Minggu, 15 Januari 2012

Sekolah Pencuri

Pada kesempatan ini saya akan menuliskan “omong klobot” dengan pak lek saya. Obrolan ngalor-ngidul tanpa tema. Obrolan ini terjadi saat saya dolan lebaran tahun lalu (1432 H). Ditemani segelas teh dan dan camilan ala lebaran rasanya cukup menyegarkan obrolan malam kami.


Satu hal yang dapat saya petik dari obrolan malam itu, ternyata pak lek saya yang tidak pernah mengenyam dunia pendidikan kecuali hanya SD yang tidak lulus itu punya pandangan yang cukup menggelitik saya. Menurutnya sekolah itu penting bahkan teramat penting. Penting dalam arti bukan seperti pentingnya sekolah menurut pandangan masyarakat pada umumnya. Sudah menjadi hal yang lumrah di desa-desa orang yang sekolah itu biar jadi tentara , jadi guru negeri, jadi pegawai pokoknya ala pandangan kolonialis jaman dulu ketika membuka sekolah untuk masyarakat pribumi, yang tujuannya  bisa mendapatkan pegawai  kemudian bisa digaji rendah dan dijadikan jongos mereka.

Menurut pak lek saya semua orang itu harus sekolah, tidak peduli mau jadi apa besok. Karena dengan sekolah seseorang akan maju dan bisa berfikir luas dan tidak mudah dibohongi. Pencuri pun harus sekolah selorohnya. Kelihatan lucu memang, tapi itu kenyataan kan ?. Pak lek saya mencontohkan dirinya sendiri yang tidak pernah sekolah hingga tuntas, “Nek aku arep nyolong paling banter yo mung iso njupuk sepeda onthel” katanya. Coba kalau dulu sekolah  pasti bisa mencuri lebih daripada itu. Dan pencuri yang sekolah nasibnya tidak akan sama dengan pencuri-pencuri kelas teri. Sudah hasilnya kecil resikonya digebuki wong sak kampung, ya minimal 3 bulan menginap di hotel prodeo.

Jika pencuri mau sekolah, mau pinter tentu  bisa mencuri bukan sekedar onthel, kalau perlu pabriknya onthel bisa dicuri. Seperti para oknum pejabat kita yang bermasalah, yang korupsi mereka adalah pencuri yang sekolah. Kemana-mana pakai dasi, dihormati, masuk TV, tapi ya mereka sebenarnya tetaplah seorang pencuri. Atau jangan-jangan sekolah dibangun memang untuk mencetak pencuri ya ? (mari koreksi dan instropeksi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar