Sabtu, 08 November 2014

Ulama dan Santri di Palagan Surabaya

Ulama dan Santri di Palagan Surabaya

“Sekali Merdeka Tetap Merdeka, Lebih Baik Mati Berkalang Tanah Dari Pada Hidoep Didjadjah”
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.....!!!!

Gambar : www.majalah-historia.com
Teriakan takbir menggema dari corong Radio Pemberontak Repoeblik Indonesia di Surabaya. Bung Tomo membakar semangat para santri yang tumplek blek di palagan Surabaya untuk mengusir tentara Sekoetoe dan NICA.

Dunia tahu, tentara Sekoetoe dan NICA adalah pemenang Perang Dunia II, Barat dan Timur telah ditaklukkan, Negara-negara raksasa seperti Jerman, Italia, dan Jepang dipaksa tunduk menyerah kalah di perang Asia Timur Raya, namun tidaklah demikian dengan rakyat Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa garuda, bangsa yang punya sejarah pernah mencabik Naga dari Mongolia. Menghalau dan memporak-porandakan kesombongan tentara Tar tar, yang pernah menghancurkan kekhalifahan Banghdad dan menjadikan sebagian besar negara di Eropa dicekam ketakutan yang mendalam. Bahkan Raden Wijaya beserta pasukannya sukses mempecundangi Kublai Khan dan berhasil membunuh cucu dari Jenghis Khan Sang Imperior Mongolia.

Walau pemerintah cenderung lamban dalam menyikapi pendaratan Sekoetoe di berbagai daerah seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, serta Sumatra tanggal 29 September 1945, Perhimpoenan Nahdlatoel Oelama seluruh Jawa dan Madura tanggal 22 Oktober 1945 mengajukan Resoloesi Djihad pada pemerintah Indonesia. Resoloesi Djihad yang dikomando oleh Chadrotoes Sjeich KH. Hasyim Asj’ari ini terus berkembang menjadi Resoloesi Djihad seluruh umat Islam Indonesia.
 
Gambar : www.loveindonesia.com

Tanggal 25 Oktober 1945 tentara Sekoetoe Inggris dan NICA mendaratkan 6000 serdadu Goerkha dari India. Kedatangan mereka bertujuan mengambil interniran Belanda dari Jepang. Namun para Ulama dan santri tidak percaya. Kedatangan tentara penjajah ini oleh Ulama di sambut dengan Resoeloesi Djihad. Para santri, dan Kyai dari seluruh Jawa yang tergabung dalam Barisan Sabilillah dan Hizbullah berdatangan membanjiri Kota Surabaya. Kyai Abbas dari pesantren Buntet Cirebon datang atas undangan Chodroetoes Sjeich KH. Hasyim Asj’ari untuk mengamankan bahaya serangan udara. Kyai Abbas mempunyai kelebihan ilmu meruntuhkan pesawat terbang Sekoetoe hanya dengan mengarahkan tongkatnya ke arah pesawat. Benarkah Kyai Abbas mampu melakukan itu ?

Dalam berita Kedaulatan Rakyat yang bersumber dari berita pihak tentara Sekoetoe Inggris bahwa sejak terjadinya pertempuran di Surabaya, tentara Sekoetoe Inggris menderita kerugian tujuh buah pesawat Thunderbolt tertembak jatuh oleh serangan penangkis udara dari pihak Indonesia. Bahkan Sekoetoe menganggap pihak Indonesia memiliki kemampuan menembak pesawat sama dengan tentara Jerman. Apakah ini karena berkah dari doa Kyai Abbas ?

Lebih dahsyat lagi tentara Inggris Sekoetoe selama Perang Dunia ke II, 1939-1945 M belum pernah kehilangan perwira tingginya, namun entah mengapa baru sebulan setelah pendaratan 29 September 1945, pada tanggal 31 Oktober 1945 perwira tinggi Sekoetoe Brigadir Djenderal Mallaby tewas di Surabaya.

Gambar : www.partopoenya.blogspot.com
Energi jihad dan panggilan suci perang sabil dari Resoeloesi Djihad ternayata berdampak luar biasa. Ultimatum Mayor Djenderal R.C. Mansergh komandan Tentara Angkatan darat Sekoetoe agar segenap rakyat menyerahkan senjatanya, paling lambat jam 06.00 pagi 10 November 1945 dianggap angin lalu oleh rakyat. Walau ditunjang dengan peralatan yang canggih, senjata pemusnah meriam-meriam dari kapal penjelajah sussex dan beberapa kapal Destroyer-perusak, serta pesawat masquito dan thunderbolt dari Royal Air Force Inggris, namun tak mampu memadamkan semangat kemerdekaan yang sedang membara di hati rakyat Surabaya.

Dengan takbir Allahu Akbar, bersenjatakan keris, tombak, pedang, dan bambu runcing arek-arek Surabaya terjun ke medan laga menantang maut. Keris melawan senapan api, tombak melawan meriam, bambu runcing melawan bom-bom Sekoetoe, namun tak hendak menyurutkan langkah perjuangan. Bahkan kini bambu runcing menjadi icon senjata perjuangan rakyat Indonesia. Kyai Soebhi Parakan Magelang adalah pencentus gerakan bambu runcing walau nama beliau ditiadakan dalam buku sejarah, kemudian digantikan nama Tan Malaka sebagai pendiri Barisan Bamboe Roencing. Padahal, realitas sejarahnya, Lasjkar Hizboellah yang banyak menggunakan Bamboe Roencing khas kyai Soebhi sebagai senjatanya.

Kehadiran Kyai-kyai sepuh semisal Chodroetoes Sjeich KH. Hasyim Asj’ari dari pesantren Tebu Ireng Jombang, KH. Asjhari dan Kyai Toenggoel Woeloeng dari Jogjakarta, KH. Abbas dari pesantren Buntet Cirebon, dan Kyai Moestofa Kamil dari Partai Syarikat Islam Garut mampu membangkitkan perlawanan santri untuk maju terus pantang mundur. Mati di medan perang melawan penjajah Barat adalah mati yang indah, lebih baik gugur sebagai syuhada daripada hidup terjajah. Bunga-bunga bangsa berguguran, bau wangi surga semerbak di tanah jihad Surabaya. Tanggal 10 November 1945 Surabaya berubah menjadi lautan api dan darah.


Merdeka... merdeka... Allahu Akbar !!!. Jwt.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar