Rabu, 19 September 2012

Masjid Sunan Sendangduwur


Masjid Sunan Sendangduwur

Komplek Sunan Sendangduwur di Desa Sendangduwur Kecamatan Paciran menyimpan sejarah Islam  dan arsitektur yang tinggi. Apalagi ditunjang dengan pemandangan alam yang indah karena lokasinya berada di atas bukit Amintuno yang bisa melihat pesisir laut Jawa.

Komplek Sunan Sendangduwur tersebut terdiri atas dua bagian. Yakni komplek masjid dan makam yang berada di barat masjid. Bangunan gapura bagian luar berbentuk Tugu Bentar dan gapura bagian dalam berbentuk Paduraksa. Sedangkan dinding penyangga cungkup makam dihiasi ukiran kayu jati yang bernilai seni tinggi dan sangat indah. Dua buah batu hitam berbentuk kepala Kala menghiasi kedua sisi dinding penyangga cungkup.


Arsitektur bangunan masjid dan makam merupakan perpaduan arsitektur Islam dan Hindu-Budha dan pernah meraih penghargaan objek wisata berasitektur  terbaik tingkat Jawa Timur.

Sunan Sendangduwur bernama asli Raden Noer Rahmad adalah putra Abdul Kohar bin Malik Bin Sultan Abu Yazid yang berasal dari Baghdad. Raden Nur Rahmad lahir tahun 1320 M dan wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini dapat dilihat pada pahatan yang terdapat di dinding makamnya.

Dia tokoh kharismatik yang pengaruhnya dapat disejajarkan dengan Wali Songo pada saat itu. Sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa tidak bisa dipisahkan dari sejarah Sunan Sendangduwur. Data dari berbagai sumber menyebutkan, masjid kuno itu mneyimpan sejarah yang berbeda dengan pembangunan masjid lainnya. Sebab, tempat ibadah umat Islam ini tidak dibangun secara bertahap oleh Sunan Sundangduwur, melainkan melalui suatu kemu’jizatan. Berawal ketika Raden Noer Rahmad diwisuda oleh Sunan Drajad sebagai Sunan. Setelah mendapat gelar Sunan, Raden Noer Rahmad berharap bisa mendirikan masjid di desanya. Karena tidak mempunyai kayu Sunan Drajad menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat (mbok Rondo Mantingan) di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid.

Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggono dari Keraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadliri Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi bupati Jepara, Raden Thoyib tidak lupa bersyi’ar agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di wilayahnya pada tahun 1531 M.  yang terbuat dari kayu jati pilihan. Setelah itu Sunan Drajad memerintahkan Sunan Sendangduwur pergi ke Jepara untuk menanyakan masjid tersebut. Tapi Mbok Rondo Mantingan tidak menjual masjid itu. Suaminya (saat itu sudah meninggal, Red) berpesan siapa saja yang bisa memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan diberikan secara Cuma-Cuma.

Dengan izin Allah, dalam waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amintuno Desa Sendangduwur oleh Sunan Sendangduwur. Masjid sendangduwur pun berdiri disana, ditandai dengan surya sengkala yang berbunyi “Gunaning seliro tirta hayu” yang berarti menunjukkan angka tahun baru 1483 Saka atau tahun 1561 M.

Masjid itu dibawa dengan perahu dan mendarat di pantai yang terdapat karang berbentuk katak kemudian diberi nama Tanjung Kodok. Dari pantai Tanjung Kodok masjid dibawa ke atas bukit amintuno namun ada pintu dan jendelanya yang tercecer (cicir=Jawa) sehingga wilayah itu kemudian bernama Paciran.

Di komplek masjid itu ada sendnag atau sumur yang tidak pernah kering sehingga Raden Noer Rahmad dijuluki Sunan Sendangduwur. (Tulisan ini pernah dimuat di Radar Bojonegoro )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar