Sabtu, 15 September 2012

Mempertahankan Kearifan Lokal Perlukah ?


Mempertahankan Kearifan Lokal Perlukah ?

            Kearifan lokal (wisdom local) sebagai salah satu kekayaan budaya perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Apalagi di era sekarang dengan gencarnya gempuran budaya asing yang begitu deras melanda masyarakat kita sisa-sisa kearifan budaya lokal itu mulai memudar. Sifat dan tindak tanduk adat ketimuran kehilangan pijakan dan tampak gamang meniti tangga-tangga modernitas.
            Bagaimana tidak pemuda dan pemudi yang notabenenya adalah pewaris kebudayaan masyarakat serasa jauh buah jatuh dari pohonnya. Tanyalah pada pemuda atau pemudi yang kau temui disetiap persimpangan jalan atau di warung-warung kopi atau di tempat-tempat cangruk atau mungkin tengoklah isi BB atau HP mereka, adakah mereka menyimpan file-file yang berbau budaya lokal, katakanlah wayang, langen tayub, kethoprak atau yang dekat-dekat dengan hal tersebut. ? Saya tidak sedang bernostalgia tentang zaman batu atau zaman kuno tapi pada kenyataannya memang itulah yang menjadi kenyataan.
            Budaya Pop budaya Band lebih akrab dengan telinga dan mulut kita, saya rasa bunyi grembembyengnya pagelaran boyband tak lebih nyes dibanding kemlungkungnya gamelan di pertengahan malam mendayu bisu menelusuri lorong-lorong sepi jiwa kita. Ya mungkin ini hanyalah pengalaman batin pribadiku saja.Tapi lihatlah dengan mata kearifan batin sebagai masyarakat yang berbudaya ketimuran ada sisi-sisi kosong dalam jiwa ketika kita sedang histeria massal mengelu-elukan artis pujaan kita. Dan perbandingannya dari dulu hingga sekarang tidak ada itu yang namanya histeria dengan dalang wayang kulit atau dengan pesinden sebuah pagelaran langen tayub.
            Mendalang  sebuah pegelaran wayang ataupun menjadi pesindennya tidak hanya sekedar aktivitas fisik semata namun ada sisi-sisi religi yang harus dipenuhi, semisal sebelum mendalang seseorang harus berpuasa terlebih dahulu harus tarak brata dalam istilah jawanya. Jadi sebuah pagelaran budaya lebih bersifat spontanitas dan mengalir natural sesuai kehendak keadaan. Lain dengan pagelaran-pagelaran modern sekarang semuanya serba hitungan materi dan serba mempersiapkan diri. Ada latihan lah ada gladi kotor lah, gladi bersih lah, tidak pernah kan kita lihat Mbah Dalang dan Panjaknya sedang gladi resik.
            Jadi saya berharap pemerintah punya tanggung jawab guna melindungi dan melestarikan budaya nenek moyang  yang sudah terserak di pelataran sejarah, dengan menggalakkan pendidikan kebudayaan di lingkup lembaga pendidikan, maupun secara langsung mensuport para pelaku seni yang mungkin masih tersisa di tengah masyarakat kita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar