Senin, 24 November 2014

Eksotika Peninggalan Belanda Benteng Pendem Ngawi



Eksotika Peninggalan Belanda  Benteng Pendem Ngawi

Sudut pandang dan cara berfikir akan menjadi semacam frame dalam melihat sebuah objek. Seindah apapun taman bunga ketika shoot dengan lensa sudut pandang buram tentu hasilnya  juga akan jelek. Begitu juga ketika lensa shoot kita sedah indah berbunga-bunga padang yang gersang pun akan menjelma menjadi  panorama yang mempesona.

Kemarin selepas dari walimah dari salah seorang kawan yang ada di Widodaren Ngawi  Kami serombongan enam orang menyempatkan untuk berkunjung di objek wisata local yang ada di Ngawi. Tentunya yang tidak boleh kami lewatkan adalah icon kota Ngawi Museum Trinil. Setelah mengunjungi bekas hunian Pithecantropus Erectusnya Eugene Dubois kami melanjutkan perjalanan ke pusat kota. Kami dengar ada sebuah situs kuno peninggalan Belanda diarah utara alun-alun kota Ngawi , benteng pendem begitu orang-orang menyebutnya.

Sesampai dilokasi arah matahari sudah berada di batas senja. Kami bukanlah satu-satunya rombongan yang mengunjungi benteng yang di salah satu dindingnya tertulis angka tahun 1839-1845 bercat merah. Banyak wisatawan local yang menghabiskan senja mereka dengan berfoto-foto di dinding-dinding benteng yang masih kokoh itu. Dari para kamerawan yang professional hingga semisal kami yang hanya mengandalkan lensa gadged. Sudut-sudut keindahan benteng mereka abadikan dengan mata lensa, mungkin sebentar lagi foro-foto itu kan membanjiri wallnya Mark Zuckerberg. Walau usia benteng sudah cukup tua tapi kekokohan bangunan dan pilar-pilarnya sungguh mengagumkan. Dindingnya menjulang tinggi berventilasi lebar mirip Colosseum di Roma, kata mirip ini lebih dipengaruhi oleh apa yang au pikirkan sendiri karena saya belum pernah melihat bangunan yang menjadi keajaiban dunia itu kecuali di gambar-gambar buku maupun internet.

Dibalik kemegahan benteng pendem dan keeksotisan bangunan yang dipadu tawa dan action gadis-gadis cantik yang berlagak cover model majalah yang berselfie ria saya melihat fragmen-fragmen masa silam yang sangat mengerikan, setidaknya itu menurut lamunanku. Benteng yang dibangun sekitar dua abad yang lalu oleh Gubernur Jenderal Defensieljn Van Den Bosch itu tentu menyimpan luka untuk penduduk disekitarnya. Benteng itu tentu dibangun diatas kerasnya tulang-tulang orang-orang Ngawi, diairi keringat dan darah dari para buruh rodi, air mata kesedihan anak-anak dan istri dari para suami yang terampas oleh tangan-tangan ketidakadilan, belum lagi benteng itu dijadikan penjara super maxsimum security untuk memberangus gerakan perlawanan rakyat era perang Jawa.

Sebuah gambar ilustrasi yang ditempel di lorong gerbang masuk dekat loket karcis benteng pendem menggambarkan lokasi benteng yang dikelilingi oleh kanal-kanal buatan yang airnya diambilkan dari sodetan bengawan Solo. Kabarnya sungai buatan ini oleh Belanda diisi buaya-buaya ganas yang mematikan nyali siapapun yang mencoba kabur dari penjara yang juga dikelilingi tanggul-tanggul yang tinggi itu.

Batapa sebuah kemegahan peninggalan peradpan yang sekarang kita kagumi ternayta jika kita mampu melihat dengan akca mata dimensi waktu  akan terlihat pengorbanan atau lebih tepatnya korban yang telah diberikan oleh para pendahulu kita. Seyogyanya kta bisa menghormati dan ikut melestarikan apa yang telah mereka berikan buat masa kita yang sekarang. Ingat jargon Bung karno “Jas Merah” Jangan Sekali-kali melupakan Sejarah”. Salam. Jwt.

Ngawi, 20/11/2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar