Kamis, 12 Januari 2012

Kearifan Sang Bapak

Bapak yang akan saya ceritakan disini bukanlah bapakku, tetapi salah satu bapak dari temanku. Cerita ini saya nukil dari obrolan malam dengan Mas Syahid. ( Pencuri buku ? ). Beliau menceritakan sepenggal kisah kenangannya dengan suwargi bapaknya. Masih teringat hingga kini salah satu pesan dimasa kecilnya "Hid ojo pisan-pisan kowe kuwi ngurungi manuk" (Hid jangan sekali-kali kamu mengurung burung) Kata beliau. Pesan itu oleh mas Syahid di ingat dan dipatuhi hingga sekarang. Ini terbukti di rumahnya tidak ada seekor pun burung yang dikurung dalam sangkar.



Pesan ini walau kelihatannya sederhana tetapi sejatinya mengandung makna yang dalam, burung adalah hewan yang lemah, dengan sesuatu yang lemah  harus kita kasihi dan kita hormati kehidupannya. Masing-masing makhluk hidup didunia ini punya hak yang sama dengan kita. Sama-sama ingin hidup bebas sesuai dengan kodrat yang telah ditentukan alam. Dalam falsafah jawa dikatakan " Asih marang sapodho padhaning tumitah". Kita sama-sama hamba hendaknya saling mengasihi dan saling menebar kedamaian.

Jika kita sayang kepada sesama tentu hukum timbal balik akan kita dapat pula,  menyanyangi kita juga. Hal ini dilihat sendiri oleh mas Syahid terhadap suwargi bapaknya, salah satu hal yang ia ketahui tentang bapaknya adalah ketika mas syahid kecil ia sering melihat bapaknya memanggil burung liar dengan siulan dan memberi makan burung, dengan santainya burung tersebut bertengger di tangannya, burung itu seakan jinak dan tak menaruh rasa takut sedikitpun. Hal lain yang ia kagumi juga ketika mas syahid kecil ikut matun (menyaingi tanaman padi dari rumput liar) di sawah pada malam hari, banyak ular hijau yang mendekat namun oleh sang bapak ular itu tidak di sakiti, hanya di pinggir-pinggirkan begitu saja tanpa takut untuk digigit ular. Mas syahid juga masih ingat betapa marahnya sang bapak ketika diketahui ia sedang ngencup kinjeng (menangkan capung) untuk digunakan bermain-main, sang bapak membentaknya, "Hid  opo awakmu gelem nek tak bondo ngene iki ? (Hid apa dirimu mau jika saya ikat tanganmu seperti ini ? ) sambil memegang tangan mas Syahid kebelakang punggungnya. Hingga kini pesan sang bapak itu diingatnya selalu.

Begitulah jika kita mengasihi sesama tentu kita juga akan dikasihinya pula.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar