bukankah pohon-pohon yang                 baik juga  akan menghasilkan buah-buahan yang baik pula !
                Cinta memang selalu mempesona, menyihir, dan melenakan. Seseorang yang telah mendaki pohon cinta ia takkan lepas lagi darinya, bahkan sampai kematian itu menjemputnya. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim ketika di datangi malaikat maut untuk mencabut nyawanya, hatinya merasa tenang, karena diliputi rasa rindu yang mendalam kepada kekasih sejatinya. Dan sebentar lagi saat-saat yang dirindukan untuk bertemu dengan kekasihnya sejatinya akan segera tiba. Nabi Ibrahim berkata pada Sang malaikat maut :
هل رأيت خليلا يميت خليله
“Apakah Engkau melihat seorang kekasih yang mematikan kekasihnya ?”.
Nabi Ibrahim sedang bermanja ria dengan Tuhannya, dengan perasaan rindu yang tak dapat di tahan-tahan, dengan perkataan itu sebenarnya Nabi Ibrahim yang sedang mencari-cari perhatian dari kekasihnya Allah SWT. Saat itu perkataan dari Nabi Ibrahim langsung disambut mesra oleh Allah SWT dengan perkataan yang indah pula :
هل رأيت محبّا يكره لقاء حبيبه ؟
“Pernahkah engkau melihat seorang kekasih menolak undangan kekasihnya ?”
                Akhirnya Nabi Ibrahim mempersilahkan kepada malaikat maut untuk mencabut nyawanya, setelah mengetahui dan mendengar jawaban  cinta ALLAH, sebagai balasan cintanya Nabi Ibrahim. Begitulah cinta menghilangkan jarak, yang jauh menjadi dekat, menghilangkan sekat hamba dan Gustinya, karena cinta tak mengenal itu semua. Oleh karena itu ulama-ulama sufi dulu ketika telah larut dan tenggelam dalam lautan mesra dengan kekasihnya seakan-akan telah lupa segalanya. Al Hallaj bilang : “Ana Al Haq”. Sedang Syekh Siti Jenar bilang : “Aku Ingsun kang sejati”. Hal ini tentu tidak bisa difahami secara tektual, namun harus menyertakan makna-makna  batiniah yang perlu perenungan yang mendalam. Karena mereka telah  mabuk cinta dan  sedang menikmati buah kesejatian cinta.
                Menurut para Ulama sufi buah kecintaan kepada Allah itu ada tiga macamnya, diantaranya adalah:
1.          Al Uns
Al Uns menurut Imam Al Ghozali adalah salah satu dari buah mahabbah kepada Allah yaitu puncak rasa suka jiwa.
Buah mahabbah al Uns ini bisa dipetik dari keadaan hamba yang selalu bertaqorrub kepadaNya, selalu bermesra dan berlama-lama dengan Allah dalam berdzikir kepadaNya.

2.          Wushul
Wushul adalah ketika seorang hamba telah tenggelam dalam pesona Al Haq. Menurut Imam Al Ghozali Wushul adalah apabila ia memandang kepada  yang dipandangnya, maka tidak ada yang dipandanginya melainkan hanya Allah. Jika ia memandang pada sebuah cita-cita tujuannya, maka tidak ada lain cita-cita itu selain Allah.
      Lebih jauh lagi Imam Al Ghozali menerangkan bahwa wushul memliki 2 tujuan yaitu :
            1.    Tujuan Awal : dimana pada tahapan ini ialah baru pada tahap penyucian diri.
            2.    Tujuan Akhir : dimana pada tahap ini seorang hamba telah merajutkan dirinya dengan secara                total serta manunggal, seakan-akan dia adalah Dia.

3.       As-Syauq
As-Syauq adalah perasaan rindu. Kata ridu ini seakan-akan menjadi bagian dari kata cinta itu sendiri. Tidak cinta tanpa rindu, tidak ada rindu tanpa cinta. Rindu kepada Allah SWT terkadang juga diistilahkan dengan kata Isyiq, dalam kajian tasawuf kata-kata itu selain bermakna rindu juga memiliki pengertian terhadap akses perilaku abnormal pada diri seseorang yang telah menyimpan rindu, sehingga kadang pancaran rindu karena mahabbah kepada Allah SWT itu melahirkan sikap yang dianggap sesat. Seperti Al Hallaj dalam syairnya ketika ia ditimpa rindu  yang sangat kepada kekasih sejatinya  :
“Aku rindu, dan yang ku rindu adalah aku.
Kami adalah dua ruh, dan kami bersatu dalam satu tubuh.”

                Inilah yang dalam ajaran tasawuf dikenal dengan istilah Hulul, yaitu bersatunya Tuhan dan manusia. Bersatu dalam Qudrah dan IradahNya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar