Selasa, 19 Juni 2012

Membenarkan Peristiwa Isra' dan Mi'raj


Isra’ adalah perjalanan yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Malaikat Jibril pada malam hari dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha (Baitul Maqdis) di Palestina. Perjalanan sejauh ini ditempuh oleh beliau dengan mengendarai Buraq, sejenis hewan yang berwarna putih, panjang, ukurannya lebih besar daripada keledai dan lebih kecil daripada baghl (peranakan kuda dengan keledai). Dengan kekuasaan Allah Ta’ala, hewan ini mampu melangkahkan kakinya sejauh mata memandang.
Adapun mi’raj adalah peristiwa naiknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari bumi menuju Sidratul Muntaha, untuk kemudian berjumpa dengan Allah Yang Maha Tinggi dan menerima kewajiban shalat lima waktu sehari semalam.

Tentang kejadian Isra' Mi'raj ini terjadi sekitar tahun ke 10 kenabian, yaitu setelah Nabi Muhammad SAW, tertimpa masa kesedihan yang mendalam, beliau ditinggal wafat oleh orang-orang terkasihnya sekaligus pelindungnya dalam berdakwah yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Tahun itu juga sering disebut sebagai "amul Huzni". 
Isra' Mi'raj adalah termasuk salah satu dari tanda kenabian, karena dalam peristiwa ini mengandung kemu'jizatan Rosulullah SAW. Banyak masyarakat kala itu yang meragukan peristiwa agung ini, sehingga tidak sedikit orang-orang yang imannya setengah-setengah akhirnya goyah imannya terprovokasi oleh kaum kafir. 
Memang rangkaian peristiwa isra' mi'raj diluar jangkauan akal manusia, sehingga tidak heran jika banyak yang meragukannya, namun lihatlah apa yang dikatakan oleh Abu Bakar,"Demi Allah, jika itu yang Muhammad katakan, sesungguhnya ia berkata benar. Apa yang aneh bagi kalian ? Demi Allah, sesungguhnya ia berkata kepadaku bahwa telah datang kepadanya wahyu dari langit ke bumi hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang dan aku mempercayainya. Inilah puncak keheranan kalian ?"

Kemudian Abu bakar mendatangi Rosulullah dan meminta beliau bercerita tentang ciri-ciri Baitul Maqdis. Setelah Rosulullah seleai bercerita lalu Abu Bakar berkata, "Engkau berkata benar. Aku bersaksi engkau adalah utusan Allah". Rosulullah SAW. menjawab, "Engkau Abu Bakar adalah Ash-Shiddiq".

Lalu bagaimana kita hari ini ? bagaimana sikap kita terhadap seluruh ajaran Islam ? apakah kita masih meragukannya ataukah kita mempercayainya sebagaimana sikap Sahabat Abu Bakar ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar