Kamis, 20 September 2012

Mengintip Surau Kuno Diyakini Zaman Wali di Gedongombo


Mengintip Surau Kuno Diyakini Zaman Wali di Gedongombo

Lokasi yang kini berdiri masjid Baitul Muttaqin di Dusun Dondong, kelurahan Kedungombo dulunya pernah berdiri surau kuno di zaman kewalian. Satu-satunya jejak yang masih tersisa hanya potongan kayu bertuliskan candrasengkala sepanjang setengah meter.

Kayu bertuliskan candrasengkala tersebut ditempatkan persis di bagian atas kusen pintu tengah masjid. Persisnya di atas ukiran kaligrafi yang menghiasi bagian atas pintu. Karena ukurannya lebih kecil, sejarah kayu yang dibiarkan alami tanpa sentuhan pernis maupun cat tersebut seperti tenggelam. Selama ini luput dari perhatian. Candrasengkala adalah lambang angka yang pada zaman dahulu diperguanakan untuk sandi penulisan tahun. Dalam ilmu sejarah, ini lazim untuk penulisan berdirinya sebuah kerajaan, runtuhnya suatu kerajaan, meninggalnya raja dari suatu kerajaan, tahun pembuatan suatu karya sastra atau bangunan, dan lain sebagainya. Tak jelas mana candrasengkala yang dipaku kedua ujungnya pada bagian atas kusen pintu tersebut.

Kantari (70), salah satu tokoh masyarakat setempat mengatakan, dulu ada yang menterjemahkan candrasengkala tersebut bertuliskan tahun 1216. “seingat saya ya itu”, kata dia sambil menerawang hal-hal yang pernah diingat. Menurut Kantari, selain candrasengkala masjid kuno tersebut juga menyisakan beberapa ruas sirat atau genting kayu. Dulu, setelah masjid beberapa kali direnovasi, sirat tersebut dipasang pada bagian belakang masjid. Untuk menunjukkan sirat tersebut, pensiunan guru ini kemudian mengajak koran ini ke bagian belakang masjid. Setelah ditelisik, sirat tersebut tak ditemukan.

Diceritakan Kantari, surau tersebut dulunya beratap sirat. Pada renovasi pertama, bagian atap diganti welit atau anyaman daun kelapa. Kemudian, pada renovasi berikutnya diganti genting. Bangunan asli surau ini berdinding anyaman bambu. Tingginya hanya separotubuh (sekitar 75 cm). Karena lapuk dimakan usia, anyaman bambu diganti tumpukan batu. Hanya lantai yang seingat dia tidak direnovasi. Dibiarkan apa adanya, tanah yang dipadatkan. Untuk alas sholat, digunakan ketepe atau anyaman daun kelapa. Karena sudah berumur ratusan tahun, hanya sebagian kayu konstruksi bangunan surau yang masih tersisa. Salah satunya potongan kayu bertuliskan candrasengkala. Sebenarnya sebelum didirikan bangunan masjid baru, surau kuno tersebut masih menyisakan pintu gerbang atau gapura di bagian selatan pintu halaman surau. Bangunan gapura menyerupai candi tersebut juga dibongkar total ketika renovasi pagar masjid. Satu saksi bisu sejarah lainnya adalah pohon randu alas di timur masjid. Pohon berusia ratusan tahun yang tumbuh raksasa tersebut dibiarkan menaungi halaman masjid dan sekiratnya.

Kaslik, 53, takmir masjid setempat mengatakan, banyak versi sejarah terkait surau kuno tersebut. Salah satu versi menceritakan kalau bangunan surau tersebut terkait sejarah Syeh Siti Jenar atau yang dikenal dengan Mbah Buyut Pangeran Gedong yang jasadnya dimakamkan di belakang masjid Baitul Muttaqin. Dusun Dondong memiliki sejumlah tempat yang diyakini terkait aktivitas siar Islam. Salah satunya, keberadaan tiga sumur kembar. Sumur pertama yang bernama Sumur Tengah berada di selatan masjid Baitul Muttaqin. Kelebihan sumur ini adalah airnya selalu hangat dan tidak pernah surut meski kemarau. Sementara sumur kedua bernama Giling yang berada di selatan masjid. Sumur berikutnya bernama Sumur Lor di utara masjid.

Selain sumur, cerita tutur masyarakat setempat mengaitkan surau kuno tersebut dengan dua makam keramat lain di dusun setempat. Pertama, makam Pengulu Atas Angin yang dikenal dengan Brawijaya dan makam Syeh Maulana Ishak Maghribi. “Kalau menilik namanya mereka adalah auliya yang siar agama di tanah Jawa.,” tambah Slamet, 56, tokoh masyarakat lainnya. Begitu bertuahnya petilasan surau dan makam-makam yang melingkupi, salah satu tokoh nasional di zaman orde baru kerap datang untuk berziarah. Dia adalah Murdiono. “Seingat saya, pada  1994, dia kesini,” tambah Slamet. (Tulisan ini pernah dimuat di Radar Bojonegoro, Minggu 22/7/2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar