Sabtu, 17 Januari 2015

Babad Buku Grace Lin "Where The Mountain Meets The Moon"



 Babad Buku Grace Lin "Where The Mountain Meets The Moon"

Nama Grace Lin mungkin kurang popular  di jagad pernovelan Indonesia, setidaknya aku belum pernah mendengar nama itu, entah kamu ya Na ? namun setelah membaca salah satu Novelnya yang berjudul “Where The Mountain Meets The Moon” aku kok jadi gandrung ya dengan penulis yang berdarah Tiongha itu. Lha bagaimana dengan kamu Na apakah kamu juga suka dengan novel itu ?

Secara fisik novel itu sangat menarik perhatianku Na, warnanya biru laut yang mencolok penuh semangat dan optimisme menggugah semangat hidup kita, bahwa hidup tak sesempit yang kita pikirkan, kemudian lukisan naga merah sedang terbang di angkasa yang menggendong gadis kecil memberikan arti bahwa apapun dan bagaimanapun keadaan kita, hasrat dan cita-cita hidup kita harus tetap menyala dan mengangkasa setinggi langit. Gadis itu tentu bernama Minli yang diceritakan oleh Grace Lin Na. ia sedang mencari kakek Rembulan untuk menanyakan peruntungan keluarganya. Apakah kamu juga ingin bertemu dengan Kakek Rembulan dan menanyakan benang takdirmu Na ?

Dan yang lebih membuat aku tertarik dengan novel itu adalah hiasan bunga yang sedang mekar dan berwarna merah yang berada di batas atas dan bawah novel itu Na, walau desainnya kecil, namun aku memang selalu tertarik dengan bunga yang banyak tumbuh di taman para Raja dan Kaisar masa lampau Na, kalau tidak salah itu adalah bunga teratai. Bunga yang secara fisik indah dan sedap dipandang mata, begitu juga secara filosofis juga mengagumkan dan menginspirasi kehidupan manusia. Taukah kamu filosofis bunga teratai Na ? Bunga teratai tumbuh di daerah rawa dan banyak airnya. Walau lingkungannya berlumpur namun bunga ini tetap indah dan wangi. Begitu juga dengan kehidupan kita Na, kita boleh saja hidup di tengah-tengah keburukan, namun jangan pernah kita ikut menjadi buruk, kita harus terus berusaha memberikan kebaikan dan manfaat  buat lingkungan kita. Jangan pernah lelah menjadi baik.

Dalam ajaran Budha bunga teratai menjadi lambang spiritual Na, bunga yang memiliki delapan kelopak itu dianggap sejalan dengan ajaran delapan jalan kebaikan agama Budha. Bunga yang memiliki nama latin  Nymphae ini warnanya bermacam-macam, ada putih, , ada biru, ungu, dan merah seperti di novelnya Grace Lin itu Na. kalau kamu kira-kira suka bunga teratai yang warna apa Na ? kalau boleh aku tebak kau pasti pilih warna merah atau pink seperti warna kaos kakimu kan ?

Menurutku novel itu sangat baik untuk kita konsumsi Na, walau ceritanya berlatar belakang folklore dari negeri tirai bamboo, tapi isi dan bahasanya sangat cocok dengan selera nusantara kita kan ? bisa kamu bayangkan Na membaca novelnya Grace Lin saat hujan turun ditemani secangkir teh hangat tentu akan sangat menyenangkan. Aroma tehnya akan membawa kita ke mesin waktu abad klasik cina masa-masa kekaisaran. Tidakkah kau ingin mengunjungi negeri Panda yang lucu itu Na ?

Kalau kau belum bisa kesana, kamu bisa kok merasakan dan menikmati suasana Negeri itu dengan membaca novel “Travel In Love” saya punya bukunya, namun sayang saya lupa siapa penulisnya. Kapan-kapan kamu boleh meminjamnya.  Sekian. Jwt. 17.1.15/Rintik Hujan  di Bangilan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar