Selasa, 18 September 2012

Mbah Buyut Engkrek dan Masjid di Klopoduwur Blora


Nama Buyut Engkrek atau sebagian menyebut Mbah Engkrek sangat dikenal di Blora. Apalagi di komunitas Sedulur Sikep yang masih teguh mengamalkan dan menjalankan ajaran Samin. Mbah Engkrek adalah tokoh penyebar ajaran Samin di Klopoduwur dan sekitarnya. Mbah Engkrek tinggal di Desa Klopoduwur Kecamatan Banjarejo. Rumah peninggalannya kemudian menjadi masjid yang sampai sekarang masih kokoh berdiri.

Masjid Baitul Hadi sendiri dibangun sektar 1980-an, namun sejarah yang menyertainya cukup menarik. Sebab masjid yang berada di belakang kantor desa Klopoduwur itu, berasal dari rumah peninggalan Mbah Engkrek. Tokoh yang satu ini dikenal sebagai sosok yang santun sekaligus misterius dan sakti. Sehingga rumah peninggalannya pun bertuah. Bagi warga Klopoduwur, tuah rumah peninggalan Mbah Engkrek tidak diragukan. Banyak kejadian yang diluar jangkauan akal manusia terjadi di rumah ini, sebelum dijadikan masjid.

Mbah modin Kasturi, 72, modin di Klopoduwur menuturkan, jika banyak kejadian aneh kala rumah Mbah Engkrek belum dijadikan masjid. Kasturi yang nama sebelumnya adalah Samijan ini adalah saksi sekaligus oelaku sejarah di Klopoduwur. Berdirinya masjid tersebut, juga ada peran modin sepanjang masa di Klopoduwur ini.

Modin Kasturi adalah santri Kiai Latif, tokoh agama di Klopoduwur yang tinggal di Dukuh Sale, selain berilmu agama yang tinggi, Kiai Latif juga dikenal sakti. Kiai Latif inilah yang mengubah nama Samijan menjadi Kasturi. Saat itu, ujar Modin Kasturi, sekitar tahun 1970 an, saat Klopoduwur dipimpin Kades Karyodiharjo, mulai ada ide membangun masjid. “Namun Kyai Latif saat itu menyatakan belum waktunya.” Ujar Modin Kasturi.

Untuk itu, Kiai Latif dan Kasturi berdiskusi dengan KH. Syahid di Kemadu, Sulang, Rembang serta beberapa kiai lainnya di Jawa. Namun memang masih harus menunggu waktu yang tepat. Sebab rmah peninggalan tokoh yang dikenal sakti itu tidak bisa dengan mudah digunakan. “Meski usianya sudah ratusan tahun, namun tali tutus (tali dari batang bambu muda yang dikerat) yang digunakan untuk tali kayu tidak putus,” katanya.

Kiai Latif, ungkap Modin Kasturi, pernah menyatakan, kalau rumah Mbah Engkrek itu akan menjadi masjid yang ramai. Kasturi yang saat itu masih muda diminta menjadi saksi dan membenarkan ramalannya itu.

Asal-usul Mbah Engkrek
Siapa sebenarnya mbah Engkrek ? dari cerita tutur, termasuk penuturan dari Mbah Modin Kasturi dan kiai Suyuti, putra dari Kiai Latif, Mbah Engkrek bukanlah orang sembarangan. Mbah Engkrek yang punya nama asli Raden Singgih adalah Senopati dari Mataram yang diberi tugas oleh kerajaan sehingga sampai ke Klopoduwur. Menurut Kiai Suyuti, Raden Singgih mempunyai nama santri Ali Maksum merupakan waliyullah yang menyebarkan kebajikan. Salah satunya adalah ajaran Samin.

Kesaktian Mbah Engkrek juga bisa digali dari penuturan warga di Klopoduwur. Ketika wafat, sebagaian besar meyakini makam Mbah Engkrek tidak di Klopoduwur, namun dipemakaman para raja dan kerabat kerajaan di Imogiri, Jogjakarta. (Tulisan ini pernah dimuat di Radar Bojonegoro, Senin 13/8/2012)

1 komentar:

  1. Aslm,kebetulan kiai Latif adalah pakde sy (mempunyai adik Abdul Chamid sebagai ortu sy) kiai Suyuti adalah saudara sepupu, memang benar cerita di atas. Hal ini pernah di ceritakan sendiri kepada sy oleh mas Sunjoto, yg pernah tinggal di sale. Sekarang mas sy tinggal di catak tunjungan Blora. Salam kepada keluarga kiai Latif dan keluargaMbah Modin Kasturi.

    BalasHapus