Jumat, 10 April 2015

“Sepenggal Kisah Bu Nyai Hj. Hanifah”

Sepenggal Kisah Bu Nyai Hj. Hanifah

Siapa diseluruh pelosok Kabupaten Tuban yang tidak mengenal Bu Nyai Hj. Hanifah Muzadi. Dari namanya saja tentu kita bisa menebak bahwa beliau adalah orang yang luar biasa. Nama belakang yaitu Muzadi juga melekat pada mantan ketua PBNU yaitu KH. Hasyim Muzadi pengasuh pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang dan Depok. Tidak aneh memang karena Hj. Hanifah adalah kakak dari sosok Kyai lulusan Gontor itu.

Ketenaran Bu Hanif panggilan akrab beliau bukan karena embel-embel Muzadi, namun memang beliau adalah seorang yang luar biasa. Selain mengasuh Majelis Ta’lim Al Wustho beliau juga aktif di organisasi keagamaan terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama. Bisa dibilang Bu Hanif adalah ibunya Fatayat dan Muslimat di Bumi Wali Tuban.

Figur Bu Hanif sampai detik ini belum tergantikan, baik beliau sebagai pengurus Cabang Muslimat Tuban ataupun sebagai sosok Bu Nyai yang kharismatik di Kecamatan Bangilan. Setiap hari Selasa dan Jumat Bu Hanif mbalah kitab, dan ini adalah pengajian satu-satunya di kecamatan Bangilan yang melibatkan masa banyak. Santri-santri beliau berdatangan dari berbagai penjuru dan berbagai kalangan sosial di Kecamatan Bangilan. Khususnya ibu-ibu Fatayat, Muslimat, dan ibu-ibu alumni KBIH Al Wustho.

Saya sendiri merasa menjadi santri beliau, walau sebenarnya secara muwajahah saya belum pernah ngaji sama beliaunya. Karena memang santri Al Wustho khusus perempuan. Merasa menjadi santri Bu Hanif ketika saya dan beberapa teman disuruh menempati ndalemnya Bu Muyas yang ketepatan kosong. Beliau adalah saudara dari Bu Hanif. Rumah itu dulu berada di sebelah selatan ndalemnya Bu Hanifah. Namun sekarang rumah itu telah dibongkar dan menyatu dengan rumah induk keluarga Abu Bakar Wustho yang sekarang.

Saat itu saya dan beberapa teman sedang nyantri di PP. ASSALAM Bangilan Tuban yang diasuh oleh Abah Kyai Abdul Moehaimin Tamam. Perlu diketahui Abah Moehaimin juga masih keluarga dari Bu Hanif. Secara garis keturunan masih misanan. Karena gothakan santri penuh, kami yang telah dipercaya sebagai ustadz muda terpaksa pindah di ndalemnya Bu Muyas tadi. Dari situlah kami berinteraksi dan bisa melihat secara langsung keteladanan  beliau.

Sebagai sosok Bu Nyai beliau selalu rendah hati, dan tentu yang tidak bisa kami lupakan adalah hampir setiap pagi kami menerima kiriman nasi goreng. Setiap beliau masak atau baru pulang dari bepergian kami pun mendapatkan jatah makanan dan oleh-oleh. Beliau memang mempunyai prinsip  jika ada tamu siapapun orangnya akan di jamu makan. Jika musim buah tiba kami pun dibebaskan mengambil mangga yang kebetulan tumbuh di antara ndalemnya Bu Muyas dan Bu Hanif. Tidak hanya itu kami pun sering memetik buah kelapa muda yang berada di depan rumah dan samping rumah. Pokoknya semuanya serba boleh, asal tidak berlebihan dan mubadzir saja.

Sikap beliau yang pemurah dan baik kepada tamu dan santri-santri serta segala lapisan masyarakat memberikan sebuah nilai keteladanan bahwa menjadi seorang yang rendah hati itu tidak menyebabkan seseorang menjadi rendah justru sebaliknya,  seseorang akan semakin tinggi derajadnya dan mendapatkan penghormatan dan kecintaan diantara sesama manusia. Beliau tidak membeda-bedakan antara si A dan si B. Tidak sopo sira sopo ingsun, semua sama, sama-sama makhluk Tuhan.

Lebih mengharukan lagi dan masih terkenang di hati saya adalah pengakuan beliau bahwa saya dan beberapa santri lainnya adalah anaknya. Santri diaku anak bu Nyai tentu akan senang dan bangga begitu pula dengan saya. Sebagai seorang yang bukan apa-apa dan bukan pula siapa-siapa terasa mendapatkan sebuah penghargaan dan kehormatan. Ibarat pepatah serasa mendapat durian runtuh (wkwkw...apa gak salah nih peribahasa...!!!). Namun itulah sebuah sikap kerendah hatian beliau yang layak untuk diteladani.

Walau mungkin kata-kata itu hanya sekedar basa-basi, atau istilahnya sekarang sekedar pencitraan namun itu sudah sangat menggembirakan dan membanggakan saya khususnya. Namun saya yakin beliau tulus mengucapkan itu dan tidak ada maksud apapun kecuali hanya untuk merekatkan silaturrahmi dan memberikan contoh sikap seorang tua kepada yang lebih muda. Yang tua menyayangi yang muda, dan yang muda hormat kepada yang lebih tua.

Sebagai anak tentu kami ikut mendo’akan kebaikan, kesejahteraan, dan kemuliaan beliau yang telah pergi meninggalkan kami. Semoga segala kesalahannya diampuni oleh Allah Swt dan beliau di tempatkan di sisi-Nya. Walau beliau telah tiada namun keteladannya, keikhlasannya abadi bersama jiwa kami anak-anaknya. Amien. Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar