Senin, 20 Februari 2012

Mbah Sonto Ratu Kethoprak

Mbah Sonto bukanlah siapa-siapa, beliau hanyalah salah seorang kakek tua yang mungkin banyak kita jumpai di tengah-tengah kita. Namun sangat bijak bila kita mampu berkata bahwa rumput-rumput di jalanan nilainya sama halnya dengan bintang-bintang di langit, sebutir pasir pun memiliki peran yang penting bagi megahnya sebuah bangunan. Begitu juga kira-kira dengan mbah Sonto menurut pandangan saya, walau mungkin tidak ada orang yang mengenal beliau kecuali para tetangganya saja, mbah Sonto tetaplah orang yang punya peran dan arti buat hidup ini khususnya dirinya dan keluarganya tentunya. 

Saya bertemu beliau ketika saya dolan kerumah teman yang ada di wilayah Kecamatan Kenduruan, tepatnya di desa Wonorejo atau masyarakat sering menyebutnya desa Gladrah. Perkenalan tersebut diawali ketika saya dan teman saya sedang ndegan (minum kelapa muda) dan kebetulan tidak ada parang untuk mengupas buah kelapa, rumah mbah Sonto yang berada tepat di depan rumah saya dengan setengah berteriak menawarkan parang kepada kami. Melihat saya adalah orang yang belum beliau kenal beliau pun berbasa-basi menanyakan nama, tempat tinggal saya dan sebagainya. Seperti kebanyakan orang tua senang dan respek sekali jika diajak ngobrol, mungkin secara psikologi orang tua merasa dihargai dan dianggap bila ada yang mengajaknya ngobrol. beliau dengan tanpa saya minta menceritakan masa-masa mudanya yang berpetualang njajah deso milang kori pergi dari satu tempat ke tempat lain. Beliau masa mudanya adalah seorang pemain kethoprak keliling, jika sedang tanggapan (undangan main kethoprak) biasanya mbah Sonto di dapuk menjadi Ratu dalam permainan kethoprak, begitu akunya dengan bangga. Menjadi ratu atau raja memang membanggakan walau hanya raja dalam kethoprak, menjadi raja berarti dilayani oleh para abdinya, dihormati, perintahnya adalah sabda yang menjelma menjadi kitab suci, tidak heran jika orang-orang dikehidupan nyata pun sama-sama berlomba untuk menjadi raja, karena dalam imagenya raja adalah sebagaimana peran di kethopraknya mbah Sonto tersebut. 
  
Jarang kepemimpinan (raja) adalah sebuah amanah yang harus di tunaikan, jarang orang berfikiran kepemimpinan adalah melayani masyarakat yang dipimpinnya, masyarakat kita masih seperti masyarakat kethoprak jika menjadi raja maka akan seenaknya, ya mengenakkan dirinya dan keluarganya tentunya. Begitulah kira-kira pesan yang dapat saya tangkap dari percakapan kami dengan mbah Sonto. Satu lagi obrolan mbah sonto yang sampai sekarang masih menjadi misteri bagi saya adalah ketika mbah sonto menceritakan masa kecilnya, saat itu beliau mengaji kepada seorang Kyai di kampungnya. Pada suatu kesempatan sang Kyai memanggil mbah Sonto kecil kemudian mengajaknya duduk di balai-balai bambu dirumah sang Kyai, saat itu sang Kyai sedang memegang sebuah kitab suci Al Qur'an kemudian berkata  keada mbah sonto kecil " Angger Sonto delok-en kitab Al Qur'an sing gedhene sak bantal iki, sak njerone kitab suci kuwi sejatine mung karingkes sak huruf yoiku ALIEF." begitu kata sang Kyai. Kemudian Sang Kyai melanjutkan wejangannya, "Dadi wong ngaurip ning alam dunyo kuwi kudu bisa jumeneng koyo huruf alief, maknane alief jeber A, alief Jer-e I, alief pesek U, yang jika dibaca lengkap menjadi AIU, yang memiliki arti Aku Iki Urip. Begitu yang diceritakan oleh mbah Sonto saat itu yang saya juga belum mampu menangkap dan menjabarkan maknanya apalagi harus mengejawentahkannya dikehiduan nyata seperti pesan sang Kyai diatas. Jika diantara kawan-kawan bisa share tentang filosofi alief tersebut diatas silahkan diwedar. Sumonggo. jwt

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar