Kamis, 27 Maret 2014

Gembul Surga Para Kera

www.4bangilan.blogspot.com-Situs Gembul begitu menarik perhatianku, bukan hanya masalah situsnya namun lebih dari itu kelangsungan flora dan fauna yang hidup dalam rengkuhan lembah Gembul layak untuk dipertahankan buat anak cucu kita kelak. Pohon-pohon yang menjulang tinggi entah apa itu jenis dan namanya perlu kita jaga, membutuhkan ratusan tahun lamanya untuk menikmati sensasi sebatang pohon yang besar. Pohon itu tentunya menyimpan banyak kisah yang  tidak kita ketahui, ada banyak rahasia dan misteri pada sebatang pohon yang hanya dengan hati kita bisa merasakannya. 


Pada lembah Gembul geliat kera-kera kecil dapat kita saksikan. Ada yang menggendong anaknya, ada yang baru tumbuh menjadi remaja, dan ada yang telah menjadi kakek-kakek, berloncatan, berayunan, berteriak parau menikmati sisa-sisa alam purba yang tinggal sisa. Entah dulu di Gembul menjadi tempat persinggahan Sang utusan dari Ayodya Hanoman yang membawa pasukan keranya untuk menyerang Alengka, atau mungkin dulu disitulah letak pertapaan dua bersaudara Subali dan Sugriwa sehingga Gembul masih menyisakan kera-kera liar yang layak untuk kita pertahankan populasinya ? yang jelas keduanya tidak betulkan kan !!! namun yang pasti makhluk perimata itu perlu mendapatkan haknya untuk hidup. 

Dari tulisan ini saya bermimpi, Gembul dijadikan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Tuban. Jika tidak dalam skala kabupaten ya minimal menjadi jujugan warga sekitar guna melepas lelah sambil bercanda dengan kera-kera yang tingkah lakunya mirip dengan manusia itu. Di Gembul sangat memenuhi syarat dan layak untuk dijadikan semisal taman wisata atau taman bermain keluarga. Ada sungai yang membelah lembah, ada lapangannya, ada perbukitan jika dibacakan "bim salabim abra gadabra" sedikit saja akan berubah bak taman gantung Babilonia. Apalagi yang kurang, tentu sentuhan-sentuhan tangan yang diberkati Tuhanlah yang mampu menciptakan surga dibalik lembah kapur itu.

Mimpi tinggallah mimpi jika kita tidak bangun, oh..sory tadi saya yang mimpi bukan kita sih, namun kosakata "Saya" adalah kenaifan untuk sebuah proyek besar, perlu memasukkan kata "Kita" guna mendobrak sebuah kebekuan dan kejumudan yang telah memfosil. Kepada siapa dan kepada  apa kita berharap sebuah perubahan. Saya kira sekeramat-keramat Gembul tak akan mampu mencipta dirinya sendiri menjadi taman Sriwedari yang elok dan memikat hati permaisuri Sang Prabu Arjunasasrabahu. Perlu ada sosok Sukrasana-Sukrasana yang mampu memindahkan Taman di kayangan Untarasegara ke jagad mayapada. perlu ada sosok yang mampu mengejawentahkan mimpi menjadi sebuah kenyataan. beranikah kita menjelma menjadi raksasa kerdil yang buruk rupa dan hanya menjadi semacam tumbal oleh kakaknya sendiri Tejomantri ?. (JWT)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar