Senin, 01 Desember 2014

“Legawa”



“Legawa”

Akhir-akhir ini kata “legawa” marak dipakai dalam perbincangan-perbincangan baik di tengah-tngah masyarakat  ataupun di social media. Legawa sejatinya berasal dari bahasa Jawa namun telah diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Biasanya penggunaan legawa di dalam bahasa Jawa disertai kata “lila legawa”. Kata legawa itu menggambarkan sikap batin yang ikhlas, rela, dan tidak merasa kecewa terhadap apa yang telah terjadi.

Kata legawa tegese nampa kanthi ati longgar, menerima segala sesuatu dengan hati lapang dada dan ikhlas. Jika dalam sebuah kompetisi harus kalah maka ia  bisa menerima kekalahan itu, dan sebaliknya jika menang tidak terlalu pongah dan sombong. Kayaknya kata legawa memang perlu dijadikan semisal keyword dalam kehidupan masyarakat kita yang memang beraneka ragam dan multicultural ini, agar tidak terjadi gesekan diakar rumput.

Segala perbuatan pasti ada konsekuensinya tersendiri. “wong kuwi bakal ngunduh wohing pakerti”. Dan perlu diingat tidak semua yang menjadi cita-cita kita pasti terlaksana oleh karena itu sikap legawa ini perlu dimiliki oleh orang yang hidup penuh dengan kompetisi dan persaingan.
Setiap manusia hendaknya menjaga sikap legawa ini, karena manusia hanya bias berusaha sedang kepastian berada pada takdir Tuhan. Ingatlah selalu “Ana Urid, Anta Turid, WAllahu yaf’alu maa yurid”.  Saya punya keinginan, kamu pun punya keinginan, namun Allah berkehendak sesuai dengamn qudrah-NYA”.

Manusia bisa saja sakit, manusia tentu punya rasa susah, dan manusia mungkin berada pada nasib yang tidak baik, menjadi tua dan kemudian mati. Kalau memang  sudah takdirnya, manusia hanya bisa pasrah terhadap Tuhan. Walau ikhtiar tidak boleh kita tinggalkan, namun manusia tidak akan pernah keluar dari bingkai takdir Tuhan. “Ora ono kesekten kang bias madani pepesthen” tidak ada satu pun kesaktian didunia ini yang mampu mengalahkan takdir Tuhan. Dalam Hikamnya ibnu Athaillah as Sakandari menyatakan :
سوابق الهمم لا تخرق أسوار الأقدار
“Kekuatan semangat (azam, cita-cita, ikhtiar) tidak akan mampu memecahkan benteng takdir”

Oleh karena itu kita perlu legawa, ridha, dan ikhlas menjalani kehidupan ini. KGPAA Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama mengingatkan agar kita memiliki tiga sifat utama yaitu :
1    .       Lila lamun kelangan (Ikhlas apabila kehilangan sesuatu)
2    .       Trima yen ketaman (Lapang dada jika terkena musibah)
3    .       Legawa lan pasrah marang sing gawe urip ( Ridha terhadap ketentuan Tuhan)

“Lila lamun
kelangan nora gegetun
trima yen ketaman
sak serik sameng dumadi
tri lagawa nalangsa srah ing bathara”

Jwt. 1/12/2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar