Minggu, 11 Maret 2012

Renungan Sebelas Maret

Sebelas maret yang saya maksud disini bukan sebelas maretnya sejarah pemerintahan kita, namun sebelas maret dalam ruang lingkup yang lebih kecil yaitu sejarah almamater pondokku tercinta ASSALAM BANGILAN TUBAN INDONESIA. Sebelas maret adalah hari bersejarah yang patut dikenang oleh santriwan-santriwati ASSALAM Bangilan, karena pada hari ini terjadi sebuah revolusi, terjadi sebuah perubahan, dari ASSALAM yang berlokasi di Sidokumpul hijrah ke jantung kota Bangilan tepatnya di dusun Ngrayung, pada tanggal 1 Maret 1995. Walau sebenarnya kelahiran ASSALAM jauh sebelum tahun itu tetapi hal ini patut kita ingat dan menjadi tonggak sejarah, karena pada fase inilah ASSALAM berhasil mengawinkan madrasah dan pondok dalam satu lokasi.


Saya adalah termasuk saksi sejarah hijrahnya ASSALAM era ini, ketika itu saya masih duduk dikelas 2 tingkat MTs. Bapak Yai saat itu menempati rumah yang  berada dibagian timur lokasi pondok (komplek pondok putri sekarang) rumahnya sangat sederhana dan tidak berubah hingga sekarang.

Gedung-gedung ASSALAM juga belum banyak seperti saat ini, waktu itu baru ada dua gedung di sebelah utara dan selatan gapura yang difungsikan sebagai, madrasah, kemudian kantor Bapak Kyai  dan gedung yang sekarang berada di selatan masjid yang difungsikan sebagai asrama pondok santri laki-laki. 

Waktu itu ASSALAM sangat sederhana dan bersahaja, masa-masa prihatinnya Kyai dan santri. Tidak seperti sekarang santriwan-santriwati sudah bisa menikmati berbagai fasilitas yang mencukupi walau mungkin juga banyak kekurangan dan belum sempurna. Seperti dapur makan, kantin, kamar mandi, lapangan olahraga, masjid dan lain sebagainya, walaupun demikian jiwa prihatin tetap terus ditanamkan kedalam jiwa santri ASSALAM.

Santri dulu kalau makan itu harus memasak sendiri, liwetanlah istilahnya dengan lauk seadanya, dan memang hanya itu yang ada yaitu sambel korek. Setelah shubuh santri-santri harus ngliwet berkejaran dengan waktu untuk masuk sekolah tentunya, jika siang hari tidak bisa langsung makan siang karena juga harus sabar menunggu masakan matang, karena sekali masak ya sekali habis tanpa sisa, karena makannya berjamaah. Satu hal yang lucu dalam dunia masak adalah ketika musim pemghujan dan tidak ada kayu kering untuk masak maka dengan mengendap-endap si juru ngliwet akan mengambili sandal teman-temannya untuk dijadikan sebagai pengganti kayu bakar...yah pakai rumusnya pramukalah "Tidak ada kayu bakar sandal jepit temanpun jadi" ....

Ya begitulah dinamika kehidupan di pesantren, namun lambat laun keadaan berubah, hingga seperti yang sekarang ini. Namun kadang dalam batinku sendiri merindukan keadaan ASSALAM seperti dulu. 
ASSALAM yang ndeso
ASSALAM yang Sederhana
Dan ASSALAM yang bersahaja

Kerinduan ini bukanlah kerinduan seorang yang anti kemajuan, tetapi kerinduan sebuah nostalgia kenangan yang menenangkan, yang damai, yang relegius dan khusuk, lepas dari hiruk-pikuk kemajuan yang kadang hanya berupa fatamorgana saja.

YA aku ingin mencium ASSALAM yang seperti dulu
ASSALAM dengan lambaian pohon kelapanya
ASSALAM dengan  pohon jambu klutuknya yang berbuah lebat
ASSALAM dengan air kalen dari sungai yang jernih
Yang kadang dijadikan pengganti kamar mandi oleh para santri-santri
ya... ASSALAM yang kampung damai...

Aku berdo'a di malam sebelas Maret ini, semoga ASSALAM menjadi sepotong kerinduan juga di hati para santri yang pernah menghirup udara ASSALAM, yang pernah meminum air kehidupan ASSALAM, yang pernah menginjakkan kakinya di bumi Kampung Damai ASSALAM. amien..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar