Senin, 26 Januari 2015

“Catatan Kecil 1 di Gerakan Tuban Menulis”

“Catatan Kecil 1 di Gerakan Tuban Menulis”

Kemarin hari, Sabtu, 24/1/2015 saya mengikuti acara yang sangat istimewa. Istimewa disini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan tempat, orang-orangnya, ataupun kulinernya. Tempatnya biasa dan sederhana hanya disebuah sanggar belajar milik UPTD Kab. Tuban. Sanggar itu persisnya berada di sebelah timurnya SMA 1 Tuban.

Tidak ada hamparan karpet merah, tidak ada AC, tidak ada ruang khusus resepsionis, ya pokoknya sederhana, sesederhana acara yang diselenggarakan di dalamnya. Orang-orangnya pun biasa, bahkan sangat biasa. Tak ada yang berjas dan berdasi kayak anggota dewan yang saya tentu tak berani mengatakan kalau mereka bukanlah orang yang tak penting.

Tak ada wajah-wajah terkenal seperti yang akrab saya lihat di layar TV, yang dengan penuh semangat optimisme mengkampanyekan tentang nasib wong cilik dan kesejahteraan rakyat jelata. Walau mungkin ia sedang akting bermain opera ala anak TK, yah ! pokoknya teriak dan asal keras suaranya. Seolah-olah mereka adalah pahlawan yang patut dibanggakan. Mungkin mereka memang merasa sedang berjuang dan menjadi pahlawan, namun sayang hari terlanjur siang.

Orang-orang yang saya temui di pagi itu memang agak terlihat aneh. Namun aneh disini bukan mewakili kata istimewa. Siang begitu cerah matahari tak tertutup kabut dan keadaan terang benderang. Namun orang-orang itu membawa semacam lentera. Entah itu obor, entah itu lilin, eh..tidak, tidak keduanya. Apakah mereka itu keturunan tokoh  pewayangan Gatutkaca ? di dada mereka ada sinarnya. sinar itu berpendar dan beraura seperti cahaya umpling yang menarik laron-laron ke dalam kobarannya. Saya jadi ingat dulu waktu awal musim penghujan di desaku.

 Awal  musim hujan adalah berkah tak terkira bagi penduduk desa, selain musim bertanam telah tiba, biasanya awal musim hujan adalah musim berburu laron dan musimmnya jamur barat. Emakku biasanya pada malam hari meletakkan nampan yang diisi air kemudian di tengahnya diletakkan umpling yang menyala. Dengan sendirinya laron-laron itu akan mendekat dan terjebak di telaga nampan. Kemudian laron-laron itu tinggal diambil dan di goreng untuk lauk sarapan pagi.

Ah  tidak ! mungkin aku yang terlalu terbawa lamunanku hingga membayangkan mereka adalah manusia yang berlentera. Setahuku tidak ada manusia yang bisa memunculkan cahaya dari tubuhnya. Kecuali mereka menjalin hubungan ghaib dengan makhluk yang bernama kunang-kunang. Tapi saya pernah mendengar dari guru ngajiku bahwa jika kita merutinkan wudhu insyallah wajah kita besok di akhirat akan bercahaya. Tapi ini masih di dunia, layar akhirat belumlah digelar.

Lalu apa yang tadi saya katakan istimewa ? tengoklah keatas di awal paragraf saya. Yang istimewa adalah acaranya kan ? ya acaranya keren banget temanya aja menyihir “Jalan Pintas Menjadi Penulis Buku”. Hah... tidak salah menjadi penulis itu istimewa. Siapa memang yang mau dan bercita-cita menjadi penulis. Jika kita ditanya tentang cita-cita kita, tentu dengan semangat akan bilang mau jadi dokter, jadi insyinyur, jadi polisi, tentara, pengusaha, jadi artis dan seabrek profesi keren lain yang menggoda selera mertua. Hanya orang-orang malas dan tak punya kesibukan saja yang mau menulis.  

Ya memang itu presepsi masyarakat luas tentang dunia tulis menulis, namun jangan salah , banyak orang yang sukses gara-gara menulis. Andrea Hirata terkenal dan kaya karena Tetraloginya Laskar Pelangi, Habiburrahman El Shirazy juga dikenal dunia lewat novelnya Ayat-Ayat Cinta. Yang paling fundamental tentu menulis bukan karena urusan terkenal dan uang saja, menulis adalah perjuangan, sebuah proses untuk ikut andil dalam menuangkan ide dan gagasan dalam membangun peradapan dunia. Bukankah tokoh-tokoh besar negeri ini juga berjuang dengan tulisannya ? Soekarno melawan kesewenang-wenangan imperialisme dengan bukunya “Indonesia Menggugat”. Rendra, Pram, Wiji Thukul, mereka adalah tokoh-tokoh yang berjuang dengan tulisannya. Kata adalah daya, tulisan kadang lebih tajam dari peluru. Maka masihkah kita menyangsikan kehebatan dari sebuah tulisan. Waktu boleh berganti, umur boleh udzur,dan maut boleh menjemput,  namun tulisan akan terus hidup dan  ada untuk selama-lamanya. Seperti kata Pram, “Menulis adalah Bekerja Untuk Keabadian”. Jadi silahkan, silahkan menulis sekarang juga. Jwt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar