Selasa, 26 Agustus 2014

LIKA-LIKU KENTRUNG BATE

LIKA-LIKU KENTRUNG BATE 

Team Study Lapangan Antropologi
Salah satu bukti kuatnya pengaruh budaya timur tengah dalam kehidupan masyarakat Indonesia bisa kita dapati di Desa Bate Kecamatan Bangilan Kabupaten Tuban Jawa Timur.

Di desa ini, terdapat sebuah kelompok kesenian kentrung yang konon merupakan warisan dari seorang pujangga Persia yang singgah di desa ini untuk menyebarkan agama islam. Sayangnya seni kentrung dipastikan bakal segera sirna karena tidak ada generasi yang berminat meneruskannya. Suara parau mbah Surati melantunkan syair diiringi oleh alat musik kendang sebentar lagi mungkin sudah tidak bisa lagi didengar oleh telinga kita. Wanita tuna netra di desa Bate kecamatan Bangilan kabupanten Tuban ini, sudah terlalu renta untuk mampu bertahan bersama keseniantradisional kentrungnya. Tidak ada seorangpun anak yang dimiliki oleh perempuan berusia kurang lebih 100 tahunan ini. Ia hidup sebatang kara dirumahnya yang sangat sederhana. Suaminya sudah meninggal terlebih dahulu dari padanya. Dia hidup dengan bergantung pada job kentrunnya. Namun dengan beriringnya waktu dan merangkaknya era modernisasi, seni kentrungpun semakin terpinggirkan dan semakin jarang masyarakat yang mau mendatangkan satu-satunya grup kesenian kentrung yang masih eksis hingga zaman sekarang ini disetiap ada acara hiburan. Lagu kentrung Bate pada masanya sangat popular dan termasuk grup kesenian yang digandrungi oleh masyarakat kabupaten Tuban.

Kentrung Bate adalah satu-satunya kesenian kentrung di kabupaten Tuban,  sayangnya keberadaanya semakin tersingkir oleh kesenian modern dan terkena dampak era perkembangan. Namun kendati keadaan semakin sulit, mbah Rati dan mbah Samijo (teman main kentrung) tetap setia dengan kentrungnya dibantu oleh mbah Setri (kurang lebih 70 tahunan) yang masih kerabat dekatnya mbah Rati sebagai dalang sekaligus sebagai penabuh kendang keliling dari satu desa kedesa lainnya melantunkan bait-bait syair yang kental dengan aroma Timur Tengah.

Di usianya yang renta ini mbah Surati, mbah Samijo, dan mbah Setri masih sanggup main kentrung hingga ke kabupaten purbolinggo. Untuk sekali pentas mbah surati tidak pernah mematok harga. Namun rata-rata mbah rati dan grupnya mendapat honor 200.000 untuk sekali pentas. Menjalani hidup sebagai pemain kentrung memang tidak ringan. Dalang kentrung harus bersih lahir batin, hingga posisi duduknyapun harus menghadap timur saat mementaskan kentrung ini. Dengan kepercayaan bahwa hidup harus selalu optimis, yakni selalu menyongsong terbitnya matahari. Disamping itu, seorang dalang kentrung harus rela menderita tuna netra dikala usianya senja. Seperti yang dialami oleh mbah Rati. Mungkin karena mitos inilah yang menyebabkan tidak adanya generasi muda yang berminat menjadi dalang kentrung karena takut buta saat usianya tua.  (Bate, 9/5/14. Team Study Lapangan Antropologi  KMI ASSALAM Bangilan Tuban)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar