Rabu, 07 Januari 2015

Filosofi Macapat

Filosofi Macapat

tembi.net
Macapat  dalam ajaran masyarakat  Jawa tidak hanya sekedar dipakai menamakan jenis tembang (tembang alit) saja ada banyak filosofi tentang Macapat dalam kehidupan orang Jawa. Macapat artinya tata cara yang didasarkan pada jumlah empat. Macapat dikaitkan dengan sistem tata kota, konsep asal-usul manusia, arah mata angin dan lain sebagainya.

Berkenaan dengan tata kota sistem macapat yang digagas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga ini dapat kita lihat dikota-kota lama. Seperti Tuban, Rembang, Blora, Demak dan lain sebagainya. Seperti di Tuban tempat kelahiran beliau, model macapat dapat kita saksikan bahwa penataan kota berdasarkan empat arah penjuru mata angin. Disebelah selatan terdapat pusat pemerintahan dimana Bupati menjalankan tugasnya, disebelah barat terdapat masjid tempat beribadah sehingga diharapkan Bupati dan segenap pamong prajanya tidak melupakan urusan keagamaan, disebelah utara terdapat pasar tempat bertemunya para kawula dan tempat dimana roda ekonomi dijalankan, disebelah timur terdapat bangunan penjara dimana siapapun yang melanggar aturan maka harus dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Ditengah biasanya terdapat alun-alun dan disitu terdapat dua pohon beringin.

Sistem tata kota yang digagas oleh Kanjeng Sunan Kalijaga tidak sekedar masalah sistem tata ruang saja, namun dibalik itu banyak nilai yang terkandung di dalamnya. Seperti Kantor Bupati selalu menghadap ke utara membelakangi gunung dan menghadap ke arah laut. Ini memiliki makna bahwa seorang pimpinan harus meninggalkan sifat tinggi hati dan kesombongan sebagimana sifat gunung yang tinggi, dan pemimpin harus memiliki hati yang luas seluas samudra. Tentang alun-alun adalah punjer, dan perwujudan keberagaman masyarakat. Alun-alun berasal dari kata bahasa Arab “allaunu-allaunu” yang berarti beraneka warna jadi pemimpin adalah untuk masyarakat majemuk bukan golongan. Di tengah alun-alun terdapat dua beringin kembar yang melambangkan sumber hukum pemerintahan harus sejalan dengan dua pusaka peninggalan Nabi Muhammad Saw untuk umatnya yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.

Konsep Macapat yang berkenaan dengan asal usul manusia, masyarakat Jawa meyakini bahwa kelahiran seorang didunia ini tidak sendiri tapi ada unsur-unsur lain yang menyertainya dan itu bukan tanpa makna dan fungsi. Dalam keyakinan Jawa ini dikenal dengan istilah “Sedulur Papat  Lima Pancer”. Konsep sedulur papat lima pancer ini meliputi :
Mar marti : Rasa ngilu dan sakit saat akan melahirkan
Saudara Tua : Kakang Kawah (air Ketuban)
Saudara Muda : Adi Ari-ari (Plasenta)
Darah : Getih
Pancer : Jabang bayi itu sendiri.

Keempat elemen yang menyertai kelahiran jabang bayi menjadi saudara yang menemani bayi yang baru lahir hingga masa ia ke alam kelanggengan. Mereka akan setia menjaga bayi tersebut dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu biasanya orang Jawa jika punya hajat maka ia akan memanggil kadang-kadangnya dengan cara-cara tertentu.

Setelah ajaran Islam mewarnai kehidupan masyarakat Jawa empat elemen saudara manusia tadi ada yang menggambarkannya dalam bentuk empat malaikat penjaga kehidupan manusia yang menerima titah Tuhan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Malaikat itu adalah :
1.       Jibril (Penyampai wahyu/ informasi ilahiyyah)
2.       Israfil (Pembaca buku Qadha’ dan Qadarnya Tuhan)
3.       Mikail (Pembagi rezeki untuk manusia)
4.       Izrail (Pencabut Nyawa manusia)

Selain makna diatas konsep sedulur papat dalam pewayangan Jawa digambarkan sebuah gunungan (kekayon) yang di dalamnya terdapat empat macam lukisan, yaitu Macan, Banteng, Kera, dan Burung Merak. Hewan empat tadi menggambarkan nafsu manusia yang selalu menemani selama hidupnya. Macan adalah lambang nafsu Amarah, Banteng menggambarkan nafsu Supiyah, Kera menggambarkan nafsu Aluwwamah, dan merak menggambarkan nafsu Muthmainnah.

Dalam Ajaran Jawa macapat  juga digunakan untuk menggambarkan proses kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Hal ini digambarkan dalam urutan tembang cilik (tembang macapat). Urutan itu adalah :
1.       Maskumambang (alam manusia di terapung di dalam rahim sang Ibu)
2.       Mijil ( Masa Kelahiran manusia)
3.       Kinanthi (saat-saat manusia dinanti-nanti (dikudang)
4.       Sinom (Saat muda)
5.       Asmaradana (Merasakan api cinta terhadap lawan jenis)
6.       Gambuh ( Gambuh, Jumbuh, saat pertemuan manusia dengan jodohnya)
7.       Dandhanggula (Saat manis-manisnya menjadi sepasang pengantin/ saat bulan madu)
8.       Durma (Durma atau darma. Kehidupannya sudah mapan dan bermanfaat untuk orang lain)
9.       Pangkur (Kepungkur, mulai meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan, dan banyak meninggalkan kesenangan duniawi, saat manusia madeg pandita )
10.   Megatruh (Saat terpisahnya jasad dan ruh manusia )
11.   Pucung (saat manusia dipocong dan dibungkus kain kafan untuk dikuburkan)

Proses kelahiran manusia juga diwujudkan dalam empat arah mata angin, dimulai dari arah timur, barat, selatan, dan utara. Dalam sebuah puisi yang aku tulis dengan judul “Kun fayakun” telah saya uraikan dari ajaran kejawen tentang awal mula kiblat  empat menurut Darmogandul yang menjelaskan asal-usul wujud manusia. Lebih jelasnya silahkan simak puisinya disini. "Kun fayakun"

Demikian beberapa uraian tentang filosofi macapatnya orang Jawa. Jwt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar