Sabtu, 04 Januari 2014

Mendung Di atas Langit Bangilan

Mendung Di atas Langit Bangilan

Langit Bangilan tersaput mendung hitam, mendung musim penghujan dan mendung karena padamnya dua bintang penerang  di langit-langit jiwa masyarakat Bangilan.

Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, di penghujung akhir tahun 2013 di awal tahun 2014 Bangilan kehilangan dua sesepuhnya, kehilangan guru spiritualnya, Mbah Yai Uzair Zawawi kapundut di temaram senja tanggal 29 Desember 2013. Semoga Allah mengampuni beliaudan menerima segala amal kebaikan beliau. Belum reda dada ini dirundung mendung duka di pagi yang belum sepenuhnya sempurna saat matahari pagi menyibak tirai kehidupan bersamaan dengan suara kokok ayam A7S ku berdering, nada SMS membawaku membuka handphone, ada SMS dari seorang teman yang mengabarkan bahwa KH. Shondhaji Nasir weden telah merampungkan tugas mulia untuk kembali kepada Yang Maha Kuasa. Tepat tujuh hari setelah meninggalnya Yai Uzair. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un satu lagi Bangilan kehilangan putra terbaiknya.

Jika kita pernah mendengar istilah Rebo Wekasan, yang katanya Allah menurunkan ribuan bala’ di dunia, secara kebetulan Rebo wekasan jatuh pada malam pergantian tahun baru kemarin. Saya kira wafatnya dua ulama Bangilan ini melebihi dari apa yang biasa disebut Rebo Wekasan itu sendiri.

موت العالم موت العالم

“Wafatnya seorang ulama adalah kematian bagi dunia”

Jika seorang Kepala desa atau bahkan seorang presiden meninggal dunia, akan banyak orang-orang yang berebutan untuk menggantikannya. Namun jika ulama wafat, siapakah yang akan menggantikannya ? Adakah kita juga berbondong-bondong untuk menggantikan posisi beliau ? . Imam Ali berkata :

اذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدّها الاّ كلف منه

“Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya”

Langit Bangilan telah berlubang dua, adakah yang akan menutupi dari bala’ yang menimpa ?
Bumi Bangilan telah berlubang dua, tidakkah kita akan terperosok ke lembah kelalaian dan kehinaan ?

Siapakah yang akan berdiri diatas pusara para ulama untuk meneruskan perjuangannya ?
Siapakah yang akan mengayomi umat dan memberikan teladan bagi kehidupan kita ?
Siapakah yang akan menjadi guru ruhiyah bagi para salik dalam bersuluk kepada yang Maha Ghaib ?






Kematian ulama adalah peristiwa yang sangat menyedihkan. Langit pun ikut berduka, bumi merana, hewan-hewan di laut dan daratan ikut merasa kehilangan. Adakah musibah yang lebih besar dari wafatnya para pewaris Nabi ini ?
Rosululloh SAW bersabda :

موت العالم مصيبة لا تجبر وثلمة لا تسدّ وهو نجم طمسٌ وموت قبيلة ايسر لي من موت عالمٍ

“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah keboocoran yang tidak bias ditambali, ia laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya dari padameninggalnya satu ahli ilmu”. (HR. Al-Thabrani, mujam Kabir dan al-Baihaqy dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).

Adakah duka yang lebih mendalam, adakah kesedihan yang mampu merontokkan jantung ini dibanding dari wafatnya ahli ilmu yang bagai bintang dalam gulita ?.

Maka bersiap-siaplah wahai generasi Bangilan untuk memegang tongkat perjuangan para pendahulu kita, mari kita ikat ilmu sebelum ia pergi dari kota yang kita cintai ini. Karena ilmu akan pergi bersama dengan perginya para ulama yang telah mendahului kita. Rosulullah SAW bersabda :

خذوا العلم قبل ان يذهب, قالوا : يا رسول الله وكيف يذهب ؟
 قال : انّ ذهاب العلم ذهاب حملته.

“Pelajarilah ilmu sebelum ilmu pergi ! Sahabat bertanya : “Wahai Rosulullah, bagaimana mungkin ilmu bias pergi ? Rosulullah menjawab : “Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama)”.

Semoga Allah mengampuni kesalahan – kesalahan beliau berdua, dan ditempatkan di sisi Allah yang Maha Mulia. Amien.


Ikut berduka cita @Joyojuwoto

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar