Selasa, 28 April 2015

“Sungkeman”

“Sungkeman”

Sungkeman adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan pada saat-saat tertentu, semisal saat ritual upacara pernikahan, saat perayaan halal bi halal di hari raya Idul fitri, maupun pada saat-saat seorang anak meminta berkah do’a kepada orang tuanya.

Sungkeman berasal dari kata sungkem, yaitu duduk posisi berjongkok sambil mencium tangan orang yang lebih tua, sambil meminta do’a kepada orang yang kita sungkemi. Sungkem bukan berarti menyembah, namun hanya sebatas bentuk penghormatan kepada orang yang dituakan. Sungkeman  adalah wujud ketawadu’an seorang yang lebih muda kepada yang lebih tua.

Biasanya orang yang lebih muda akan sowan (menghadap) kepada yang lebih tua, kemudian berjongkok dan bersalaman sambil mencium tangan orang yang lebih tua sambil mengucapkan kalimat pokok sungkeman. Seorang santri yang sowan kepada gurunya pada saat idul fitri misalnya akan berucap begini :
"Ustad/ustadzah lahir batin, Sugeng riyadin ngaturaken sedaya lepat nyuwun pangapunten, nyuwun donga pangestunipun supados kula saged dados siswo-siwi ingkang sholeh, migunani dhateng agami, nusa, bangsa, lan nagari, lancar anggenipun pados ilmu, gampil anggenipun pados rejeki ingkang halal lan thayyib, saha sukses nglampahi gesang ing donya lan akhirat.

Dan si guru pun menjawab ucapan murid dengan permintaan maaf dan do’a pula :
"Ngger cah bagus, ngger cah ayu tak sepuro opo kang wus kalampahan,semana uga  wong tuwa akeh lupute, muga-muga isa kalebur ing dina riyaya iki, tak dongakke muga-muga apa sing tak citak-citakke dikabulke marang Gusti Allah…
Amien... amien ya Rabbal 'Alamin.

Dalam tradisi Jawa, sungkeman menjadi salah satu tradisi yang meneguhkan akan rasa hormat dari generasi yang lebih muda kepada yang lebih tua, sungkeman juga menjadi penanda kasih sayang yang diberikan orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Ajaran saling menghormati dan saling menyanyangi menjadi dasar dari seluruh aspek kehidupan beragama. Islam sendiri yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW juga mengemban risalah rahmatan lil ‘alamin, dalam konsep kehidupan masyarakat Jawa dikenal dengan istilah “Memayu Hayuning Bawana”

Tradisi semisal ini perlu kita fahami, dan kita fahamkan kepada generasi mendatang agar tidak terjadi salah persepsi, yang akhirnya mengundang polemik yang tidak berkesudahan. Semisal dikatakan sebagai amalan bid’ah, syirik, khurafat dan lain sebagainya. Karena memang sungkeman jauh dari maksud itu semua. Bagaimanapun juga kalau tidak berkenaan dengan ibadah mahdhoh saya kira ritual ini sah dan halal untuk dilakukan, dengan catatan yang melakukannya mengerti dan tidak salah niat. Sekian. Joyojuwoto.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar