Minggu, 17 Mei 2015

Jalan Pulang

Jalan Pulang

Debu-debu jalanan beterbangan memerihkan mata, siang yang terik, musim kemarau yang sempurna, dan matahari yang berada tepat di atas kepala menggenapkan suasana panas siang di pertengahan bulan Juni. Seorang pemuda berpakaian hitam bercelana komprang ala pakaian Jawa berjalan ke arah terminal Bojonegoro. Ia dengan sigap naik bis jurusan Ngawi yang tak perlu berhenti untuk menaikkan ataupun menurunkan penumpang. Cukup bis diperlambat sekian detik kemudian meluncur cepat membelah aspal-aspal jalan Bojonegoro – Ngawi.

Tak ada bekal yang dibawa pemuda itu, nafas dan kepalan tangan serta ambisinya untuk berpenghidupan layak seakan telah cukup untuk mengantarkannya menjelajahi luasnya wilayah baru yang akan dituju. Walau ia sendiri pun tidak tahu kemana langkah kakinya akan diarahkan. Hanya mata kaki dan tekadnya saja yang menguatkannya untuk meninggalkan kampung halaman demi sebuah harga diri yang akan menuntunnya menuju apa yang ia asakan.

Kota-kota dan jalanan ia lalui, batu dan debu menjadi menunya sehari-hari, keterpaksaan dan kekerasan telah membentuk watak dan karakternya semakin tegar dan kokoh menghadapi kejamnya kehidupan. Dunia preman dan aturan jalanan ikut membesarkannya dalam perantauan, akhirnya pemuda itu menjelma menjadi berandalan yang disegani di seantero kota dan desa di wilayah Ngawi, Solo dan sekitarnya.

Walau tenggelam dalam dunia hitam, Wira sang pemuda dari Bangilan itu di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang ia tempati terkenal sebagi pemuda yang baik hati dan santun. Ibarat pemain sinetron papan atas Wira mampu memainkan peran dengan sempurna. Ia menyembunyikan jatidirinya yang sebenarnya kepada warga masyarakat sekitar, yang mereka tahu Wira adalah pemuda perantauan yang bekerja di pabrik kayu di kota Solo.

Untuk menyempurnakan aktingnya Wira berguru kepada seorang ahli kebatinan Jawa yang ada di Solo, Ki Ajar Sasra Birawa. Selain mempelajari kebatinan Wira juga memperdalam ilmu kanuragan sebagai bekal malang melintang di dunia begal. Walau tubuhnya kecil namun jangan ditanya soal beladiri ia bisa dibilang sebagai pendekar yang pilih tanding.

Gurunya bukannya tidak tahu dengan segala tingkah laku muridnya, namun sebagai seorang yang weruh sakdurunge winarah beliau lebih banyak memilih diam dan tetap selalu mengajarkan kebenaran sejati yang perlu ditempuh oleh manusia dalam hidupnya. Hitam putihnya kehidupan adalah rahasia Tuhan. Manusia hanya sekedar menjalankan titah sambil terus berharap rahmat dan karunia dari Sang Pencipta.

Suatu ketika Ki Ajar mewejang kepada murid-muridnya disebuah ruangan utama padepokan :
“Angger murid-muridku ketahuilah hidup di dunia ini tidak lama, ibarat orang bepergian kita sedang berhenti sejenak untuk minum, kita sedang “Mampir Ngombe” kita tak akan selamanya berada di dunia ini, karena ini bukan rumah kita, bukan kampung kita. Kampung sejati kita adalah akhirat yang kekal abadi. Segala kemewahan dan gemerlapnya di dunia ini tidak ada apa-apanya jika dibanding apa yang akan kita peroleh di kampung kita sendiri. Oleh karena itu kita hidup di dunia harus bisa dan memahami “Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Roji’un”. Jangan sampai kita lupa akan “Sangkan Paraning Dumadi.”

Murid-murid padepokan Ki Ajar Sasra Birawa hanya diam dan menunduk mendengar wejangan dari Sang Guru. Mereka mencerna wejangan itu dengan daya rasa, cipta, dan karsa agar dapat menguraikan wejangan yang berisikan ajaran paripurna. Mengerti “Sangkan Paraning Dumadi”.
Wira yang berada di tengah-tengah para murid Ki Ajar hanya diam dan menahan nafas. Ia merasa dirinyalah sebenarnya yang sedang dinasehati oleh gurunya itu. Namun dirinya telah bertekad saat meninggalkan kampung bahwa ia tak akan pulang sebelum mampu “ngemperi ndunyo, mageri jagad” mendapatkan keberhasilan duniawi dengan cara apapun juga. Bahkan dengan merampok dan membegal sekalipun.

Dan cita-cita yang di gadang-gadang itu hampir sampai, dari hasil merampokknya Wira telah mengumpulkan banyak perhiasan emas permata yang ia simpan di rumah kontrakannya.

Suatu ketika Wira bersama komplotannnya melanglang buana mencari daerah rampokan baru yang lebih menjanjikan hingga sampai  di kota Magelang. Di tempat ini Wira bersama temannya menyaru menjadi santri di pesantren Watu Congol yang diasuh oleh Mbah Dalhar. Lazimnya pesantren zaman dahulu siapapun bisa nyantri dan menetap di pondok tanpa harus ditanya macam-macam. Karena tujuan di pesantren adalah untuk ndandani awak, memperbaiki diri. Sikap husnudzon dan terbuka dari warga pesantren menjadikan Wira dan teman-temannya bisa menetap di pesantren itu dengan leluasa.
Di Magelang ini Wira selain ikut mengaji kepada Mbah Dalhar, ia dan teman-temannya juga masih melancarkan aksinya membegal. Namun daerah operasinya jauh dari pesantren, agar tidak mudah dikenali. Tidak hanya membegal ketika di luar Wira pun main perempuan, uang yang banyak, emas dan permata menjadi daya tarik yang luar biasa bagi kaum tuna susila, hingga Wira tak mampu melepaskan kebiasaannya itu. Walau ketika kembali ke pesantren Wira tampil seperti lagaknya seorang santri lainnya.

Mbah Dalhar adalah seorang Mursyid Thariqah Sadziliyah, dengan segala karomahnya beliau bukannya tidak tahu dengan kondisi santrinya. Namun begitulah sekali lagi kearifan seorang yang ‘aarif billah ia tidak suka menunjuk hidung dan menghakimi terhadap santrinya. Bagaimanapun menjadi tugas seorang mursyid untuk membimbing para salik menuju tangga-tangga langit.

Pada sutu kesempatam Mbah Dalhar memanggil Wira untuk sowan menghadap ke Ndalem. Wira sendiri merasa kaget, baru kali ini selama ia nyantri dipanggil langsung oleh Sang Kyai. Ia khawatir jangan-jangan kedoknya akan dibongkar oleh Kyai. Dengan ragu-ragu Wira pun mendatangi ndalemnya Kyai.

“Assalamu’alaikum Kyai,” ucap Wira ketika sampai di pintu.

“Waalaikum salam, sini masuk Kang” jawab Mbah Dalhar penuh keakraban.

Wira pun masuk, dan duduk bersila di hadapan Mbah Dalhar dengan menundukkan kepala. Ia siap jika segala dosa dan kesalahannya dibongkar dan mendapat marah dari Kyai yang wira’i itu. Wira hanya diam menunggu dawuh dari Sang Kyai.

“Kang sampeyan kan sudah lama nyantri di sini, sekarang sampeyan saya ijinkan pulang ke kampung dan Insyallah penyakit sampeyan akan sembuh dengan syarat ketika sampeyan pulang nanti harus seperti keadaan sampeyan berangkat dari kampung sampeyan. Seampai di kampung ambillah seorang istri dengan niat ibadah dan untuk melanjutkan keturunan” Dawuh Mbah Dalhar.

Walau diucapkan dengan suara yang lembut dan kebapakan, suara Mbah Dalhar seperti dentuman petir yang menggelegar meruntuhkan isi langit.  Wira tak menyangka ternyata selama ini Mbah Dalhar tahu apa yang ia lakukan. Sampai pada penyakitnya yang selama ini ia rahasiakan walau kepada teman karibnya sekalipun ia tak pernah cerita.

Memang Wira mengidap penyakit berkenaan dengan hobinya main perempuan, dan yang lebih menyedihkan lagi  ia telah divonis dokter tak akan mempunyai keturunan.

Setelah peristiwa itu Wira menjadi bingung, disuruh kembali ke kampung tidak masalah baginya, namun  meninggalkan semua yang ia miliki untuk tidak dibawa pulang itu yang membuatnya bimbang. Dari hasil merampoknya Wira telah berhasil mengumpulkan berkotak-kotak emas berlian, dan dengan entengnya Sang Kyai menyuruhnya untuk meninggalkan itu semua.

Di tengah kebimbangannya Wira teringat guru kebatinannya Ki Ajar Sasra Birawa, akhirnya Wira berangkat ke Solo untuk mengadukan kegalauan hatinya. Dengan berdebar-debar Wira menghadap ke padepokan Ki Ajar Sasra Birawa, saat itu Ki Ajar sedang duduk santai di depan sanggar pamujan. Seakan ia telah menunggu kedatangan Wira.

“Kulo Nuwun Ki, dalem badhe sowan” ucap Wira kepada gurunya

“Rahayu, rahayu..lama kau tak kesini angger Wira, bagaimana kabarmu ?” jawab Ki ajar sambil menanyakan kabar Wira.

“Baik Ki, semua atas berkah do’a pangestu dari panjenengan” jawab Wira
“Ada perlu apa kau kesini menemuiku Wira, bukankah hidupmu telah kecukupan, harta benda telah kau dapatkan sebagaimana yang kau inginkan, kalau kau ingin pulang, pulanglah Wira...kau akan menjadi orang terhormat di kampungmu dengan harta yang kau bawa pulang, tapi ingatlah pesanku dulu di sini bukanlah tempat tinggalmu, di sini bukan kampungmu pada saatnya kau akan pulang Wira, namun bukan harta benda yang akan kau bawa, karma kehidupanlah yang akan menjadi bekalmu” terang Ki Ajar panjang lebar

Walau Wira belum menyampaikan permasalahannya, ternyata Ki Ajar sangat wasis dan sidik paningal, hingga Wira merasa malu sendiri, kemudian ia pun matur kepada Sang Guru :

“Lalu apa yang harus aku lakukan Ki ? mohon bimbingannya Ki saya bingung apa yang sebaiknya aku lakukan”

“Ikuti apa yang diwejangkan Gurumu Kyai Dalhar”  Jawab Ki Ajar Sasra Birawa pendek.

“Baiklah Ki, saya akan berusaha”

Selanjutnya Wira berpamitan kepada Gurunya, walau masih ragu Wira berusaha sekuat daya untuk mengikuti pesan dari kedua guru spiritualnya.

Mula-mula Wira membeli pakaian seperti awal ia memulai perjalanannya meninggalkan kampung halamannya, pakaian hitam, celana komprang. Ia bawa kotak-kotak perhiasaannya yang penuh dengan emas permata. Keraguan masih tampak di wajahnya, di jalan setapak di pinggir hutan antara Solo-Ngawi ia gali tanah, kemudian ia pendam kotak penuh emas itu. Selang beberapa langkah dari tempat ia membuang harta bendanya, Wira kembali lagi. Ia gali lagi tanah itu dan ia pangku kotak yang penuh dengan perhiasan yang tidak akan habis dimakan selama tujuh turunan dengan gemetaran. Hatinya dipenuhi kebimbangan, akankah harta sebanyak itu yang didapat dengan pertaruhan nyawa harus ditinggal begitu saja. Bukankah lebih baik ia bawa pulang sebagian ia sedekahkan untuk orang miskin sebagai penangkal bala’, sebagian ia pakai sendiri dan itu pun masih lebih dari cukup. Tentu Tuhan akan memaklumi dirinya yang telah merayu-rayu Tuhan dengan tampil sebagai pahlawan untuk orang miskin. Dan Tuhan akan mengampuninya. Bukankah Tuhan Maha Rohman Rohim ?.

Wira pun kembali memanggul kotak perhisaannya untuk dibawa pulang, namun lagi-lagi Wira bimbang, apa mungkin Tuhan bisa dirayu-rayu dan dikelabui seperti itu ? Wira kembali  meletakkan kotak perhiasannya ke tanah, ia gali tanah dan ia pendam kembali. Kejadian itu berulang kali hingga akhirnya Wira mantap membuang seluruh harta yang ia dapat dengan cara kotor itu untuk dibenamkan ke dalam perut bumi. Sebelum dirinya sendiri yang akan dibenamkan Tuhan ke dalam tanah.

Selesai memendamnya Wira tak ingin menengok ke belakang lagi, hatinya telah mantap dengan wejangan dari guru spiritualnya itu, dan Wira pun pulang kembali ke kampungnya dengan pakaian dan kondisi seperti pertama kalinya ia meninggalkan kampung halamannya.

Wira tlah tahu jalan kembali, menemukan asal menemukan akar mengerti dengan hati akan arti “Inna Lillahi Wa Inna Ilahi Roji’un.” Sekian. Joyojuwoto/16-05-2015.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar