Rabu, 11 Februari 2015

Sastra dan Perlawanan sosial

Sastra dan Perlawanan sosial

“Ajarilah anak-anakmu sastra,
karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi jujur dan pemberani”
(Umar bin Khattab)

Seorang Umar bin Khattab yang terkenal dengan sifatnya yang keras dan tegas ternyata memiliki keintiman dengan dunia sastra. Tidak aneh memang dalam tradisi Arab sastra adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Hingga tiap tahun di bulan-bulan Muharram diadakan perlombaan pembacaan syair-syair di pusat keramaian yang berada di pasar Ukaz dan Zulmajaz. Para penyair yang memenangi event terbesar di kota Makkah itu mendapatkan hadiah yang berlimpah dan karyanya akan diabadikan dan beri kehormatan untuk digantungkan di dinding Ka’bah, yang dikenal dengan nama “Al mu’allaqoh”.

Sastra menjadi komponen penting dalam kehidupan masyarakat arab, karena sastra mengajarkan keberanian dan sifat kepahlawanan dalam diri para pemuda Arab saat itu. Seorang Hamzah yang terkenal dengan julukan singa padang pasir ternyata tidak hanya pintar dalam memainkan pedang, namun paman Nabi ini juga lihai dalam mengolah lidah menjadi pedang yang tajam untuk melawan syair-syair kaum Quraisy yang memusuhi Nabi. Begitu juga Ali bin Abi Thalib selain pakar ilmu pengetahuan beliau juga fasih dalam bersyair dan pandai dalam menyusun kata.

Sastra seyogyanya dimiliki oleh semua orang, baik ia sebagai seorang pemimpin, ilmuan, panglima perang, rakyat jelata dan lain sebaginya. Karena sastra ibarat pupuk yang akan menyuburkan dan memaksimalkan peran dan potensi yang dimiliki oleh orang tersebut. Sastra juga memberikan rasa estetis bagi jiwa seseorang dan ini memberikan efek yang baik bagi kehidupannya. Sastra memang tidak melulu berbicara tentang keindahan dan kata-kata yang memukau, namun lebih dari itu sastra harus menjadi katarsis (pemurnian jiwa) bagi masyarakat.

Napoleon Bonaparte tidak hanya seorang panglima perang yang tangguh, namun sang kaisar dari Perancis itu juga piawai menulis surat cinta. Setidaknya ada sekitar 75.000 lembar surat cinta ia kirimkan kepada istrinya yang cantik Josephine de Beauharnais. Begitu juga pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia dahulu sangat dekat dengan sastra. H. Agus Salim sering berkirim surat cinta untuk istrinya, M. Natsir, Bung Tomo, Bung Karno adalah pemimpin-pemimpin yang bertipe romantis. Di sela-sela kesibukannya mereka menyempatkan menulis surat cinta buat istri dan keluarga mereka.
Lihat dan perhatikan betapa indah dan romantisnya Bung Tomo menulis surat untuk istrinya,
“Tak terlalu tinggi citta-citaku, impian kita punya rumah di atas gunung, jauh dari keramaian. Rumah yang sederhana, seperti pondok. Hawanya bersih sejuk dan pemandangannya indah. Kau tanam bunga-bunga dan kita menanam sayur sendiri. Aku kumpulkan muda-mudi kudidik mereka menjadi patriot bangsa” (Surat Cinta Bung Tomo)
Bung Karno pun terkenal sebagai pria yang romantis dan flamboyan, bacalah surat cinta Bung Karno untuk Ibu Fatmawati :
“O, Fatma, yang menyinarkan tjahja. Terangilah selaloe djalan djiwakoe. Soepaja sampai dibahagia raja. Dalam swarganya tjinta-kasihmoe...” (Soekarno, Penggalan kalimat di dalam surat cinta kepada Fatmawati bertanggal 11 september 1941)

Sastra memang identik dengan cinta. Dan tidak ada yang salah dengan kosakata itu. Asalkan berada pada susunan kata yang tepat. Cinta Allah, cinta Rosul, Cinta agama, bangsa, cinta istri, cinta anak, dan lebih-lebih mencintai kemanusiaan ini. Bukankah Rosulullah Saw juga mengajarkan cinta. Beliau bersabda : “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.

Namun sastra juga tidak melulu berbicara masalah cinta. Sastra itu komprehensif dan luas. Sastra jangan sampai hanya dimonopoli oleh kelompok tertentu. sastra jangan sampai keluar dan tercerabut dari lingkungan masyarakat. Baik itu lingkungan akademis, lingkungan psikologis, lingkungan sosiologis maupun lingkungan biologis. Justru sastra harus mengakar kuat ke dalam bumi kehidupan manusia agar sastra tidak kehilangan makna.

Kita mengenal banyak sastrawan yang mendedikasikan tulisannya untuk kemanusiaan. Seorang sastrawan tidak latah berdiri di atas menara gading yang tak terjangkau, atau bertapa di dalam goa kehidupan yang sunyi. Seorang sastrawan adalah yang peka terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat. Dengan sastra ia jadikan sebuah peluru yang siap membidik kesewenang-wenangan penguasa. Dengan sastra ia jadikan sebuah perlawanan terhadap rezim yang dholim. Tengoklah Pram, Rendra, Iwan Fals, Wiji Thukul mereka keluar masuk penjara, diasingkan, dicekal, bahkan dimatikan hidupnya karena tulisannya, karena syairnya, karena puisinya karena lagu-lagunya yang tajam menelanjangi kebrobokan birokrasi di negeri ini.

Jadi masihkah kita menutup mata dan menganggap remeh sebuah kata “Sastra” ?. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar