Jumat, 21 November 2014

“Menapak Jejak Eugene Dubois di Trinil Ngawi”

“Menapak Jejak Eugene Dubois di Trinil Ngawi”

Kota Ngawi punya tempat tersendiri di lembaran-lembaran memori hatiku, semasa Aliyah aku pernah mengunjungi kota itu. Bahkan ikut merasakan kesejukan dan keramahan warganya. Walau itu tidak lama. Disebuah desa yang sejuk Kedung Galar aku dolan dirumah teman pondok yang waktu itu sama-sama nyantri di salah satu pesantren di Bangilan. Lima belas tahun yang lalu kesejukan udara di Ngawi tak lagi kurasakan di hari ini di penghujung tahun 2014. Suhu telah berubah  barangkali hutan-hutan mulai meranggas hingga produksi oksigennya menurun, dan tentu juga menurunkan kadar kesejukan kota penghasil kripik tempe ini. Walau suhu dan iklim telah berubah keramahan warganya ternyata berformalin sehingga awet dan tak mengalami perubahan. Ramah, murah senyum, dan welcome terhadap tamu-tamunya.

Kemarin tanggal 20 November 2014 ketepatan kami serombongan menghadiri walimatul Ursy teman yang berada di Kec. Widodaren ke arah barat daya dari arah Trinil. Sepulang dari walimahan kami serombongan mampir ke museum Trinil.

Museum Trinil yang terletak di Dukuh Pilang Desa Kawu Kec. Kedunggalar ini untuk kedua kalinya aku memasuki dan mengagumi koleksinya. Khususnya fosil Gajah purba atau dalam istilah arkeolognya  dikenal dengan nama Stegodon Trogonochepalus. Museum yang dirintis oleh Mbah Wirodihardjo (Wiro Balung) tahun 1967 bagai sebuah pintu misteri yang menghubungkan masa kini dan masa jutaan tahun yang silam. Dari sebuah tugu kecil yang dibuat pada masa Belanda jejak-jejak ditemukannya fosil dipetakan.


Kunjungan kami ke Trinil dalam rangka untuk menapak ulang jejak seorang dokter Belanda Eugene Dubois  untuk ikut menengok masa lampau dari lembah Trinil. Di tepi aliran sungai purba museum Trinil menyimpan misteri dan teka-teki kehidupan manusia purba era jutaan tahun yang lalu. Semua ini berawal dari teori akbar darwin tentang evolusi kehidupan yang menggemparkan dunia. Bocah kelahiran Eijden Belanda taun 1859 melanglang buana guna mencari kunci dari teka-teki yang oleh banyak masyarakat dan oleh ilmuan di tafsiri secara spekulatif dan meloncat sehingga ada anggapan bahwa manusia adalah hasil evolusi dari kera. Jika memang manusia adalah manusia, dan kera adalah kera, maka pertalian diantara keduanya harus dapat ditemukan dalam bentuk fosil. Kemudian timbullah istilah “Missing Link” mata rantai yang hilang, dan inilah yang dicari-cari dan dipertanyakan dunia.


Sang dokter yang seharusnya bertugas di rumah sakit atau membuka praktek dirumahnya itu meninggalkan negaranya. Pada tanggal 29 Oktober 1877 ia bertolak ke Sumatera dengan menumpang kapal SS Prinse Amalia memulai perjalanan guna memuaskan dahaga dan rasa ingin tahunya.  “missing link harus dicari di daerah tropis yang tak tersentuh dinginnya Zaman Es”. Katanya. “Setelah Dubois mendengar bahwa BD Van Rietschoten tanggal 24 Oktober 1889 menemukan tengkorak manusia Wajak di Tulungagung, Dubois pun pergi ke Jawa dan ia mulai menekuni endapan purba di aliran sungai Bengawan Solo. Akhirnya ia sampai di Trinil sebuah tempat di Ngawi. Disitu Dubois menemukan master piecenya yang kemudian diberi nama Pithecantropus Erectus (manusia kera berdiri tegak).

Demikian sekilas catatan dan paparan yang disampaikan oleh Pak Sujono salah satu petugas Museum Trinil yang juga cucu dari mbah Wirodihardjo (Wiro Balung). Jwt

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar