Sabtu, 10 Januari 2015

Batu dari Masa Ke Masa

Fenomena batu selalu menjadi bagian disetiap lekuk-lekuk sejarah di muka bumi. Konon rumah peribadatan pertama yang dibangun Nabi Adam di jagad semesta yaitu Ka’bah juga menyertakan sebuah batu yang diturunkan dari langit. Konon batu itu berwarna putih cemerlang, namun karena batu itu selalu disentuh oleh orang-orang yang melakukan pertaubataan dosa, lambat-laun batu itu berubah warna menjadi hitam seperti sekarang yang dikenal dengan sebutan “Hajar Aswad”. Batu hitam ini sungguh sangat istimewa ia ada hingga kelak menjadi saksi bagi manusia di akhirat.

Jadi Ka’bah sebenarnya telah ada sebelum Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail . Mereka berdua hanya meneruskan apa yang dulu telah dibangun oleh pendahulunya, Nabi Adam As. dan kemudian dibangun lagi hingga seperti yang sekarang.

http://www.novawijaya.com/2015/01/batu-semar-giant-rock-bojonegoro.html
Dulu era zaman paganisme orang-orang juga sama gandrung untuk menyembah batu yang diwujudkan dalam bentuk berhala-berhala yang dijadikan sebagai Tuhan. Dalam sejarah peradapan manusia juga mengenal zaman batu pula, paleolitikum, mesolitikum, neolitikum, dan megalitikum. Di era ini juga tidak terlepas dari penggunaan media batu sebagai peralatan sehari-hari maupun sebagai media untuk penyembahan terhadap ruh nenek moyangnya.

Begitu juga dalam sejarah klasik peradapan Islam ada sebuah kisah filosofis yang sangat terkenal. Yaitu tentang seorang pemuda yang sedang belajar disebuah majelis ilmu. Karena pemuda tadi merasa bahwa sangat lamban dalam menerima ilmu dari gurunya, akhirnya pemuda ini frustasi dan pergi meninggalkan majelisnya belajarnya. Suatu ketika hujan turun, dan pemuda itu berteduh di dalam sebuah goa. Di dalam goa pemuda itu tertegun, ia memandangi dinding goa yang meneteskan air, dan air itu menimpa sebuah bongkahan batu. Dilihatnya batu itu berlubang. Hidayah Allah masuk ke dalam hati pemuda itu melalui fenomena batu yang berlubang karena tetesan air yang tiada henti. Akhirnya pemuda tadi tersadar, dan ia kembali ke majelis gurunya untuk menuntut ilmu dengan tekun dan terus menerus seperti air yang akhirnya mampu mengikis kerasnya sebongkah batu, sedang yang di dalam hatinya bukanlah batu tapi hati yang tentu juga bisa berubah menjadi lebih baik manakala ia membiasakan diri dengan suatu kebaikan. Pemuda itu akhirnya berhasil dalam studinya, dan ia menjadi salah seorang pakar hadits terkemuda pada masa Khalifah Sholahuddin Al  Ayyubi di Mesir. Dialah penulis kitab yang monumental dalam dunia pesantren fathul bari’.

Dan berbicara soal batu, tentunya kalian masih ingat cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi dan selalu saja relevan dengan zaman. Kisah Malin Kundang seorang anak yang dikutuk menjadi batu gara-gara durhaka kepada ibu kandungnya. Kata Ippho Santosa seorang trainer ternama, kisah Malin Kundang memang fiksi, namun pesan yang disampaikan sangat nyata sekali. Seorang anak yang durhaka kepada orang tua kehidupannya akan membatu dan tidak berkembang. Ia akan sulit untuk sukses dan bahagia.

Lebih fenomenal lagi adalah kisah batunya dukun cilik dari Jombang Ponari. Batu petir itu menggegerkan jagad perdukunan Nusantara, tidak hanya kalangan para normal yang gonjang-ganjing, dunia kedokteran, kaum agamawan, ilmuan, politisi, dan publik Indonesia dibuat sibuk membicarakan dukun tiban itu. Hanya karena sebongkah batu yang konon ditemukan ketika hujan dan saat petir menyambar, ponari didatangi ribuan pasien yang rela mengantri hingga berhari-hari untuk meminta kesembuhan, kelancaran rizki, jodoh dan maksud-maksud lain memalui media batu tersebut.

Dokter, konsultan, ahli psikolog, dan kaum akademisi tentu protes dengan situasi yang sedemikian. Mereka yang merasa belajar bertahun-tahun menghabiskan dana jutaan rupiah, mempelajari segala macam teori ilmu pengetahuan saja tak memiliki pasein yang sedemikian rupa. Lha ini ada anak kecil yang makan sekolah saja belum tamat namun pamornya mampu meruntuhkan kridibilitas seorang akademisi yang telah malang melintang menghabiskan waktunya selama bertahun-tahun untuk mempelajari  segala macam tetek bengek teori-teori ilmiah.

Para pakar sama berkomentar bla bla bla, kaum agamawan pun tak mau kalah ini musrik, ini syirik, dan lain sebagainya. Semua sibuk memberikan reaksi terhadap Ponari. Sedang Ponari adalah anak kecil seusia SD yang tak mengerti apa yang dibicarakan mereka.  Ia dengan santai berada diatas gendongan keluarganya, tangan kanannya memainkan game di HP, sedang tangan kirinya menggenggam batu dan dipegangi oleh yang menggendongnya kemudian batu itu dicelupkan ke wadah air pasien.  Ponari tak tahu apa-apa, ponari tak menjanjikan kesembuhan dan solusi dari masalahnya pasien. Namun pasien selalu membanjiri rumahnya.

Adalah hak Tuhan jika batu Ponari yang dipakai media oleh orang-orang itu memberi kesembuhan dan lain sebagainya. Siapapun tidak punya hak untuk melarang-larang Tuhan. Mau sembuh karena batu, mau sembuh karena debu, kotoran, ataupun karena obat dari seorang pakar pengobatan tentu tidak ada yang bisa mendikte Tuhan. Jadi pada dasarnya bukan dzat benda yang memberikan kesembuhan namun karena semata-mata itu adalah qudrahnya Allah.

Jika kita sakit kemudian minum obat dari dokter kok sembuh, lha memang pas saat itu Allah memberikan kesembuhan. Salah jika kita menganggap obatnya dokter menyembuhkan penyakit. Disini kedudukan obat dan  batunya Ponari juga demikian, karena Allah tidak terikat dengan segala macam teori ilmiah, hipotesa, fakta-fakta empiris maupun hitam putihnya dunia. Allah punya sifat “Qiyaamuhu Bi Nafsihi”

Dan yang terbaru kabar berita di Bojonegara sedang ramai-ramainya membicarakan batu. Istilah sekarang menjadi tranding topik lah. Dalam berita radar Bojonegara maupun dari media online diberitakan ada sebuah batu yang beratnya 80 ton dari dusun Sukun desa Sambongrejo Kec. Gondang di pindah ke depan gedung Pemkab. Para blogger dan media-media online menyebutnya sebagai batu semar. Saya sendiri belum jelas mengapa disebut sebagai batu semar, mungkin karena bentuknya yang tambun dan besar sehingga dimirip-miripkan dengan tokoh pewayangan.

Menurutku batunya sendiri tidaklah mirip dengan semar, tadi saya sempat melihatnya walau hanya sekilas. Namun mau dinamakan Semar, mau Petruk, Gareng, ataupun Togog itu haknya masing-masing. Apalah arti sebuah nama kata Shakespeare, walaupun sastrawan dari Inggris itu saya anggap sedang nglindur ketika mengatakan yang sedemikian. Karena sebagai seorang yang dilahirkan dari suku Jawa saya meyakini bahwa nama adalah sebuah do’a.  Nabi Muhammad Saw sendiri juga berpesan agar orang tua memberikan nama yang baik untuk anak-anaknya. Mungkin saja Shakespeare memang tak mengenal persis apa itu do’a.

Oleh pemkab Bojonegara rencananya batu itu akan dijadikan sebagai prasasti tempat diletakkannya berbagai penghargaan untuk kota Bojonegara maupun prestasi-prestasi lain dari warga masyarakat Bojonegara secara  umum.  

Ini adalah ide yang brilian dari seorang Bupati yang notabenenya berasal dari kultur Muhammadiyah. Beliau Bapak Suyoto tidak khawatir dikatakan ini adalah syirik, musyrik, tahayul, bid’ah, maupun khurafat. Fenomena ini akan menjadi semacam pencerahan bagi semua masyarakat bahwa masalah kemurnian aqidah itu di hati, bukan karena faktor benda. Jadi ketika ada orang yang membawa keris kemudian memandikannya jangan langsung dituduh itu khurafat, itu klenik, dan sebagainya, mungkin saja karena dia menghargai dan mencintai hasil kebudayaan nenek moyangnya. Begitu pula dengan Kang Yoto, beliau menginstruksikan untuk membawa batu bukan dalam rangka untuk dikultuskan maupun  dimintai berkah namun memang batu itu unik dan menginspirasi jika diletakkan di depan pemkab setempat. Kalau pun toh ada yang salah faham, dan berbuat yang aneh-aneh dengan batu itu, lha itu tugas kita bersama untuk memberikan wawasan dan pemahaman. Dan kang Yoto tentu tidak bertanggung jawab terhadap itu semua. Karena manusia akan membawa amalnya sendiri-sendiri.

Semoga kita semua bisa memahami  fenomena-fenomena di dunia ini dengan arif dan bijaksana, bukan dengan saling mengolok dan saling menyalahkan. Ingat yang bermasalah sebenarnya bukan batunya, namun yang bermasalah adalah karena kepala batu. Sekian. Jwt.10.1.15

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar