Minggu, 22 Februari 2015

Antara Goyang Dumang dan Tombo Atinya Sunan Bonang

Gambar : evakurniawan.wordpres.com
Siapa yang tidak hafal dan bergoyang-goyang ketika  lagu goyang dumang  dinyanyikan. Dari anak kecil hingga orang tua akan manggut-manggut mendengar lagu ini. kelompok-kelompok tertentu yang mempunyai kepentingan untuk menghancurkan karakter bangsa dan adat ketimuran kita sangat memahami bahwa musik adalak salah satu media yang sangat digemari oleh manusia. Segmen musik memang universal dan tanpa batas. 

Lihatlah di sekeliling kita anak-anak usia TK, usia SD sangat hafal dengan lagu-lagu yang bertema dewasa. Walau mereka belum memahami artinya, namun lirik-lirik lagu yang vulgar dan seronok itu dengan tanpa disadari akan mempengaruhi perkembangamn jiwa si anak. Saya memang bukan seorang ahli psikologi, namun kenyataan itu ada disekiling kita dan saya kira fakta itu lebih detail dari sekedar teori dan tanda-tanda psikologis.

Kebanyakan lagu-lagu sekarang berkualitas rendah. Baik dari segi musiknya maupun liriknya. Sekarang yang ditonjolkan lebih kearah penyanyinya. Asal cantik, asal berani tampil seksi akan menuai sukses di pentas hiburan tanah air, walau suaranya pas-pasan, walau vokalnya tak karuan. Semuanya tidak menjadi penting, yang penting adalah tenar dan bisa meraup rupiah yang melimpah.

Menurut saya ini adalah sebuah fenomena negatif dan tragedi kesenian di tanah air. Bukankah dulu tontonan menjadi sebuah tuntunan bagi masyarakat ? dan tentu menjadi sebuah jariyah bagi aktivis musik jika lagu-lagunya membawa masyarakat kearah yang lebih baik. Walau saya sadar bahwa statemen saya ini tidak sepenuhnya benar, namun setidaknya musik membawa pengaruh dalam diri pribadi masyarakat. 

Apakah karena tuntutan masyarakat yang memang telah sakit sehingga industri musik di tanah air kita ini menjadi sangat tidak jelas ? atau karena ada upaya pembusukan karakter bangsa lewat industri hiburan sehingga semuanya serba rendahan ? bukankah masyarakat masih sangat suka ketika tembang lir ilir dilagukan, bukankah tombo atinya Sunan Bonang masih sangat laris ketika musiknya diaransemen ulang ? bukankah musik-musiknya Iwan Fals yang syarat kritik sosial dan berkelas juga masih laris manis dan melegenda sepanjang masa ?

Pertanyaan-pertanyaan diatas memberikan satu gambaran bahwa musik sekarang dipakai oleh kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan penjajahan budaya, dijadikan racun maha arsenik yang dicekokkan kepada anak-anak kita. Kita dipaksa menikmati hiburan kelas sampah hingga mau tidak mau setiap saat telinga kita akan mendengar musik lagu-lagu rendahan. Tidak hanya itu yang lebih parah lagi adalah ternyata pemerintah ikut-ikutan latah. Lihat saja setiap kegiatan senam atau kegiatan-kegiatan di instansi pemerintahan ritual wajib mereka selalu memutar lagu-lagu tidak jelas semisal goyang dumang, goyang morena dan lain sebagainya.

Saya jadi ingat komedian super lucu Bagio, Ia punya satu istilah yang selalu membuat saya terpingkal yaitu "Untuk Menyanyi". Kalimat itu disambung dengan kalimat lain semisal "Diundang Pak Lurah Untuk Menyanyi" dan memang hampir seluruh aktivitas kita tidak lepas dari menyanyi. Di televisi seheboh dan segempar apapun acaranya juga tetap itu-itu saja, seperti kata Bagio, "Untuk Menyanyi"


Jika musik dan nyanyian-nyayian rendahan telah menjadi menu wajib telinga kita setiap saat, alangkah rusaknya generasi ke depan kita. Coba perhatikan lagu goyang dumang :

Ayo kita goyang
biar hati senang
pikiranpun tenang
galau jadi hilang
biar hati senang
Semua masalah jadi hilang

Saya menulis syair diatas bukan berarti saya hafal, saya menconteknya dari google. Goyang dumang sekarang menjadi sebuah alternatif baru untuk menghilangkan masalah dan membuat hati menjadi tenang. Beda dengan apa yang diajarkan oleh Al Qur'an, Hadits, maupun ajaran Salafussholeh. Dalam Al Qur'an jelas diterangkan jika hati tidak tenang maka kita disuruh berdzikir bukan malah goyang yang tidak karuan itu. Begitu juga Sunan Bonang memberikan resep obat penyakit hati agar selalu damai dan tenang. beliau membuat sebuah tembang "Tombo Ati" berikut syairnya :

Tombo ati iku lima sak wernane
Moco Qur'an angen-angen sakmanane
kaping pindo sholat wengi lakonono
kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat weteng iro ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe
salah sawijine sopo biso ngelakoni
Insyaallah Gusti Allah nyembadani

Syair Tombo Ati melegenda dan masih digemari hingga kini. Di mushola-mushola dan masjid dikampungku masih sering dijadikan puji-pujian sebelum shalat lima waktu didirikan, dan mendengarnya serasa jiwa ini ikut tenang karenanya. Lalu manakah yang akan kita ikuti jika kita punya masalah dengan kehidupan kita, akankah kita akan goyang dumang sampai nyawa melayang hingga akhir dari kehidupan kita akan su'ul khotimah, ataukah kita akan mengikuti petunjuk Sunan Bonang yang tembangnya disandarkan pada ajaran mulia dari Rosulullah ?. Silahkan memilih, karena Tuhan telah menyediakan dua jalan bagi kehidupan kita.

"Faalhamahaa fujuurohaa wa taqwaaha"
"Qod aflaha man zakkaaha wa qod khooba man dassaahaa"

Semoga Allah melindungi anak cucu kita dari godaan zaman dan menjadikannya amal sholeh bagi kita. Amien.

Jwt. 22.02.15








5 komentar:

  1. cara menulis yang baik, bgmn ustd ?

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus