Rabu, 14 November 2012

Memoar Bulan Suro di Kampungku

Tahun baru menjadi ritual tahunan masyarakat kita. Setidaknya dalam satu tahun kita merayakan acara tahun baru yaitu Tahun baru Masehi dan Tahun baru Muharram atau dalam istilah jawanya bulan Suro. Walau sama-sama tahun barunya namun masyarakat berbeda dalam merayakan dua tahun baru tersebut. 

Untuk yang pertama yaitu tahun baru Masehi biasanya diwarnai oleh keramaian dan hiruk-pikuk yang menyertakan segenap perangkatnya semisal terompet, kembang api, petasan, bahkan sampai bleyer-bleyeran kendaraan bermotor disertai dengan konvoi tak beraturan di jalan-jalan. 

Sedang untuk tahun baru Muharram masyarakat lebih spiritual dan kalem serta khusuk dalam merayakannya. Ada yang sengaja mencari tempat-tempat sepi di tepi sungai, di pantai, goa-goa (mungkin) dan disertai dengan tirakatan dengan tidak tidur semalam suntuk.

Masyarakat dahulu juga banyak menggelar selametan bucu kendit yang biasaya dilakukan di perempatan jalan-jalan, atau mungkin di punden-punden desa. Namun sekarang kelihatannya banyak dilaksanakan di mushola-mushola dan masjid-masjid desa.

Sewaktu saya kecil, tetangga-tetangga saya tiap malam suro sama membuat oncor yang diletakkan di sekitar rumah. Keadaan menjadi terang benderang walau saat itu belum ada lampu listrik. Namun ritual pasang oncor sekarang sudah ditinggalkan. Tidak tahu sebabnya, mungkin tradisi tersebut sudah tidak laku atau mungkin karena jalan-jalan sudah terang oleh lampu listrik.

Begitulah sekilas tradisi malam suro yang sempat saya ingat dari masa kecilku di dusun Singsim Desa Bangilan kecamatan Bangilan.

2 komentar:

  1. Sekedar mampir setelah membaca komentar anda pada blog kecil saya.
    tetap semnagat.

    BalasHapus