Jumat, 15 Mei 2015

Romansa Sarah Wulan Dalam Kisah Kentrung Bate

Romansa Sarah Wulan Dalam Kisah Kentrung Bate

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa di Bate Kec. Bangilan terdapat kesenian klasik yang hampir dipastikan tinggal nama, Kentrung Bate. Semenjak kematian Mbah Surati sang dalang kentrung satu tahun lalu kesenian ini telah kehilangan gairah untuk eksis. Sebenarnya masih ada pelaku kesenian kentrung di Bate yang tersisa, namun hanya tinggal penabuh timplungnya saja yaitu Mbah Setri, namun sayang mbah setri hanya mampu menabuh timplung dan tidak bisa mendalang. Padahal inti dari pertunjukan kentrung adalah dongeng dari sang dalang yang menceritakan tentang kisah-kisah Para Nabi, para wali, dan kisah-kisah legenda lainnya.

Kalau di dalam drama percintaan kita akrab dengan sepasang kekasih Romeo dan Juliet dari Inggris, atau kisah Rojali-Juleha dari Betawi, Sampek – Engtay dari Cina, ternyata penduduk pedalaman Tuban juga punya kisah romantis sepasang kekasih Sarah Wulan – Juwarsah, cinta mereka pun terhalang oleh orang tua dari Sarahwulan yaitu Nyi Wandansili.
Berikut sepenggal kisah dari drama percintaan Sarah Wulan :
*Nyi Wandansili berdiri angkuh dengan kemurkaannya. Tubuhnya ringkih membelakangi Sarahwulan yang bersimpuh meminta belas kasihan.

“Ampun Mbok ijinkan kawulo pergi,” kata sang gadis berlinang airmata. Segenggam pakaian dibungkus jarik kawung teronggok di samping kanannya.

“Mau jadi apa kamu tak nurut orangtua, bocah wadon kudu punya harga diri,” hardik Nyi Wandansili kepada anaknya.

Kepergian sang gadis mencari kekasihnya Juwarsah, bagi Nyi Wandansili tak ubahnya cidro. Malu keluarga harus ditanggung Nyi Wandansili jika sang anak meninggalkan rumah. Meski jerit tangis anaknya membelah langit, kian membuat sang janda bergeming.

*(Majalah Sastra Budaya "Gong" - Jogjakarta.)

Dari alur kisahnya dapat kita paparkan tentang seorang anak perempuan desa yang berani menentang kehendak ibunya demi melunasi janji kesetiaan kepada kekasihnya. Cinta itu benar-benar telah membutakan nalar dan pikiran Sarahwulan lari dari rumah mengejar kekasihnya Juwarsah yang entah kemana perginya.

Sebenarnya dari segi kultur Jawa seorang gadis biasanya jika telah memasuki usia menikah akan dipingit dan tidak boleh keluar rumah sembarangan. Dan anak gadis secara kultur sangat manut kepada orang tuanya, karena seorang gadis atau wanita berasal dari kata wani ditata. Berani diatur dan siap menyerahkan garis hidupnya pada kedua orang tuanya hingga nanti diserahkan kepada suaminya.

Kisah Sarahwulan-Juwarsah mampu keluar dari pakem adat istiadat yang membelunggu serta mendobrak tembok patriarki masyarakat Jawa. Dalam konteks ini pemberontakan Sarahwulan kepada Ibunya bisa kita maknani positif maupun negatif sesuai dengan sudut pandang yang akan kita ambil.
Nyi Wandansili sebagai orangtua dari Sarahwulan dalam konflik batinnya pun sebenarnya menggugat apa yang telah dilakukan oleh anaknya. Dalam tembang “Nagih Utang” yang dirapalkan oleh Ibu Sarahwulan syarat pelajaran buat si anak tentang kepatuhan dan ketaatannya terhadap orangtuanya. Berikut tembang Nagih Utang :
*Dudu tangis mono wonge kelaran,
Dudu tangis iki wonge kepaten,
Tetangise mono wong nduwe utang,
Ora utang mono wong padha dama,
Ya Lailaha Hailallah

Orang utang karo wong cina landa,
Ora duwe utang mas picis raja brana,
Nduwe utang mana karo wong tuwa,
Ndek nalika wong rupa toya
Ya Laila Hailallah

Nang ditagih utang karo wong tuwa,
Ya nang apa mbok nggo nyaurana,
Mbok rewangi wong adol rambut,
Panyaurmu durung bisa cukup,
Nek dilorohi wong tuwa prengat prengut,
Ya Laila Hailallah
*(Majalah Sastra Budaya "Gong" - Jogjakarta.)

Dari makna gending diatas secara singkat menjelaskan bahwa kebaktian seorang anak kepada orangtuanya adalah sebuah kemutlakan. Sebagaimana seorang yang punya hutang ia tak akan mampu membayar dengan apapun juga. Karena kita ada karena perantara orang tua kita. Orang tua ibarat Tuhan yang mengejawentah di alam mayapada. Bukankah surga berada  di bawah telapak kaki ibu dalam ajaran agama Islam, dan bukankah keridhoan Tuhan bersama ridho orang tua kita, begitu pula kemurkaan-NYA pun bersama murka orang tua kita. Kalau dari sudut pandang ini tentu apa yang dilakukan oleh Sarahwulan adalah bentuk kedurhakaan kepada ibunya Nyi Wandansili.

Namun jika kita kaji dari kacamata cinta, sulit rasanya menyalahkan apa yang dilakukan oleh Sarahwulan. Tak ada kata yang mampu mendefinisakan dan mengungkap rahasia  cinta kecuali cinta itu sendiri.
“AL Hubbu La Yumkinu Tafsiruhu Wa Huwa Yufassiru Kulla Syai’in”
 "Cinta tak bisa dijelaskan,
Cintalah yang akan menjelaskan semuanya"

Orangtua tidaklah selalu benar, dan bentuk pemaksaan dalam hal cinta dan perjodohan bukanlah hal yang diperbolehkan walau hal itu juga tidak bisa dianggap salah. Perlu kearifan dan sikap yang moderat untuk masalah yang sangat sensitif ini. Kemungkinan seorang anak hingga berani melawan orang tuanya bisa jadi dikarenakan sikap dari orangtua itu sendiri yang terlalu egosentris. Dalam ajaran agama pun kita diajarkan untuk bermusyawarah dalam menentukan sesuatu yang berkenaan dengan pihak lain. Tidak terkecuali terhadap anaknya sendiri.

Bagaimanapun kisah Sarahwulan-Juwarsah tidak hanya ada dalam dunia dongeng saja, boleh jadi kisah itu adalah representasi dari kondisi kultural masyarakat saat itu. Dimana jodoh seorang anak berada dalam kekuasaan orangtuanya atau kita sering menyebutnya sebagai zaman Siti Nurbaya. Singkatnya orangtua juga harus menyadari akan kenyataan ini, dan orangtua hendaknya membiasakan membangun jalur komunikasi dua arah antara dirinya dan anaknnya walau jalur komando pun tetap diperlukan, agar tercipta harmoni cinta yang sempurna di jagad kehidupan kita. Sekian Salam Cinta. 15-5-2015 Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar