Rabu, 11 Maret 2015

Resensi Novel “Kerudung Santet Gandrung”

Resensi Novel “Kerudung Santet Gandrung”
Identitas Buku
Judul Buku          : Kerudung Santet Gandrung
Penulis                 : Hasnan Singodimayan
Penerbit              : Desantara
Cetakan               : 1, Mei 2003
Tebal                     : 214
Kategori               : Novel

Ulasan buku
Membaca sekilas novel yang berlatar belakang kebudayaan suku Osing di daerah paling timur pulau Jawa ini terasa ada semangat untuk mendeskritkan nilai-nilai ajaran Islam yang diwakili oleh simbol kerudung. Setidaknya dari judul novel itu kita bisa merabanya “Kerudung santet Gandrung”. Penulis yang notabenenya adalah juga seorang muslim disengaja atau tidak telah mengambil sebuah fragmen dari banyak fragmen yang ada di tengah masyarakat tentang seorang yang disimbolkan memakai kerudung, tetapi melakukan perbuatan yang kontra produktif dengan simbol yang dipakainya yaitu kerudung.

Memang seorang yang memakai kerudung bukanlah Malaikat yang nir salah, dia tetaplah sosok manusia lumrah, yang tentu juga melakukan kesalahan sebagaimana manusia pada umumnya. Tokoh Nazirah mantan Iqbal yang digambarkan seorang lulusan pesantren dan juga seorang muballigah yang kolot akhirnya harus pisah dengan suaminya Iqbal, karena beda prinsip dalam memandang persoalan kesenian.

Iqbal yang seorang penulis gending-gending Gandrung akhirnya jatuh hati kepada Merlin, seorang penari Gandrung dari Desa Candirejo kemudian mereka menikah. Kehidupan rumah tangga mereka dibilang sukses. Nazirah yang sudah menikah lagi dengan seorang ustadz honorer di Madrasah swasta yang bernama Mansub menjalani kehidupannya dengan serba kekurangan. Karena sakit suaminya meninggal dunia.

Dari sini konflik mulai dibangun, Nazirah yang ketemu dengan Iqbal ingin rujuk kembali, namun istilah rujuk disalahkan oleh Iqbal, karena memang antara Iqbal dan Nazirah telah talak tiga jadi istilah rujuk tidaklah tepat. Disini penulis ingin membangun image bahwa Iqbal yang dianggap awam agama oleh keluarganya ternyata lebih memahami persoalan agama dibanding Nazirah yang lulusan pesantren.
Selain itu Nazirah juga digambarkan silau melihat kehidupan Iqbal yang sukses, karena selain sebagai pegiat seni Iqbal adalah petambak yang sukses. Nazirah merasa iri dengan kehidupan mantan suaminya, apalagi istri Iqbal yang baru ternyata seorang Gandrung. Masyarakat umum memandang bahwa Gandrung biasanya mempraktekkan ilmu santet atau ilmu guna-guna untuk memikat hati seorang lelaki, semisal “sabuk mangir” dan “kopi batokan” atau “jaran guyang”.

Terdorong oleh obsesinya untuk bisa kembali dengan Iqbal Nazirah akhirnya mendatangi seorang dukun santet di wilayah tersebut. Di sini penulis ingin menegaskan kembali tentang Nazirah yang berkerudung tapi ternyata melakukan perbuatan santet terhadap istri Iqbal yang seorang Gandrung. Dan tentu dari alur inilah Hasnan Singodimayan memberi judul novelnya “Kerudung Santet Gandrung”. Simbol kerudung kembali ditampilkan negative oleh Hasnan. Namun sebenarnya fenomena orang-orang yang memakai kerudung dan melakukan hal yang naïf dan negative memang sangat banyak. Apalagi sekarang kerudung telah dibajak dari fungsi pokoknya. Kerudung ibarat asesoris yang dipergunakan untuk menunjang mode dan gaya hidup bukan lagi kerudung sebagai symbol ideologi dan penerapan nilai-nilai Qur’ani.

Selain banyak membicarakan tentang konflik yang berbau agama yang diwakili Iqbal dengan rival utama keluarganya sendiri, novel ini juga memaparkan masalah politik dan budaya yang tak pernah usai. Tokoh Drs. Budoyo seorang Kepala Cabang kebudayaan yang awalnya gandrung dengan Merlin harus memupus cintanya yang mulai bermekaran. Sebagai orang pemerintahan haram baginya menjalin asmara dengan seorang gadis yang ayahnya adalah seorang PKI. Dia oleh atasannya akhirnya dipindah tugaskan ke Surabaya. Pada alur cerita ini menegaskan bahwa kemerdekaan masyarakat belum mendapat tempat di negeri yang katanya menjunjung kebebasan hak asasi manusia. Bagaimanapun seorang Merlin yang tidak tahu menahu masalah politik harus ikut menanggung dosa turunan dari ayahnya yang belum pernah dilihatnya. Kita boleh melarang PKI namun kita juga harus adil dalam bersikap terhadap hal-hal seperti kasus Merlin ini. Hak-hak hidup, hak-hak social kemasyarakatan mereka jangan sampai kita abaikan hanya karena mereka dekat atau punya hubungan dengan partai komunis yang terlarang itu. Menarik seperti apa yang diucapkan Cak Nun bahwa apakah ketika kita berada di dalam kandang kambing kita juga menjadi seekor kambing ? tentu tidak kan.

Mungkin saja novel ini adalah fiksi, namun karya fiksi sekalipun tentu tidak terlepas dari akar kenyataan yang ada di tengah masyarakat. Novel yang memiliki dua sub judul ini sebenarnya sedang menggambarkan keadaan yang sebenarnya yang terjadi di masyarakat kita. Sosok Iqbal, Budoyo, Merlin, Nazirah, dan beberapa peran lain mungkin adalah kita sendiri. Dengan jujur dan berani Hasnan Singodimayan menuliskannya dalam sebuah novel yang singkat. Ia tidak takut dituduh sekuler dan liberal karena memang kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat kadang seperti itu. Pada awalnya saya sendiri juga agak underestimate dengan penulis, namun semua itu sirna setelah ending dari cerita novel ini ditutup dengan rencana keberangkatan Iqbal dan istrinya untuk menunaikan ibadah haji. Karena bagaimanapun juga ibadah haji dianggap merepresentasikan seseorang itu taat dan sadar  terhadap ajaran agama dan  memiliki nilai lebih dibanding orang yang belum menjalankannya. Lebih menghentak lagi ternyata saat acara walimatus safar orang yang ditunjuk untuk membaca ayat suci Al qur’an atau qira’at adalah Merlin mantan penari Gandrung, walau sebenarnya Iqbal telah menskenariokan itu semua.

Jadi seharusnya kita layak berterima kasih kepada penulis yang telah menyediakan sebuah kaca bengkala buat melihat sisi-sisi gelap yang mungkin belum kita sadari. Sisi-sisi yang kadang kita bungkus dengan kedok-kedok syar’I namun ternyata ambisi pribadi dan nafsu ingin menguasai yang kadang muncul dalam diri.

Terlepas dari semua itu semua novel ini bagus dan layak untuk kita baca dan kita renungi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sekian. Jwt11/03/15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar