Senin, 04 Mei 2015

Antara Pool Party Divine Production dan Full Party Literation

Antara Pool Party Divine Production dan Full Party Literation
Sebuah catatan Untuk Komunitas Sedulur Caping Gunung Tuban

www.4bangilan.blogspot.com- Seribu jalan menuju Roma, begitulah bunyi ungkapan bijak yang sering kita dengar dan kita baca dibuku-buku peribahasa. Ungkapan ini sejalan dengan apa yang dilakukan oleh komunitas Sedulur Caping Gunung Tuban dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang selalu jatuh di tanggal 2 Mei di setiap tahunnya.

Di hari yang dipenuhi mendung dan gerimis sejak terbitnya matahari itu, komunitas sosial yang digawangi oleh Arif Mustain mengadakan pesta Literasi Cipoers Tuban. Pesta ini tak kalah hebohnya dengan pesta bikini yang akan digelar oleh oknum yang mencatut nama-nama sekolah SMA/SMK di Jakarta. Namun Al Hamdulillah pesta itu urung dilaksanakan.

Lain lubuk lain ikannya, lain Jakarta lain Tuban. Jika di Jakarta para pelajarnya diiming-imingi dengan Pool Party Divine Production di Tuban para pelajarnya diiming-imingi dengan Full Party Literation. Dari dua opinion ini kita perlu banyak berterima kasih kepada Sedulur Caping Gunung Tuban dan Harian Surya Online yang telah memberikan gizi terbaik untuk generasi muda Tuban.

Melihat generasi muda  sama seperti melihat masa depan bangsa, karena ditangan para pemuda cita-cita bangsa ini kita titipkan. Jika pemuda rusak mentalnya rusaklah komponen-komponen bangsa. Ingatlah hampir diseluruh perubahan selalu melibatkan peran pemuda. Pemuda selalu tampil sebagai kekuatan penentu bagi tegakknya sebuah era baru.

Nabi Muhammad SAW pun didukung oleh para pemuda-pemuda hebat semisal Ali bin Abi Thalib sudah masuk Islam saat usia beliau berusia 10 tahun, Saad bin Abi Waqqas ksatria berkuda umat Islam yang ikut berperang di usia 17 tahun, Zaid bin Tsabit telah ikut jihad fi sabilillah saat berusia 13 tahun, Usamah bin Zaid seorang panglima perang yang menggempur adikuasa Romawi ketika itu ia berusia 20 tahun. Dan masih banyak lagi pemuda-pemuda luar biasa yang menjadi penopang kebangkitan dan kejayaan peradapan Islam kala itu. Para pemuda pula yang mempelopori gelombang kebangkitan nasional bangsa Indonesia ini, semisal Haji Samanhudi mendirikan Serikat Dagang Islam saat usia beliau 27 tahun,  Budi Utomo didirikan Dr. Sutomo waktu itu berumur 20 tahun, Mohammad Hatta mendirikan Perhimpunan Indonesia (PI) berusia 21 tahun, Ki Hajar Dewantoro mendirikan Indische Partij berusia 20 tahun, Cokroaminoto aktif di Syarekat Islam usianya 22 tahun, Soekarno mulai naik turun mimbar untuk membakar semangat kemerdekaan bangsa ini saat usia beliau 22 tahun.


Oleh karena itu kita yang tua-tua ini perlu memberikan tuntunan dan tontonan yang baik bagi mereka. Jangan sampai kertas yang putih itu kita corat-coreti dengan hal-hal yang negatif, mari kita isi, kita warnai pemuda dan pemudi bangsa ini dengan warna-warni positif, warna-warni yang penuh keberkahan dalam ridho Tuhan.

Jika kebaikan belum dapat kita lakukan, jika teladan-teladan belum dapat kita persembahkan setidaknya jangan rusak tunas-tunas muda harapan masa depan bangsa ini dengan tontonan murahan semisal pesta-pesta bikini, pesta rok mini dan pesta-pesta sejenisnya. Kita punya tanggung jawab moral buat anak negeri.

Ingatlah, Ingatlah selalu…!!!!!
شبّان اليوم رجال الغد
“Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.”

Baik buruknya takdir bangsa tergantung pada pemudanya hari ini. Oleh karena itu mari save pemuda agar kelak bangsa ini mendapatkan keberkahan dari Tuhan dan menjadi bangsa yang Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghofur. Sekian. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar