Jumat, 01 Mei 2015

“Kisah-Kisah Heroik Pada Perang Uhud”

“Kisah-Kisah Heroik Pada Perang Uhud”

Pic : https://elnispero.wordpress.com
Perang Uhud adalah peperangan terdahsyat kedua sesudah perang Badar. Sejatinya perang ini memang digunakan oleh orang-orang kafir Quraisy untuk membalas akan kekalahan mereka di Badar. Oleh karena itu mereka mempersiapkan pasukan yang besar guna menghancurkan kekuatan umat Islam yang mulai tampak bersemi di bumi Madinah al Munawwarah.

Menurut pendapat ulama’ yang masyhur perang Uhud ini terjadi pada hari Sabtu, pertengahan bulan Syawal tahun ke-3 Hijriyah.

Walau pada saat perang Uhud  umat Islam mengalami kekalahan melawan kaum kafir Quraisy, namun peperangan yang dahsyat ini menyisakan kisah-kisah heroik yang  layak dan patut untuk kita kenang dan kita jadikan sebagai inspirasi dan teladan sepanjang zaman. Lalu bagaimanakah kisah-kisah yang menyejarah itu ? Kisah-kisah heroik pada saat perang Uhud melibatkan berbagai pihak dan kalangan, khususnya kaum Anshor dan Muhajirin. Keimanan mereka menjelma menjadi sebuah keajaiban pada saat perang yang hampir mencelakai Rosulullah SAW. Diantara kisah-kisah tersebut adalah :

1.       Abu Dujanah pembawa pedang Rosulullah SAW
Abu Dujanah adalah seorang yang pemberani lagi sombong. Namun kesombongan itu ternyata mendapat restu dari Nabi. Kisahnya ketika itu Nabi menyemangati kaum Muslimin dengan mengatakan “Siapa yang akan mengambil pedang ini dan akan menggunakannya dengan benar ?”
Kemudian Abu Dujanah maju dan mengambil pedang itu seraya bertanya kepada Nabi : “Lalu apa hak pedang ini, ya Rosulallah ?”
Rosulullah menjawab  : “Agar pedang tersebut diayunkan kepada musuh sampai musuh itu roboh”.
Kemudian Abu Dujanah menerima pedang itu dan berjalan diantara dua pasukan dengan congkak, lalu Rasulullah Saw bersabda : “Sebenarnya lagak jalan seperti ini dibenci Allah, kecuali pada suasana begini”
Dan abu Dujanah menepati janjinya untuk menunaikan hak pedang yang telah diberikan Nabi kepadanya. Ia kemudian mengenakan surban merahnya dikepala sebagai tanda ia akan berperang hingga titik darah penghabisan.

2.       Thalhah bin Ubaidillah
Thalhah bin Ubaidillah melindungi Nabi pada saat genting hingga jari-jarinya terpotong kena tebasan pedang musuh. Bahkan Thalhah ini mendapatkan julukan Syahid yang berjalan di muka bumi. Hal ini sebagaimana yang di sabdakan Nabi :
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى شَهِيْدٍ يَمْشِي عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ الله
“Barang siapa yang ingin melihat syahid yang berjalan di muka bumi, maka hendaklah ia melihat Thalhah bin Ubaidillah”

3.        Abu Thalhah al Ansori
Abu Thalhah al Anshori ibarat jagonya Pandawa dalam hal panah memanah. Siapa lagi kalau bukan Ksatria Madukara Raden Arjuna.  Begitu pula dengan Abu Thalhah, beliau adalah seorang pemanah yang ulung. Pada saat yang genting beliau melindungi Rosulullah SAW dengan saweran panahnya yang mengancam kafir Quraisy. Rosulullah sangat kagum dengan keberanian dan kemahiran Abu Thalhah dalam memanah, hingga Rosulullah memujinya dengan ucapan : “Pekikan Abu Thalhah di tengah-tengah pasukan lebih mengkhawatirkan pasukan musyrikin daripada sekompi pasukan”

4.       Sa’ad bin Abi Waqqas
Selain Abu Thalhah yang jago memanah, sahabat Nabi ini juga pandai dalam olah busur. Bahkan Rosulullah sendiri yang menyuplai anak panah kepada Sa’ad untuk melawan kaum musyrikin yang akan mencelakai Nabi.  Rosulullah SAW sendiri memerintahkan Sa’ad untuk membidikkan panah-panah itu, seraya Rasulullah berkata : “Bidikkan ! Ayah dan Ibuku akan menjadi pembelamu”.

5.       Amr bin Jamuh
Amr bin Jamuh adalah sahabat Nabi yang berusia udzur dan pincang kakinya. Secara syar’i beliau tidak wajib untuk ikut berperang di fron depan. Namun beliau tetap ngotot berangkat perang walau anak-anaknya juga melarangnya. Dan Rosulullah mengijinkan Amr bin Jamuh berjihad hingga beliau syahid di jalan Allah sebagaimana yang diinginkannya.

6.       Hanzhalah bin Abu Amir
Hanzhalah mendapat julukan sebagai “Ghoosilul Malaikah” (orang yang dimandikan oleh Malaikat). Julukan ini bermula ketika itu Hanzhalah  baru saja melangsungkan pernikahan. Saat ia masih dalam pelukan sang istri ia mendengar gemuruh perang Uhud. Akhirnya Hanzhalah segera melepas pelukan istrinya dan berangkat ke medan perang. Saat di medan perang ia berhasil memporak-porandakan barisan musuh dan kemudian berhadapan dengan komandan pasukan kafir Quraisy Abu Sufyan. Hampir saja Hanzhalah berhasil membunuhnya, namun tiba-tiba datanglah Shaddad bin Al Aswad dan menikamnya dari belakang. Gugurlah sang Ghozil itu.

Demikian beberapa kisah yang luar biasa yang terjadi saat perang Uhud berkobar. Semoga semangat kita dalam membela agama Allah tetap dijaga nyalanya. Walau nyala itu kadang-kadang tak sempat berkobar sebagaimana berkobarnya semangat sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar