Kamis, 03 Januari 2013

Tahun Baru Tanpa Terompet dan Petasan

Tahun baru identik dengan terompet, petasan, bleyer-bleyeran motor, begadang malam hingga hal-hal lain yang saya sendiri bingung menghubungkan antara makna tahun baru dan semuanya itu. Tahun baru memang sebuah momentum yang sebagian kelompok merayakannya dengan hal-hal yang mengesankan. Walaupun tidak dipungkiri ada sebagian kelompok lain yang melarang merayakan tahun baru. Khususnya tahun baru masehi yang dianggap mengekor kepada kebudayaan barat.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa perayaan tahun baru sering dikaitkan dengan hal-hal yang negatif, sehingga saya juga menyadari akan pendapat kelompok yang melarang mengikuti perayaan-perayaan yang lebih banyak berbau hedon itu. Menghambur-hamburkan uang dan tenaga hanya untuk hal yang tidak bermanfaat. Bukankah Islam melarang kesia-siaan  dan kemubadziran?

Selain itu perayaan tahun baru juga sering diwarnai aksi konvoi jalanan yang mengganggu, dan suara terompet yang memekikkan gendang telinga. Jika diperingatkan minimal mereka akan bilang "Halah lha wong setahun pisan wae kok". (Satu tahun sekali saja kok). padahal dalam Islam juga diajarkan jangan sampai tangan dan lisan kita menyakiti saudara kita.
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
"Orang Muslim (yang sempurna) adalah orang yang kaum muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. (HR. Bukhori Muslim)

Jadi patutkah kita ditengah malam mengganggu saudara kita dengan bisingnya suara knalpot motor dan ramainya bunyi suara terompet yang kita tiup di detik pergantian tahun ?

Saya tidak ingin terlalu ekstrim dan juga tidak ingin terlalu sembrono dalam menyikapi pergantian tahun ini. Tahun baru bagiku tidak jauh beda dengan tahun-tahun biasa. Hanya saja memang ada momentum yang dapat kita ambil manfaat dari pergantian tahun itu. Karena Allah menjadikan pergantian siang dan malam, pergantian bulan, pergantian tahun agar kita  bersemangat beribadah kepada NYA. 

Oleh karena itu untuk meminimalisir hal-hal yang negatif mari menjadikan tahun baru sebagai momentum untuk kebaikan bersama dan mengerjakan hal-hal yang membawa manfaat bagi diri kita dan orang lain pada umumnya. 
Bentuk-bentuk kegiatan itu bisa berupa :
1. Silaturrohmi dengan teman dan handai tolan
2. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah 
3. Mengunjung Perpustakaan
4. Tadabbur alam

Dan lain-lain yang tidak melanggar norma agama dan sosial. Salam. JWT



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar