Kamis, 20 Januari 2011

ZAMAN KELAHIRAN ISLAM


ZAMAN KELAHIRAN ISLAM
A.      KEHIDUPAN AWAL NABI MUHAMMAD
1.      Nasab Nabi Muhammad SAW
Quraisy adalah sebuah keluarga terhormat dari keturunan Ismailiyah. Salah satu keturunan nabi Ismail terdapat seorang yang berkuasa bernama Fihr yang nama lainnya adalah Quraisy. Pada abad ke 5M salah seorang keturunan Quraisy (Fihr) yang bernama Qusay berhasil menyatukan suku-suku Quraiys yang bertempat tinggal di Hijaz dan menjadi penguasa Ka’bah.
Kemudian mereka mendirikan Dar an-Nadwah (gedung musyawarah) sebagai tempat berkumpulnya pemuka-pemuka suku Quraisy memusyawarahkan kepentingan umum. Di tempat ini pula Qusay menjalankan urusan administrasi pemerintahannya. Qusay adalah seorang penguasa yang cakap dan bijaksana.
Sepeninggal Qusay, anaknya yang bernama Abdud Dar menjadi penguasa Hijaz. Ia menjadikan makkah sebagai pusat pemerintahannya. Sepeninggal Abdud Dar terjadilah pembagian kekuasaan antara putranya dan putra saudaranya, Abdul Manaf. Putra Abdul Manaf yang bernama Abdus Syam menangani urusan administrasi dan keuangan, sedang putra Abdud Dar (tidak diketahui namanya) menangani urusan militer. Selanjutnya Abdus Syam menyerahkan kekuasaannya kepada saudaranya yang bernama Hasyim. Sehingga putra Abdus Syam yang bernama Umayyah menjadi tersingkir oleh kekuasaan Hasyim. Umayyah berusaha merebut kekuasaan dari tangan Hasyim dalam sebuah medan perkelahian, yang akhirnya dapat dimenangkan oleh Hasyim. Oleh dewan hukum dan pengadilan Umayyah dikenai hukuman pengasingan di luar kota selama 10 tahun.
Hasyim mempunyai seorang putra bernama Syabih. Setelah Hasyim meninggal, Syabih ikut pamannya bernama Mutholib ke Madinah. Orang-orang Madinah menyangka Syabih sebagai budak Mutholib, maka mereka menyebutnya Syabih Abdul Mutholib. Selanjutnya ia dalam sejarah islam lebih dikenal dengan nama Abdul Mutholib.
Karena sifat kedermawanan dan kebijaksanaan Abdul Mutholib membuatnya dipercayai dan diakui sebagai pemimpin di tengah-tengah suku Quraisy. Namun Harb, putra Umayyah, tidak mengakui kepemimpinnya. Sehingga dewan hakim mengusirnya keluar kota, sebagaimana hukuman tersebut pernah dikenakan terhadap ayahnya. Jadi permusuhan antara Bani Hasyim dan Bani Umayyah telah berpangkal pada perselisihan moyang mereka di masa silam.
Ketika Abdul Mutholib berusia 70 tahun, datang serangan secara tiba-tiba dari raja Abrahah (pimpinan umat Kristen Yaman). Mereka menyerbu Makkah dan Ka’bah dengan mengendarai gajah. Peristiwa ini diabadikan dalam sejarah Islam sebagai tahun gajah (570M). Tiba-tiba pasukan Abrahah terserang penyakit menular dan kena serangan badai padang pasir, hujan badai dan hujan batu. Akhirnya mereka hancur hingga tidak tersisa.
Sebelum terjadi peristiwa serangan Abrahah tersebut, Abdul Mutholib menitipkan putranya yang bernama Abdullah untuk berlindung di rumah Wahhab, seorang kepala suku dari suku Bani Zahra. Di rumah itulah Abdullah dikawinkan dengan Aminah, puteri Wahhab. Dari hasil pernikahan ini lahirlah kelak nabi Muhammad.
Abdullah hidup bersama Aminah hanya dalam waktu 3 hari dirumah Wahhab. Kemudian ia meninggalkan isterinya, pergi ke Syiria untuk berdagang. Ketika dalam perjalanan pulang dari Syiria, ia jatuh sakit di dekat Madinah lalu wafat dengan meninggalkan 5 ekor unta, sejumlah biri-biri dan  seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman. Inilah kekayaan yang kelak menjadi warisan Muhammad dari ayahnya. Abdul Mutholib dan Aminah sangat bersedih dengan wafatnya Abdullah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar