Selasa, 20 Desember 2011

MENGEMBANGKAN SIKAP KEPEDULIAN TERHADAP BAHASA, DIALEK DAN TRADISI LISAN



A.                MENGEMBANGKAN SIKAP KEPEDULIAN TERHADAP BAHASA, DIALEK DAN TRADISI LISAN
Bahasa, dialek dan tradisi lisan merupakan satu kesatuan. Tradisi lisan menunjukkan identitas dialek dan bahasa penuturnya. Tradisi lisan merupakan tradisi masyarakat sebelum mengenal tulisan yang dituturkan secara turun temurun, dan dari mulut ke mulut (secara lisan dan bahasa mulut), namun keberadaannya tetap eksis (berkembang) sampai dengan zaman sekarang ini.

1.   Faktor-Faktor yang menghambat perkembangan bahasa, dialek, dan tradisi lisan
a.      Faktor pertama adalah semakin pesatnya kemajuan yang dapat memberikan
kemungkinan bagi terjadinya saling pengaruh antara masyarakat bahasa yang bersangkutan. Biasanya masyarakat bahasa dengan jumlah penutur yang besar akan menekan dan menghimpit masyarakat bahasa yang jumlah penuturnya lebih sedikit. Lama kelamaan hal ini akan dapat menyebabkan punahnya bahasa, dialek dan tradisi lisan masyarakat bahasa yang bersangkutan. Karena kalah bersaing dengan bahasa, dialek dan tradisi lisan dari masyarakat bahasa dengan jumlah penutur yang lebih besar.
b.      Faktor kedua adalah sukarnya mempertemukan titik temu antara bahasa nasional dan bahasa daerah. Kedudukan sebagai bahasa Negara dan  lingua franca, bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang digunakan di sekolah dari berbagai tingkatan. Sehingga hampir setiap anak sekolah di Indonesia dapat berbahasa Indonesia. Hal ini, jelas mengurangi penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari
c.      Faktor ketiga adalah keberadaan teknologi komunikasi dan media informasi yang sangat dominan dengan bahasa Indonesia dan bahasa asing.
2.   Wujud kepedulian terhadap bahasa, dialek, dan tradisi lisan
1.        Ikut menjaga dan melestarikannya dalam kehidupan nyata. Banyak hal yang dapat dilakukan, diantaranya menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan berkeluarga, menghimpun dan mengoleksi berbagai tradisi lisan daerah sendiri, dan sebagainya.
2.        Menghormati bahasa, dialek, dan tradisi lisan masyarakat lain. Dalam hal ini kita harus mengembangkan sikap toleransi, membiarkan dan menghormati orang-orang yang berbicara dalam bahasa sukunya. Tidak perlu tersinggung dan berburuk sangka.
3.        Mengembangkan potensi bahasa, dialek, dan tradisi lisan yang ada di lingkungan masyarakat sekitar. Banyak hal yang dapat kita lakukan, mungkin kita sudah harus memasukkan bahasa daerah kita pada teknologi komunikasi, seperti hand phone, dapat juga dilakukan dengan membuat tayangan bahasa daerah di televisi saluran daerah dan nasional, serta mengajarkan bahasa daerah serta mementaskan tradisi lisan di sekolah-sekolah, dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar