Sabtu, 10 Januari 2015

“Menulislah Maka Engkau Abadi”

“Menulislah Maka Engkau Abadi”

Menulis adalah aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh para pelajar, mulai dari pelajar tingkat TK, SD, SMP, SMA, lebih-lebih seorang mahasiswa. Walau demikian ternyata menulis belum menjadi sebuah tradisi yang mengakar dikehidupan masyarakat kita. Masyarakat Indonesia memang masih sangat jarang menghasilkan tulisan baik itu dalam bentuk  fiksi lebih-lebih karya ilmiah dibanding bangsa –bangsa lain didunia ini.

Menulis mempunyai kaitan yang erat dengan membaca. Biasanya seorang pembaca yang baik adalah penulis yang baik pula, begitu pula sebaliknya seorang penulis yang baik adalah seorang yang gila membaca. Walau mungkin masih ada seorang pembaca namun belum berhasil menghasilkan sebuah karya tulis apapun, namun setidaknya ia punya harapan dan angan-angan kelak ia akan menulis.

Di dunia pendidikan kita baik mulai dari tingkat dasar hingga tingkat menengah memang menulis belum menjadi suatu prioritas, setidaknya belum ada pelajaran wajib untuk menulis, yang kemudian diakhir pembelajaran seorang siswa menghasilkan sebuah karya sebagai syarat kelulusan. Semisal membuat skripsi seperti ditingkat perguruan tinggi. Walau tak dapat dipungkiri di perguruan tinggi karya tulis ilmiah yang berupa skripsi kadang masih banyak oknum yang menjual belikannya. Atau tinggal copy paste saja.

Memang sebuah dilema, mahasiswa yang seharusnya menghargai hak-hak intelektual harus membuang idealismenya sebagai seorang intelektual demi mendapat pengakuan sebagai seorang sarjana. Dan tragisnya lagi karya skripsi adalah puncak karya sang mahasiswa, setelah itu mereka akan enggan dan ogah-ogahan untuk menulis. Padahal seharusnya skripsi adalah awal, dan sebuah momentum untuk terus mengembangkan kemampuannya dibidang tulis menulis, maupun dibidang researc-researc yang lain yang dapat disumbangkan untuk kemanusiaan.

Umur manusia terbatas, kita tidak akan bisa melawan waktu untuk terus ada, padahal nilai manusia adalah seberapa besar pengabdiannya kepada masyarakat. “Khoirunnas anfa’uhum linnas” sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat untuk sesama. Oleh karena itu menulis bisa menjadi salah satu pilihan dari pilihan-pilihan yang lain guna mengabdi kepada manusia.  Mengutip wallnya Gerakan Tuban menulis, “Sebuah tulisan yang menggugah, akan menjadi amal yang tak mampu anda hitung jumlahnya..” Jadi menulislah karena menulis akan menjadikan kita abadi, sebagaimana penyair Chairil Anwar berteriak di akhir puisinya yang berjudul ”Aku” “Aku Mau Hidup Seribu tahun lagi”. Umur kita tentu tidak akan mencapai seribu tahun, namun dengan menulis sebagaimana yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Dan kita akan dikenang oleh masyarakat dan sejarah. Salam. Jwt. 10.1.15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar