Sabtu, 28 Februari 2015

Cinta Sejati

Cinta Sejati


Carilah cinta yang sejati, yang ada hanyalah pada-Nya
Carilah cinta yang hakiki, yang ada pada-Nya yang Esa
Carilah cinta yang abadi, yang ada hanyalah pada-Nya
Carilah kasih yang kekal selamanya, yang ada hanyalah pada Tuhanmu

(Raihan)

Cinta adalah anugrah dan keindahan yang bersumber dari Tuhan yang Maha indah. Cinta adalah fitrah seluruh makhluk di alam raya ini. Cinta ada  bersama titah Tuhan untuk menjadi ibu bagi semesta, ia ada bersama hembusan nafas, aliran darah, dan detak jantung kehidupan.

Cinta energi tanpa batas, lembut  namun daya kekuatannya mampu menaklukkan badai yang menghadang, tak ada gunung yang tinggi dihadapan cinta, tak ada lembah yang dalam atas nama cinta, tak ada kebahagiaan tanpa cinta demikian juga tak ada derita yang lebih menyakitkan dibanding duka lara karena cinta.

Cinta adalah fitrah dan kita tidak bisa memungkirinya, karena cinta adalah utusan Tuhan yang dikirim kepada seluruh makhluknya di dunia. Fitrah itu tidak akan mengalami perubahan, hanya perubahan itu sendiri yang tak berubah. Allah Swt berfirman dalam Al Qur’an Surat Ar Rum ayat  30 :

فطرة الله الّتى فطر النّاس عليها لا تبديلا لخلق الله

“(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tak ada perubahan pada fitrah Allah”

Jika memang cinta adalah sebuah ketetapan Tuhan, maka hendaknya kita mampu mempergunakan potensi energi cinta yang tanpa batas itu untuk kemaslahatan dan bukan menjadikannyasebagai sumber malapetaka dan kesengsaraan.

Sangat banyak kisah-kisah yang diceritakan sejarah dan epos tentang perang besar antar negara karena persoalan cinta. Negeri Ayodya dan Alengka berperang karena persoalan cinta, perang Bubat antara Majapahit dan Pajajaran juga berlatar belakang asmara, dalam foklore lokal Kabupaten Tuban terdapat kisah kepahlawanan seorang prajurit wanita Sri Huning juga memperjuangkan cinta. Begitulah setiap lika-liku sejarah bumbu cinta selalu ada dan menyemarakkan panggung sejarah kehidupan manusia.

Jika cinta telah bersemi di kedalaman hati seorang manusia, khususnya kaum muda dan mudi hendaknya ia hati-hati dalam menjaga diri, karena di dalam cinta ada muatan-muatan bara nafsu yang kadang membakar indahnya cinta itu sendiri. Biarkan bunga-bunga cinta mekar dan bersemai indah di taman yang diridhoi Tuhan. Rosulullah Saw mengajarkan kepada kita jika diantara kamu wahai pemudah telah siap menikah maka hendaknya ia segera menikah, dan apabila belum mampu untuk itu hendaknya ia menahan diri dengan berpuasa.

Menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang agama dalam cinta adalah perbuatan yang mulia. Jika ada seorang yang dimabuk cinta dan ternyata cintanya tidak kesampaian hingga ke jenjang pernikahan, kemudian ia menjaga diri dari perbuatan dosa kemudian menyimpan  cintanya hingga ia meninggal dunia karenanya, maka ia seperti seorang yang meninggal dunia dalam keadaan syahid fi sabilillah. Subhanallah...

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim, Al Khatib, Ibnu Asakir, dan Ad dailami Rosulullah Saw bersabda :

من عشق فعفّ فكتم فمات مات شهيدا

Artinya : Barang siapa yang sangat mencintai (seseorang) kemudian ia tetap menjaga diri dari perbuatan dosa dan menyimpan cintanya sampai mati karenanya, maka ia telah mati syahid”


Oleh karena itu jagalah cinta, rawatlah cinta, hingga pada saatnya nanti, cinta itu bersemi di taman suci Miitsaqan ghalidzan, karena di situ cinta sejati bersemi dalam pendar-pendar cahaya Ilahi. Sekian. Jwt. 28.02.15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar