Senin, 31 Januari 2011

SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM


SEJARAH PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM
1.    a.  Asal usul timbulanya perselisihan dalam dunia Islam adalah permasalahan politik,   adapun tentang awal timbulnya perselisihan itu adanya peristiwa tahkim. Peristiwa ini membuat bencana bagi umat Islam sehingga terpecah, paling tidak menjadi tiga kelompok. Umat Islam kelompok pertama adalah pendukung Mu’awiyah diantaranya Amr bin Ash. Sedangkan kelompok umat Islam kedua adalah pendukung Ali bin Abi Tholib. Kelompok Ali bin Abi Tholib menjelang dan setelah tahkim terpecah menjadi dua, umat Islam yang senantiasa setia terhadap kekholifahan Ali bin Abi Tholib diantaranya  Abu Musa Al Asy’ari dan yang kedua adalah umat Islam yang membelot ( keluar dari barisan Ali bin Abi Tholib ), mereka menarik dukungannya terhadap Ali dan bersikap menentang terhadap Ali Bin Abi Tholib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Kelompok ini dalam sejarah dikenal dengan nama khawarij.


b. Aliran – aliran masalah aqidah yang berkembang ketika muncul pertama kali perselisihan pada umat Islam saat itu diantaranya :
     Khawarij, adalah aliran dalam Islam yang muncul pertama kali. Kelompok ini antara lain dipelopori oleh ‘Atab bin A’war dan ‘Urwah bin Jarir. Pada awalnya, khawarij merupakan aliran atau faksi politik, karena pada dasarnya, kelompok itu terbentuk karena persoalan kepemimpinan umat Islam. Akan tetapi, mereka membentuk suatu ajaran yang kemudian menjadi cirri utama aliran mereka, yaitu ajaran tentang pelaku dosa besar. Menurut Khawarij, orang – orang yang terlibat dan menyetujui hasil tahkim telah melakukan dosa besar, dalam pandangan mereka berarti telah kafir, kafir setelah masuk Islam berarti murtad, dan orang murtad ( keluar dari Islam ) halal dibunuh berdasarkan sebuah hadis yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “ man baddala Dinah faktuluh “. Atas dasar itulah, khawarij berkesimpulan bahwa orang yang terlibat tahkim dan menyetujui taqhkim harus dibunuh. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk membunuh Ali bin Abi Tholib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Musa Al Asy’ari, Amr bin Ash dan sahabat – sahabat yang lain yang menyetujui tahkim. Namun yang berhasil mereka bunuh hanya Ali Bin Abi Tholib, yang lainnya tidak berhasil mereka bunuh.

     Murji’ah. Sebagian umat Islam kawatir terhadap gagasan Khawarij yang mengkafirkan Ali bin Abi Tholib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan , Amr bin Ash, Abu Musa Al Asy’ari. Oleh karena itu sebagian ulama mencoba bersikap netral  secara politik dan tidak mau mengkafirkan para sahabat yang terlibat dan menyetujui tahkim. Umat Islam yang tergabung dalam kelompok ini kemudian dikenal dengan Murji’ah. Dalam ajaran utama aliran Murji’ah,orang Islam yang melakukan dosa besar tidak boleh dihukumi kedudukannya dengan hukum dunia, mereka tidak boleh ditentukan akan tinggal di neraka atau di surge, kedudukan mereka ditentukan dengan hukum akhirat. Sebab bagi mereka perbuatan maksiat tidak merusak iman sebagaimana perbuatan taat tidak bermanfaat  bagi yang kufur ( la tadlurru ma’a al iman al ma’shiyyah kama la tanfa’ ma’a al kufr tha’ah ). Disamping itu bagi mereka iman adalah pengetahuan tentang Allah secara mutlak, sedangkan kufur adalah ketidaktahuan tentang Tuhan secara mutlak. Oleh karena itu menurut Murji’ah iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang.

2.    Qodariyah : suatu aliran yang menyatakan manusia memiliki kemerdekaan dan kebebasan dalam menentukan perjalanan hidupnya. Menurut paham ini, manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan – perbuatannya. Oleh karena itu aliran ini dikenal dengan qodariyah, karena memandang bahwa manusia memiliki kekuatan untuk menentukan perjalanan hidupnya dan untuk mewujudkan perbuatannya. Ajaran ini pertama kali diperkenalkan oleh Ma’bad Al Juhani dan Ghilan Al Dimasyqy.

Jabariyah : berpendapat bahwa dalam hukum hubungan dengan manusia, Tuhan itu maha kuasa. Karena itu Tuhanlah yang menentukan perjalanan hidup manusia dan mewujudkan perbuatannya. Menurut aliran ini, manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan hidup dan mewujudkan perbuatannya. Mereka hidup dalam keterpaksaan ( jabbar ). Oleh karena itu aliran ini dikenal dengan Jabariyah. Ajaran ini pertama kali diajarkan oleh Al ja’d bin Dirham, kemudian disebarkan oleh Jahm bin Shafwan.
Setelah empat aliran muncul, yaitu Khawarij, Murji’ah, Qodariyah dan Jabariyah : kemudian berkembang suatu ajaran teologi yang didasarkan analisis filosofis. Dalam menjelaskan teologi, kelompok ini banyak menggunakan kekuatan akal sehingga mereka digelari kaum rasionalis Islam. Mereka dikenal dengan nama Muktazilah. Aliran ini didirikan dan disebarkan oleh tokoh yang bernama Washil bin Atha. Ajaran pokok Muktazilah ada 5 macam yaitu : Keesaan Tuhan, Keadilan Tuhan, Janji dan Ancaman, posisi diantara dua tempat dan amar ma’ruf nahi munkar. Setelah kasus mihnah aliran ini dibatalkan sebagai madzab resmi negara oleh Mutawakkil yang dulu oleh Al Makmun dijadikan madzab resmi Negara. Mutawakkil berpihak pada ulama yang mengalami penindasan karena mihnah, terutama Ahmad bin Hanbal. Setelah itu Muktazilah ditentang oleh pengikutnya semdiri yang kemudian membentuk aliran Ahli Sunnah wal jamaah yang dipelopori oleh Abu Hasan Al Asy’ari. Ajaran pokok aliran ini adalah kemahakuasaan Tuhan yang keadilanNya telah tercakup dalam kekuasanNya, suatu gagasan yang mirip dengan gagasan jabariyah. Dalam perkembangannya, aliran ini tidak sepenuhnya sejalan dengan gagasan Imam Al Asy’ari. Para penerusnya Imam Abu Manshur Al Maturidi mendirikan aliran Maturidiyyah yang gagasannya mirip dengan muktazilah.

3.        Nama lengkap Ibnu Thufail ialah Abu Bakar Muhammad ibn 'Abd Al Malik ibn Muhammad ibn Tufail, dalam tulisan latin, Abubacer. Ia adalah pemuka pertama dalam pemikiran filosofis Muwahhid yang berasal dari Spanyol.
Ia dilahirkan di Cadix, Provinsi Granada, Spanyol pada tahun 506 H/1110 M. Ibnu Thufail termasuk dalam keluarga suku Arab terkemuka, Qais.
Ibnu Khalkan  pernah berkomentar tentang Ibnu Thufail, "Dia seorang yang mendalami semua bagian dari ilmu hikmah. Dia belajar dari para ahli hikmah, diantaranya Abu Bakar bin Shaight atau Inu Bajah dan lain-lain. Ibnu Thufail memiliki banyak karangan dan berambisi untuk memadukan antara ilmu Syariat dan hikmah. Beliau sangat ahli dalam bidang itu.
Karier Ibnu Thufail bermula sebagai dokter praktek di Granda. Karena ketenaran atas jabatan tersebut, maka ia diangkat menjadi sekretaris Gubernur di Propinsi itu. Pada tahun 1154 M. (549 H.), ibnu Thufail menjadi sekretaris pribadi Gubernur Ceuta dan Tangier, Penguasa Muwahid Spanyol pertama yang merebut Maroko. Dan dia menjabat dokter tinggi dan menjadi qadhi di pengadilan pada Khalifah Muwahid Abu Ya'qub Yusuf (558 H\1163 M-580 H.\1184 M).
Kemudian pemerintahan yang dipimpin oleh Abu Ya'qub Yusuf menjadikan pemerintahannya sebagai pemuka pemikiran filosuf dan metode ilmiah. Khalifah ini memberikan kebebasan berfilsafat, dan membuat Spanyol disebut tempat kelahiran kembali negri Eropa sebagaimana dikatakan oleh R. Briffault. Bersama Khalifah Abu Ya'qub Yusuf, Ibnu Tufail menjadi berpengaruh besar, dan dia yang memperkenalkannya dengan Ibnu Rusyd (meninggal tahun 595 H\1198 M). atas kehendak khalifah, dia memberi saran kepada Ibnu Bajjah agar membuat keterangan atas karya-karya Aristoteles, suatu tugas yang dilaksanakan dengan penuh semangat oleh Ibnu Bajjah tapi tak dapat diselesaikan sampai dia meninggal. Ibnu Tufail meninggalkan jabatannya sebagai dokter pemerintah pada tahun 578 H\1182 M, dikarenakan usianya yang lanjut dan dia menganjurkan pelindungnya agar memilih Ibnu Rusyd agar menggantikan kedudukannya. Tapi dia tetap mendapatkan penghargaan dari Abu Ya'qub dan setelah dia meninggal (pada tahun 580 H\ 1184 M) dia mendapatkan penghargaan pula dari putranya Abu Yusuf Al Mansur (580 H\1185 M-595 H\1199 M). ibnu Tufail meninggal di Maroko pada tahun 581 H.\1185
Ibnu Thufail adalah seorang yang alim, berwawasan luas, dokter, ahli ilmu alam, peramal, filosof, dan penyair. Ia belajar kedokteran dan filsafat di Seville dan Cordoba. Ia berkeyakinan bahwa, hati itulah pokok pangkal keimanan sedang akal ber ada di bawah hati, maka kecenderungan pemikir-pemikir Islam lebih mengarah ke tasawuf. Begitulah Ibnu Thufail muncul untuk membuktikan kebenaran pendapat ini dalam suatu Cerita yang terkenal dengan nama Hay bin Yaqdhan. Buku-buku biografi menyebutkan beberapa karangan dari Ibnu Thufail yang menyangkut beberapa karangan dari Ibnu Thufail yang menyangkut beberapa lapangan filsafat, seperti filsafat fisika, metafisika, kejiwaan dan sebagainya, di samping risalah-risalah (surat-surat) kiriman kepada Ibnu Rusyd dan On the Soul yang hilang, satu-satunya karya Ibn Thufail yang sampai kepada kita adalah roman filsafat yang berjudul Hay bin Yaqadhan, ("Kehidupan Anak Kesadaran"). Judul karya ini memang sama dengan buah karya Ibnu Sina yang diakuinya sendiri berisikan Kebijaksanaan Timur (Oriental Wisdom) Kebijaksanaan Timur pulalah yang menjadi pikiran Ibn Thufail dalam buku ini. Seperti diakui Ibn Thufail, pokok pikirannya ini bisa diidenfikasi sebagai tasawuf yang kala itu ditolak oleh kebanyakan filosof Muslim, termasuk Ibn Bajjah. Diskursus rasional, menurut para filosof anti tasawuf, bertolak belakang dengan pengalaman mistis yang oleh para ahli diyakini bersifat ekstra-rasional dan tak terperikan. Ibnu Khatib menganggap dua risalah mengenai ilmu pengobatan itu sebagai karyanya. Al Bitruji (muridnya) dan Ibn Rusyd percaya bahwa dia memiliki gagasan-gagasan astronomis asli. Al Bitruji membuat sangkalan atas teori Ptolemeus mengenai epicycles dan eccentric circles, yang dalam kata pengantar karyanya Kitab Al Hai’ah dikemukakannya sebagai sumbangan dari gurunya Ibnu Thufail. Dengan mengutip perkataan Ibn Rusyd, ibn Abi Usaibiah menganggap Fi Al Buqa' Al Maskunah wal-Ghair Al Maskunah sebagai karya Ibnu Thufail, tapi dalam catatan Ibn Rusyd sendiri acuan semacam itu tidak dapat ditemukan. Al Marrakushi, yang ahli sejarah itu, mengaku telah melihat naskah asli dari salah satu risalahnya mengenai ilmu ketuhanan. Miguel Casiri masih ada. Risalah Hayy bin Yaqadhan dan Asrar Al Hikmah Al Mashiriqiyyah, yang disebut terakhir ini berbentuk naskah. Kata pengantar dari Asrar menyebutkan bahwa risalah itu hanya merupakan satu bagian dari Risalah Hay bin Yaqadhan, yang judul lengkapnya ialah Risalah Hayy bin Yaqadhan Fi Asrar Al Hikmah Al Mashiriqiyyah. Ini merupakan intisari pikiran-pikiran filsafat Ibnu Thufail, dan yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai-bagai bahasa. Suatu manuskrip di perpustakaan Escurrial yang berjudul Asrar al-Hikmat al-Masyriqiyyah (Rahasia-rahasia Filsafat Timur) tidak lain adalah bagian dari risalah Hay bin Yaqadhan. Ini ditulis atas permintaan salah seorang kawannya untuk mengintisarikan filsafat timur, seperti yang kita dapati pada kata  pengantarnya sebagai berikut: " Wahai saudara yang mulia, engkau minta agar sedapat mungkin aku membuka rahasia-rahasia filsafat  timur yang sudah disebutkan  oleh Abu Ali inb Sina. Ketahuilah bahwa bagi orang yang mengingkari kebenaran yang tidak berisi kesamaran lagi, maka ia harus mencari filsafat itu ada berusaha memilikinya." Sesudah itu ia mengatakan bahwa tujuan filsafat tersebut ialah memperoleh kebahagiaan dengan jalan dapat berhubungan dengan Akal-Faal melalui akal (pemikiran). Persoalan hubungan tersebut  merupakan perkara yang paling pelik pada masanya. Ada dua jalan untuk memperoleh kebahagiaan tersebut. Pertama, jalan tasawuf batini yang di bela oleh al-Ghazali, tetapi tidak memuaskan Ibnu Thufail. Kedua, jalan pemikiran dan perenungan yang ditempuh oleh al-Farabi beserta murid-muridya, dan yang hendak diperjelas oleh Ibnu Thufail. Dalam hubungan ini Munk mengatakan sebagai berikut: " Ibnu Thufail berusaha menurut caranya sendiri dalam memecahkan persoalan yang menyibukkan filosof-filosof Islam, yaitu persoalan "hubungan" atau dengan perkataan lain, hubungan manusia dengan Akal-Fall dan dengan Allah. Cara al Ghazali yang didasarkan atas rasa sufi tidak membuat ia tertarik, dan ia lebih mengutamakan cara Ibnu Bajah. Ia mengikuti cara ini dan ikut serta menjelaskan perkembangan pekerjaan pikiran pada si "penyendiri" (al-mutawahhid) yang dapat terbebas dari kesibukan-kesibukan masyarakat dan pengaruhnya. Selain dari itu, ia menjadikan  "penyendiri" tersebut yang jauh sama sekali dari pengaruh masyarakat, telah terbuka pikirannya dan dirinya sendiri terhadap semua wujud, dan dengan usahanya sendiri serta dorongan dari Akal-Faal ia dapat memahami rahasia-rahasia alam dan persoalan metafisika yang paling tinggi.
Isi dari risalah ini adalah secara dramatis. Dimulai dengan kelahiran mendadak Hay di sebuah pulau kosong. Kemudian dia dibuang di tempat terpencil oleh saudara perempuan seorang raja. Dengan maksud agar perkawinannya dengan Yaqzan tetap terahasiakan. Di mana tempat pembuangan tersebut tidak diketahui oleh kehidupan masyarakat. Di tempat itu dia diajari oleh pikiran alamiah atau akal sehat, walaupun tak masuk akal, agar dia bisa mebyelidiki rahasia segala benda. Rupanya binatag tersebut mempunyai kesadaran akan ketelanjangannya dan ketiadaan pelindungan atas dirinya. Anak tersebut di atas oleh Ibnu Thufail dinamakan Hay Ibnu Yaqdhan. Hayy bin Yaqdhan hidup seorang diri di pulau iti. Ia mencari-cari dan melihat-lihat sekelilingnya. Ia mempelajari segala sesuatu yang dapat membantu dalam kehidupan. Ia mempelajari keahlian pembuatan pakaian, teknik bangunan, keahlian memanah, keahlian menggunakan api, hingga ia sampai pada pengetahuan tentang hakikat berbagai benda-benda yang ada disekitarnya; tentag kematian dan kehidupan; tentang jiwa; serta tentang Allah SWT. Kisah Hayy bin Yaqdhan merupakan kisah simbolik yang secara umum memaparkan berbagai dilemma kaum Neo-Platonis sebelum masa al-Farabi dan Ibnu Sina di Timur dan Ibnu Bajah di Barat. Dalam novel ini, Ibnu Thufail membahas satu topic yang menyibukkan pikiran kaum filosof Muslim, yaitu hubungan manusia dengan Akal Aktif yang menjadi sumber pengetahuan manusia.  Melalui kisah ini, Ibnu Thufail memaparkan aliran filsafatnya dan ide-idenya yang ringkas dan padat tentang jiwa beserta semua daya-dayan
Ajaran Filsafat Ibnu Thufail
Tentang Dunia Salah satu masalah filsafat adalah apakah dunia itu kekal, atau diciptakan oleh Tuhan dari ketiadaan atas kehendak-Nya? Dalam filsafat muslim, Ibnu Thufail sejalan dengan kemahiran dialeksinya. Menghadapi masalah itu dengan tepat sebagaimana Kant. Tidak seperti para pendahulunhya, tidak menganut salah satu doktrin saingannya, pun dia tidak berusahga mendamaikan mereka. Di lain pihak, dia mengecam dengan pedas para pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis. Kekekalan dunia melibatkan konsep eksistensi tak terbatas yang tak kurang mustahilnya dibandingkan gagasan tentang rentangan tak terbatas. Eksistensi semacam itu tidak dapat lepas dari kejadian kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun. Begitu pula konsep creation ex nihilo tidak dapat mempertahankan penelitiannya yang seksama. Sebagaimana Al Ghazali, dia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidakmaujudan tidak dapat dipahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, tapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia,  dank arena itu kemaujudannnya  mendahului kemaujudan dunia dikesampingkan. Lagi, segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Kalau begitu mengapa sang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Kalau begitu mengapa sang pencipta menciptakan dunia saat itu dan bukan sebelumnya? Apakah hal itu dikarenakan oleh suatu yang terjadi atas-Nya? Tentu saja tidak, sebab tiada sesuatupun sebelum dia untuk membuatsesuatu terjadi atas-Nya. Apakah hal ini mesti dianggap bersumber dari suatu perubahan yang terjadi atas sifat-Nya? Tapi adakah yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut. Karena itu Ibnu Thufail tidak menerima baik pandangan mengenai kekekalan maupun penciptaan sementara dunia ini. Tentang Tuhan Penciptaan dinia yang berlangsung lambat laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta, sebab dunia tak bisa maujud, sebab dunia tgak bisa maujud dengan sendirimya. Juga, sang Pencipta bersifat immaterial, sebab materi yanhg merupakan suatu kejadian dunia diciptakan oleh satu Pencipta. Di pihak lain, anggapan bahwa Tuhan bersifat material akan membaca suatu kemunduran yang tiada akhir yang adalah musykil. Oleh karena itu, dunia ini pasti mempunyai penciptanya yang tidak berwujud benda. Dan karena Dia bersifat immaterial, maka kita tidakdsapat mengenaliNya lewat indera kita ataupun lewat imajinasi, sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera. Kekekalan dunia berarti kekekalan geraknya juga, dan gerak sebagaimana dikatakan oleh Aristoteles, membutuhkan penggerakan atau penyebab efesien dari gerak itu. Jika penyebab efisien ini berupa sebuah benda, maka kekuatannya tentu terbatas dan karenanya tidak mampu menghasilkan suatu pengaruh yang tak terbatas. Oleh sebab itu penyebab efesien dari gerak kekal harus bersifat immaterial. Ia tidak boleh di hubungkan dengan materi ataupun dipisahkan darinya, a da di dalam materi itu tanpa materi itu, sebab  penyatuan dan pemisahan, keterkandungan a tau keterlepasann merupakan tganda-tanda material, sedang penyebab efisien itu sesungguhnya lepas dari itu semua. Tuhan dan dunia keduanya keka,l, bagaimana bisa yang pertgama dianggap sebagai penyebab adanya yang kedua? Dengan mengikuti pandangan Ibnu Sina, Ibnu Thufail membuat perbedaan antara kekekalan dalam esensi dan kekekalan dalam waktu, dan percaya Tuhan ada sebelum adanya dunia dalam hal ini esensi tapi tidak dalam waktu.   
contoh, jika kau pegang sebuah benda dengan tanganmu, maka benda itu, tak pelak lagi, akan bergerak dikarenakan gerakan tangan itu, jadi gerak itu bergantung kepada gerak tangan. Gerak tangan mendahului gerak tangan tersebut, meskipun dalam soal waktu keduanya tak saling me ndahului. Mengenai pandangan bahwa dunia dan Tuhan sama-sama kekal, Ibnu Thufail mempertahankan pendapat mistisnya bahwa dunia itu bakanlah suatu yang lain dari Tuhan.  Dan mengenai esensi Tuhan yang ditaffsirkan sebagai cahaya yang sifat esensilanya merupakan penerangan dan pengejawantahan, sebagaimana dipercaya oleh Al Ghazali, Ibu Thufail memandang dunia ini sebagai pengejawantahan dari esensi Tuhan sendiri dan bayangan cahaya-Nya sendiri yang tidak berawal atau berakhir. Dunia tidak akan hancur sebagaimana yang ada pada kepercayaan akan hari penentuan. Kehancurannya berupa keberalihannya menjadi bentuk lain bukannya merupakan suatu kehancuran  sepenuhnya. Dunia mesti terus berlangsung dalam satu atau bentuk lain, sebab kehancurannya tidak sesuai dengan kebenaran mistis yang tinggi, yaitu bahwa sifat esensi Tuhan merupakan penerangan dan pegejawantahan.
Tentang Kosmologi Cahaya Ibnu Thufail menerima prinsip  bahwa dari satu tidak ada lagi apa-apa kecuali satu itu. Manifestasi kemajemukan kemaujudan dari yang satu dijelaskannya dalam gaya Neo-Platonik yang menonton, sebagai tahap-tahap berurutan pemacaran yang berasal dari cahaya Tuhan. Proses itu, pada prinsipnya, sama dengan refleksi terus menerus cahaya matahari pada cermin. Cahaya matahari yang jatuh pada cermin dan yang  dari sana menuju ke yang lain dan seterusnya, menunjukkan kemajemukan. Semua itu merupakan pantulan cahaya matahari, dan bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri, bukan pula sesuatu yang lain dari matahari atau cermin itu. Kemajemukan cahaya yang dipantulkan itu hilang menyatu dengan matahari kalau kita pandang sumber cahaya itu, tapi timbul lagi kalau kita pandang cermin, yang di situ cahaya tersebut dipantulkan. Hal yang sama berlaku juga pada cahaya pertama  beserta perwujudannya di dalam kosmos.   
Epistemologi Pengetahuan Tahap pertama, jiwa bukanlah suatu tabula rasa, atau papan tulis kosong. Imaji Tuhan telah tersirat di dalamnya sejak awal, tapi untuk menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai dengan pikiran yang jernih, tanpa prangsaka dan kecenderungan social, sebagai kondisi awal semua pengetahuan, merupakan gagasan sesungguhnya dibalik kelahiran tiba-tiba Hay di pulau kosong. Setelah hal itu tercapai, pengalaman, inteleksi, dan ekstase memainkan dengan bebas peranan mereka secara berurutan dalam memberikan visi yang jernih tentang kebenaran yang melekat pada jiwa. Bukan hanya disiplin jiwa, tapi pendidikan semua indera dan akal, yang diperlukan untuk mendapatkan visi semacam itu. Kesesuaian antara pengalaman dan nalar (Kant), disatu pihak,  dan kesesuaianantara nalar dan intuisi (Bergson dan Iqbal), di pihak lain, membentuk esensi epistimologi Ibnu Thufail. Pengalaman akan menjadi suatu proses mengenal lingkungan lewat indera. Organ-organ indera ini berfungsi berkat jiwa hewani yang ada didalam hati, dari sana berbagai data indera yang kacau mencapai otak menyebarkannya keseluruh tubuh lewat jalur syaraf. Kemudian dikirimkan ke otak lewat jalur yang sama, di situ diproses menjadi satu kesatuan perspektif. Pengalaman memberi kita pengetahuan mengenai benda-benda yang oleh akal induktif, dengan alat-alat pembandingan dan pembedanya, dikelompokkan menjadi mineral, tanaman dan hewan. Setiap kelompok benda inimemperlihatkan fungsi-fungsi tertentu, yang membuat kita menerima bentuk-bentuk atau jiwa-jiwa (seperti Aristoteles) sebagai penyebab fungsi-fungsi tertentu berbagai benda. Tapi hipotesis semacam itu tidaklah dapat dipertahankan atas dasar induktif, sebab bentuk atau jiwa yang dimaksud itu tidak dapat diamati secara langsung. Tak pelak lagi tindakan-tindakan tampak muncul dari suatu tubuh tertentu; tapi kenyataannya, mereka tidak ditimbulkan bukan oleh tubuh itu atau ruh tubuh itu, melainkan oleh sebab tertentu yang ada di luarnya dan sebab itu ialah Tuhan.  
Mengikuti pendapat Al Ghazali dan mendahului pendapat Hume. Ibnu Thufail tidak melihat adanya kekuatan pada sebab yang bisa mendatangkan pengaruh sebagaimana biasanya. Empirisme Hume berakhir dalam skeptisisme, tapi ketasawufan Ibnu Thufail membuatnya melihat bahwa ikatan sebab akibat merupakan satu tindak perpaduan yang dianggap berasal dari Tuhan, tapi oleh Kant hal itu dianggap berasaldari bentuk apriori pamahaman. Ibnu Thufail sekaligus berada di depan Bacon, Hume dan Kant. Dia telah mengemukakan terlebih dahulu metode induktif ilmu modern; melihat ketidak mampuan nalar teoritis untuk menjawab teka-teki mengenai kekekalan dan penciptaan sementara dunia ini, juga ketidak mampuan akal induktif untuk menetapkan suatu hubungan yang tegas antara sebab akibat, dan akhirnya menjernihkan awam skeptisisme dengan membuat pernyataan bersama Al Ghazali bahwa rangkaian sebab akibat itu merupakan tindakan terpadu Tuhan. Setelah mendidik akal dan indera serta memperhatikan keterbatasan keduanya, ibnu Thufail akhirnya berpaling kepada disiplin jiwa, yang membawa kepada ekstase, sumber tertinggi pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi atau induksi, tapi dapat dilihat secara langsung dan intuitif lewat cahaya yang ada didalamnya. Jiwa mwnjadi sadar diri dan mengalamiapa yang tak pernah dilihat mata atau di dengar  telinga, atagu dirasa hati orafng manapun. Tarap ekstase tak terkatakan atau terlukiskan, sebab lingkup kata-kata terbatas pada apa yang dapat dilihat, didengar atau dirasa. Esensi Tuhan, yang merupakan cahaya suci, hanya bisa dilihat lewat cahaya di dalam esensi itu sendiri, yang masuk ke dalam esensi itu lewat pendidikan yang tepat atas indera, akal serta jiwa. Karena itu  pengetahuan esensi merupakan esensi itu sendiri. Esensi dan visinya adalah sama.   
Etika dan Akhlak Manusia merupakan suatu perpaduan tubuh, jiwa hewani dan esensi non-bendawi, dan dengan demikian menggambarkan binatang, benda angkasa dan Tuhan. Karena itu pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek sifatnya, dengan cara meniru tindakan-tindakan hewan, benda-benda angkasa dan Tuhan. Mengenai peniruannya pertama, ia terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya akan kebutuhan-kebutuhan pokok serta menjaganya dari cuaca buruk dan binatang buas, dengan satu tujuan yaitu mempertahankan jiwa hewani. Peniruan yang kedua menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap obyek-obyek hidup dan tak hidup, perenungan atas esensi Tuhan dan perputaran esensi orang dalam ekstase. Ibnu Thufail tampaknya percaya bahwa benda-benda angkasa memilii jiwa dan tenggelam dalam perenungan yang tak habis-habisnya tentang Tuhan. Terakhir, dia harus melengkapi dirinya dengan sifat-sifat Tuhan baik yang positif maupun negative, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijaksanaan, kebebasan dari keinginan jasmaniah, dan sebagainya. Melaksanakan kewajiban demi diri sendiri, demi yang lain-lainnya dan demi Tuhan, secara ringkas merupakan salah satu disiplin jiwa yang esensial. Kewajiban yang terakhir adalah suatu akhir diri, dua yang disebut sebelumnya membawa kepada perwujudan dalam visi akan rahmat Tuhan, dan visi sekaligus menjadi identik dengan esensi Tuhan.
Filsafat dan Agama  Filsafat mengarah kepada suatu pemahaman akal secara murni atas kebenaran dalam konsep-konsep dan imajinasi yang sesugguhnya, tak dapat dijangkau oleh cara-cara pengungkapan konvensional. Bahasa merupakan hasil dari kebutuhan-kebutuhan material lingkungan social dank arena itu hanya dapat menyentuh dunia fenomena semata. Dunia angkasa, yang abstrak dan non bendawi, tidak dapat di jangkau. Bila dilukiskan dengan lambing-lambang bendawi, maka ia akan kehilangan esensinya, dan bisa basa orang menganggapnya tidak sebagaimana yang sebenarnya. Kalau begitu mengapa Al-Quran melukiskan dunia atas itu dalam ibarat-ibarat, sehingga pandangan yang lebih jelas terkesampingkan dan orang bisa jatuh kedalam kesalahan-kesalahan fatal karena menganggap pemenuhan kebutuhan jasmaniah sebagai esensi Tuhan, padahal dia lepas dari itu? Dan mengapa Kitab Suci tidak hanya sekedar memberikan ajaran-ajaran dan tata cara pemujaan, dan memberi manusia izin untuk mengumpulkan kekayaan serta memberinya kebebasan mencari makan, yang dengan cara itu mereka mengejar tujuan yang  sia-sia dan berpaling dari kebenaran? Tidaklah kebutuhan yang sangat terpenting dari jiwa itu ialah membebaskan diri dari hasrat-hasrat serta ikatan-ikatan dunia sebelum dia
4.        Namanya Husain Manshur al Hallaj, lahir di perkampungan Tur, wilayah Baidha, Fars, Persia, 244 H/858. Dia anak tukang pemilah benang yang miskin. Kelahirannya amat di dambakan bertahun dua orang tua yang saleh itu. Hallaj kecil dititipkan keduanya kepada Syekh Sahl al Tustari (w.238 H), sufi besar pada zamannya, untuk mengaji kepadanya dan mengabdi kepada Tuhan di masjidnya, memenuhi janji mereka ketika mendamba bertahun kelahirannya. Ketika Hallaj menyapu di mihrab, dia menemukan secarik kertas kewalian gurunya, yang konon, turun dari langit. Diam-diam Hallaj menelannya, mengambil keberkatan.  Tak lama, dia menjadi aneh, ia sering bergumam sendiri.
Dalam usia 12 tahun dia hafal al-Qur’an seluruh, dia juga mengaji beragam keilmuan tradisional Islam kepada sejumlah guru di Wasit, sebuah kota dekat Ahwaz. Usai ngaji di kampungnya, dia pergi ke Bagdad, untuk meneruskan mengaji pada sufi otoritatif: Abu al Qasim Al Junaed (w.298 H), Amir al Makki (w. 291) dan guru yang lain. Ketika Hallaj 20 tahun, dia ditahbiskan sebagai guru dalam Tasawuf. Tak lama ke kemudian dia ke Makkah untuk haji. Di kota suci ini, pergulatannya dengan dunia sufisme semakin intens. Otoritasnya di bidang ini semakin menonjol. Pada saat berada Arafat, dia mendaki sendiri sampai puncak gunung itu, lalu berdo’a :

يا دليل المتحيرين زدنى تحيرا. وإذا كنت كافرا فزدنى كفرا.

Oh, Tuhanku, Pembimbing Orang-orang bingung. Tambahi kebingunganku. Jika aku kafir, maka tambahi kekafiranku”. (Louis Massignon, Alaam al Hallaj, hlm. 213).
Kelak di kemudian hari di suatu tempat dia bilang lagi untuk menegaskan bahwa keinginan tersebut dikabulkan Tuhan:

كفرت بدين الله والكفر واجب    علي وعند المسلمين قبيح
Aku mengkafiri agama Tuhan
Kekufuran bagiku adalah wajib
Meski bagi banyak muslim amatlah buruk
(Diwan, Yatama 2)
Hallaj kembali ke Baghdad, mendiskusikan berbagai problem dan isu krusial sufisme, dengan Syeikh Junaed,  Abu Bakar al Syibli dan sejumlah sufi besar lainnya. Dia selalu tak puas. Pikiran-pikirannya semakin radikal, melawan mainstream, tapi semakin matang. Dia lalu kembali ke kampungnya untuk tak berhenti mencari Tuhan dan dia menemukan-Nya di dalam rumah hatinya sendiri. Baju sufi ditanggalkannya dan menggantinya dengan baju tentara, kadang baju robek-lusuh, biar lebih bebas dan tak dikenal saleh. Sesudah itu namanya disebut secara popular sebagai Hallaj al Asrar (Hallaj, sang pemilik rahasia-rahasia). Hallaj kembali ke Makkah, di samping untuk haji lagi juga terus mencari mengerti tentang eksistensi diri di bumi Nabi, tempat beliau mengajarkan Tauhid (Kemahaesaan Tuhan). Al Hallaj lagi-lagi tak puas. Ia lantas berkelana ke berbagai negeri di Timur Tengah dan sampai ke India dan Cina. Di berbagai tempat itu, yang dijalaninya selama lima tahun, dia memperoleh banyak sekali pengetahuan eksoterik, terutama esoterik. Entah sesudah atau di antara pengembaraan itu, dia ke Makkah lagi.
Dari perjalanan ini dia mulai tampil dengan gagasan-gagasan sufismenya yang menggemparkan. Dia sebarkan gagasan itu secara terbuka dan segera mengundang resistensi dan reaksi kebingungan dan kemarahan publik. Ucapan-ucapan Cintanya kepada Tuhan semakin tak dimengerti halayak. Dia semakin “gila”. Tetapi dalam waktu yang sama nyawanya terancam oleh pikiran publik yang tak paham. Dia dicacimaki sebagai tukang sihir dan orang gila. Tetapi sebagian lain melihatnya sebagai pribadi memesona, nyentrik, yang menebarkan keramat  dan keberkatan. Dialah Waliyullah, kekasih Tuhan. Al Hallaj tak peduli dengan semuanya. Dia menuliskan dan menggumamkan seluruh kegelisahan dan keriangan batinnya yang meluap-luap itu kapan saja. Setiap malam, ketika senyap, dia mendesahkan elegi yang mengiris nurani.

ألا يا ليل محبوبى تجلى   ألا يا ليل للغفران هلا

الا يا ليل ما ابهى واحلى   ألا يا ليل اكرمنى وجلى

ألا يا ليل فى الحضرة سقانى  ألا يا ليل من خمر الدنان
O, malam, Kekasihku datang
O, malam, pengampunan telah datang
O, malam, aduhai Keindahan, aduhai Manisku
O, malam, Kekasih memuliakanku, Dia datang
O, malam, Kekasih menuangkan minuman
Pada gelas besar dari anggur yang memabukkan
Gagasan-Gagasan Hallaj: Hulul
Al Hallaj terus menyimpan rindu-dendam dan berhari-hari mabuk kasmaran. Kekasihnya datang berkunjung, lalu menyeruak, merasuk ke dalam dan menempati hatinya. Orang menyebut proses merasuk dari atas ke bawah sebagai “Hulul”. Sejak itu hari-harinya disibukkan dengan pertemuan-pertemuan manis, mesra dan menghanyutkan dengan Tuhan di ruang yang tak bertempat. Katanya, suatu saat, masih dalam sunyi-menyergap:

رأيت ربى بعين قلبى   فقلت من أنت قال أنت

فليس للاين منك أين   وليس أين بحيث انت
Aku melihat Tuhanku dengan mata hati
Aku bertanya; Siapa Engkau. Dia katakan : Kamu
Tak ada dari-Mu dimana
Dan tak ada di mana bagimu
(Diwan, Qashidah 10)

انا من اهوى ومن اهوى انا    نحن روحان حللنا بدنا

فإذا ابصرتنى ابصرته   فإذا أبصرته ابصرتنا
Aku orang yang mencinta dan Dia yang mencinta adalah Aku
Kami dua ruh yang melebur dalam satu tubuh
Bila kau memandangku, kau memandang-Nya
Bila kau memandang-Nya, kau memandang Kami.
(Diwan 57)

مزجت روحك فى روحى كما   تمزج الخمرة  بالماء الزلال

فإذا مسك شيئ مسنى   فإذا انت انا فى كل حال

Ruh-Mu menyerap dalam ruhku
Bagai anggur larut pada air bening
Bila suatu menyentuh-Mu, ia menyentuhku
Engkau adalah aku dalam seluruh
(Diwan 47)

Ittihad : Akulah Kebenaran
Ketika Sang Kekasih pergi, Al Hallaj menulis berbaris-baris puisi Kerinduan (al ‘Isyq) yang mencengkeram amat kuat dalam dirinya dan dalam ekstase-aktase yang sering. Dia senandungkan puisi-puisi Rindu Kekasih itu di pasar-pasar, di warung-warung, di surau-surau dan di kerumunan-kerumunan. Hari-hari kemarin Hallaj merasa Tuhan berkunjung ke rumahnya dan menempati seluruh ruang eksistensinya. Dan kini dia ingin menyambutnya dengan riang lalu menjemput-Nya di Langit dan manapun Dia Berada. Hallaj ingin selalu bersama-Nya, menyatu dalam “Tubuh-Nya”. Sufi menyebut proses merasuk dan menubuh dari bawah ke atas sebagai Ittihad. Dalam puncak ekstase yang melayang-layang dia berteriak keras: “Ana al Haq” (Akulah Kebenaran). Kata-kata ini mengguncang dan menggetarkan jagat raya manusia. Sahl al Tustari, Junaed dan Syibli sahabatnya, terpana dan shock berat. Oh, Hallaj, seharusnya kau tak sebarkan rahasia Tuhan itu kepada publik semacam itu. Biarlah kata-kata itu menjadi milik hati kita?.

Gagasan Pluralisme

Pikiran dan pengalaman Hulul, Ittihad atau Wahdah al Wujud tak pelak melahirkan gagasan Pluralisme agama-agama. Itu keniscayaan. Baginya semua agama adalah sama. Para pemeluk agama tak pernah berhenti mencari Sang Realitas, melalui beragam jalan, berbagai nama. Abd Allah bin Thahir al Uzdi menceritakan: “Aku bertengkar dengan seorang Yahudi di sebuah pasar di Baghdad. Kepada si Yahudi itu aku sempat bilang: Hai anjing!. Tak dinyana Husain bin Manshur lewat dan memandangku dengan wajah marah. Katanya ; “hentikan anjingmu menyalak”, lalu pergi. Begitu kami usai bertengkar, aku menemuinya dan minta maaf. Husain mengatakan: “Anakku, semua agama adalah milik Allah. Setiap golongan memeluknya bukan karena pilihannya, tetapi dipilihkan Tuhan. Orang yang mencaci orang lain dengan menyalahkan agamanya, dia telah memaksakan kehendaknya sendiri. Ingatlah, bahwa Yahudi, Nasrani, Islam dan lain-lain adalah sebutan-sebutan dan nama-nama yang berbeda. Tetapi tujuannya tidak berbeda dan tidak berubah”. “Dia kemudian berceloteh bait-bait puisi ini”:

تفكرت فى الاديان جد تحقق    فألفيتها اصلا له شعبا جما

فلا تطلبن للمرء دينا فإنه    يصد عن الاصل الوثيق وانما

يطالبه اصل يعبر عنده    جميع المعالى والمعانى فيفهما
Sungguh, aku tlah merenung panjang agama-agama
Aku temukan satu akar dengan begitu banyak cabang
Jangan kau paksa orang memeluk satu saja
Karena akan memalingkannya dari akar yang menghunjam
Seyogyanya biar dia mencari akar itu sendiri
Akar itu akan menyingkap seluruh keanggunan dan sejuta makna
Lalu dia akan mengerti
(Diwan, 50)
Pandangan Pluralisme Agama, diucapkan oleh siapa saja, Husain Manshur Hallaj atau yang lain, menggambarkan manifesto kebebasan beragama, dan tentu saja merupakan ekspresi Islami yang essensial yang melampaui perbedaan-perbedaan sektarian antara Sunny-Syi’ah dan antara sekte-sekte yang lain. Keanekaragaman individu dengan sifat kualitatif dan kepercayaan yang berbeda-beda akan senantiasa eksis di manapun dan kapanpun, dan tak bisa dilepaskan, dengan cara apapun dan oleh siapapun, dari bingkai raksasa semesta ciptaan Tuhan.

Eksekusi; Tragedi

Para penguasa pengetahuan keagamaan eksoterik, literal, konservatif dan ortodoks: para ahli fiqh dari segala aliran, para ahli hadits, terutama kelompok Hanbalian dan para teolog, meradang dan marah luar biasa. Demonstrasi besar-besaran berlangsung di mana-mana, di seluruh negeri. Puluhan  otoritas agama eksoterik itu menghimpun tandatangan dan berebut membubuhkannya, menuntut kematiannya. Mereka mengeluarkan fatwa: “Bunuh dia, Darahnya Halal ditumpahkan”. Hallaj, keluarga dan para pengikutnya ditangkap dan dijebloskan di penjara. Peradilan terhadapnya kemudian digelar. Para jaksa menuduhnya dengan “telah melakukan kejahatan berlapis”. Secara politik dia dia dianggap agen gerakan Qaramit, salah satu sekte Syi’ah Ismaili, sayap garis keras dan brutal. Gerakan Politik di bawah pimpinan Hamdan al Qarmathi ini telah lama menentang kekuasaan dinasti Abbasiah dan berusaha menggulingkannya. Mereka acap melakukan pemberontakan di mana-mana. Secara agama al Hallaj dituduh tukang sihir dan zindiq (Atheis). Pembelaan yang cerdas dan jujur tak mampu melawan tekanan masa emosional dan represi politik pencitraan. Pengadilan  akhirnya menjatuhkan vonis: Husain Manshur al Hallaj dihukum mati. Kekuasaan politik mendukung putusan ini. Khalifah Al Muqtadir Billah menandatangi vonis itu. Al Hallaj tak gentar dengan putusan ini. Dia sudah mengetahui dan sudah lama menginginkan kematian seperti ini. Meski gurunya Syeikh al Junaed memberi nasehat, dia tak surut, tak bergeming. Dia dengan lugas mengatakan :

وان قتلت او صلبت او قطعت يداى ورجلاى لما رجعت عن دعواى

Biar pun aku dibunuh atau disalib atau dua tangan dan kakiku dipenggal, aku tak surut untuk mendakwahkan kebenaranku”.
Tanggal 27 Maret 922, eksekusi mati dilaksanakan di hadapan ribuan pasang mata merah yang terus meradang dan tak henti berteriak histeris. Yel-yel Allah Akbar, Allah Akbar menggelegar. Sejumlah ulama Fiqh, Hadits dan Kalam menjadi saksi. Faqih literalis ekstrim sekaligus orang yang paling bertanggungjawab atas fatwa mati dan pengadilan Hallaj: Muhammad bin Daud  (w. 297 H), pendiri mazhab fiqh Zhahiri, berdiri paling depan. Sejumlah sufi besar juga hadir, meski memperlihatkan sikap dan suasana batin yang berbeda, menyaksikan peristiwa paling dramatis ini. Mereka, untuk menyebut beberapa saja, adalah Abu al Qasim Al  Junaed, Abu Bakar al Syibli (w. 334), Ibrahim bin Fatik. Yang terakhir ini adalah sahabat setia yang selalu menemani Hallaj di penjara.
Tak jelas bentuk hukuman mati untuk Hallaj itu, apakah di tiang gantungan, dipenggal atau disalib di pelepah kayu keras. Mungkin tak penting betul untuk dijawab. Tetapi beberapa menit menjelang kematiannya, meski tubuhnya dililit rantai besi, Hallaj dengan riang, seperti akan bertemu kekasih, menengadahkan wajahnya ke langit biru yang bersih, seakan siap menyambut kedatangannya. Dia menyampaikan kata-kata monumental yang indah beberapa detik sebelum nafasnya pergi.
Oh Tuhan, lihatlah, hamba-hamba-Mu telah berkumpul. Mereka menginginkan kematianku demi membela-Mu dan untuk lebih dekat dengan-Mu. O. Tuhan, ampuni dan kasihi mereka. Andai saja Engkau menyingkapkan kelambu wajah-Mu kepada mereka sebagaimana Engkau singkapkan kepadaku, niscaya mereka tak akan melakukan ini kepadaku. Andai saja Engkau turunkan kelambu wajah-Mu dariku, sebagaimana Engkau menurunkannya dari mereka, niscaya aku tak akan diuji seperti ini. Hanya Engkaulah Pemilik segala Puji atas apa yang Engkau lakukan. Hanya engkaulah pemilik segala puji atas apa yang Engkau kehendaki”.
Setelah itu dia bergumam lirih:

اقتلونى يا ثقاتى   إن فى قتلى حياتى

ومماتى فى حياتى   وحياتى فى مماتى

إن عندى محو ذاتى   من أجل المكرمات

وبقائى فى صفاتى   من قبيح السيئات

فاقتلونى واحرقونى  بعظام الفانيات
Bunuhlah aku, O, Kasihku
Kematianku adalah hidupku
Kematianku ada dalam hidupku
Hidupku ada dalam kematianku.
Ketiadaanku adalah kehormatan terbesar
Hidupku seperti ini tak lagi berharga
Bunuhlah aku, bakarlah aku
Bersama tulang-tlang yang rapuh
(Diwan, Qasidah 10)
Suasana senyap. Hallaj diam. Abu al Harits al Sayyaf, sang algojo, melangkah gagah dengan wajah amat angkuh, mendekati Hallaj. Ia menampar pipinya dan memukul hidungnya begitu keras hingga darah mengaliri jubahnya. Hallaj, kata para saksi, sungkem kepada Tuhan: ”Ilahi, Ashbahtu fi manzilah al Raghaib” (Tuhanku kini aku telah berada di Rumah Idaman).
Masih dalam sungkem, Hallaj, menyenandungkan puisi rindu:
Aku menangis kepada-Mu
Bukan hanya untuk diriku sendiri
Tetapi bagi jiwa yang merindukan-Mu
Akulah yang menjadi saksi
Sekarang pergi kepada-Mu
Akulah Saksi Keabadian
Begitu kepalanya terpenggal (atau terkulai) dan tubuhnya jatuh ke tanah atau diturunkan dari tiang salib, suara kegembiraan bergemuruh, membahana dan membelah langit: “Allah Akbar. Semua ini untuk kejayaan Islam dan kaum muslimin”. Tak cukup puas dengan itu, menurut satu cerita, potongan kepala disiram minyak lalu dibakar. Lidahnya dipotong dan matanya dicungkil. Takbir terus menggema, bertalu-talu. Esoknya, abu dari tubuh jenazahnya ditaburkan ke udara dari puncak menara sungai Dajlah (Tigris), sementara kepala dan dua tangannya digantung di tembok penjara.
Kisah tragedi kematian mistikus besar ini disampaikan berbagai sumber dengan beragam nuansa mitologis dan dongeng (Asthurah). Sebagian cerita yang berkembang kemudian: “al Hallaj tidak mati. Dia naik ke langit seperti Isa dan akan kembali ke bumi, seperti Isa”, “Sungai Tigris subur-makmur berkat abu al Hallaj”. Konon, pada hari ketiga kematian Hallaj, Tigris memuntahkan kemarahannya dengan menenggelamkan bumi Baghdad. Pesan Hallaj sebelum mati kepada adiknya agar menghentikan bah dahsyat itu.
Kuburannya di Bagdad sampai hari ini, menjadi tempat ziarah paling ramai dikunjungi beribu orang tiap hari dari berbagai penjuru bumi.

Karya Al Hallaj

Al Hallaj, konon, sesungguhnya telah menulis banyak karangan. Sebagian orang menyebut angka sekitar 40 an. Tetapi semuanya dibakar oleh penguasa Dinasti Abbasiyah. Buku-buku Hallaj dilarang keras. Mereka yang menyimpannya dihukum. Meski begitu sebagian orang menyimpannya secara diam-diam. Beberapa waktu kemudian sebuah manuskrip berjudul Al Thawasin ditemukan. Ini mungkin satu-satunya karya Al Hallaj yang selamat. Selain Al Thawasin, ada Diwan al Hallaj, berisi kumpulan cuplikan puisi-puisi atau kasidah-kasidahnya yang berhasil dihimpun dari berbagai orang, dan pengikutnya dari berbagai sumber. Diwan, kata Massignon, pertamakali ditemukan oleh Al Qusyairi, di perpusatakaan Sullami. Sebagian puisi terdapat pada Al Thawasin.
Sampai di sini saya dan seharusnya kaum muslimin merasa berhutang budi dan berterimakasih kepada Louis Massignon, orang yang dengan amat tekun dan tak kenal lelah mencari dan meneliti manskrip-manuskrip (makhthuthat) tulisan al Hallaj ini. Tanpa kerja keras intelektualnya yang luar biasa, orang besar ini : Husain Manshur al Hallaj, berikut tulisan-tulisan tangannya, terutama al Thawasin dan Diwan, mungkin tak dikenali sampai hari ini. Boleh jadi seluruh tulisan orang mengenai Hallaj, akan selalu mengacu pada karya Masignon ini.
Al Thawasin, karya utama al Hallaj, berisi kumpulan narasi pemikiran dan keyakinan-keyakinannya yang ditulis dalam bentangan waktu hidupnya yang berbeda. Thawasin berisi 11 teks: 1. Thasin al Siraj. Menurut Ruzbihan Baqli, Thasin al Siraj berarti Lampu Al Musthafa (Nabi Muhammad), berisi pandangan Hallaj tentang Hakikat Muhammadiyyah. Tha dan Sin kependekan dari Thaha dan Yasin, dua panggilan nabi Muhammad. 2. Thasin al Fahm (pemahaman).3. Thasin al Shafa (Kebeningan), 4. Thasin al Dairah (Sirkuit), 5. Thasin al Nuqthah (Titik), 6. Thasin al Azal wa al Iltibas (Kebahagiaan dan Derita Eterniti/Keabadian dan Kekeliruan pemahaman), 7. Thasin al Masyi-ah (Kehendak), 8. Thasin al Tauhid (Keesaan), 9. Thasin al Asrar fi al Tauhid (Rahasia-rahasia dalam Keesaan), 10. Thasin al Tanzih (Kesucian, keterbebasan), dan 11. Thasin Bustan al Ma’rifah (Taman Pengetahuan/Ma’rifat).


Memaknai gagasan Al Hallaj
Kehidupan al Hallaj, adalah perjalanan spiritualitas yang total. Sehari-hari dia menggumamkan kerinduannya yang mencekam, menggetarkan dan menenggelamkan eksistensinya ke dalam Tuhan, baik melalui Tuhan yang turun ke dalam hatinya (Hulul), maupun ruhnya yang naik menyatu dengan-Nya (Ittihad) dan kesaksian atas kesatuan semesta (Wihdah al Wujud). Al Hallaj menempuhnya melalui pengembaraan di belantara realitas, penjelajahan semesta dan pendakian yang tertatih-tatih dan terkantuk-kantuk. Tetapi juga keriangan, keindahan dan pesona-pesona. Lihat, ketika dia bicara ini :

سكوت ثم صمت ثم خرس    وعلم ثم وجد ثم رمس

وطين ثم نار ثم نور    وبرد ثم ظل ثم شمس

وحزن ثم سهل ثم فقر   ونهر ثم بحر ثم يبس

وسكر ثم صحو ثم شوق    وقرب ثم وفر ثم أنس

قبض ثم بسط ثم محو    وفرق ثم جمع ثم طمس

وأخذ ثم رد ثم جذب    ووصف ثم كشف ثم لبس

(ديوان الحلاج 4)
Diam, hening, bisu, mengetahui, menemukan lalu tenggelam
Tanah lempung, api, cahaya, dingin, bayang-bayang lalu matahari
Duka, datar, terjal, sungai, lautan lalu kering
Mabuk, cerah, rindu, merapat, bergabung lalu keintiman
Tergenggam, terbuka, lepas, terpencar, terhimpun lalu lenyap-senyap
penerimaan, penolakan, ketertarikan, sebutan, tersingkap lalu mengenakan baju
(Diwan Qasidah 4: Perjalanan)
Deklarasi al Hallaj yang monumental, yang menggetarkan: “Ana al Haq”(Akulah Kebenaran/Tuhan), memperoleh response dan tafsir yang beragam. Jalal al Din al Rumi bilang: “Banyak orang menganggap ini ucapan amat berbahaya. Tetapi sejatinya ia adalah puncak kerendah-hatian (tawadhu’). Jika dia mengatakan :”Aku hamba Kebenaran (Ana Abd al Haq), dia telah menetapkan dua entitas, Dualitas; dirinya dan Tuhan. Jika dia mengatakan : “Ana al Haq”, dia telah meniadakan dirinya dan menyerahkannya kepada angin. Ucapan “Ana al Haq” sama dengan “Ana ‘adam” (aku tiada), Dialah Totalitas Absolut-Universal (Huwa al Kulliyyah). Tak ada Eksistensi kecuali Allah. Aku dengan seluruh eksistensiku adalah tiada. “Ana Lastu Syai-an”(Aku bukanlah apa-apa). Inilah kerendah-hatian yang paling tinggi (Hadza al Tawadhu’ A’zham)”. (Fihi ma Fihi, Pasal 11: “Perlihatkan kepadaku segala hal”, h. 84).
Sufi lain bilang : Ketika al Hallaj berteriak :”Akulah Kebenaran”, dia adalah terompet yang ditiup oleh nafas Tuhan”. Yang lain bilang : “Dia juru bicara jiwa ketuhanan melalui lidah kemanusiaan”. Yang lain lagi bilang ;”Aku di situ, bukan kehampaan murni, melainkan sebagai penyucian diri yang ditarik menuju bentuk-bentuk wujud yang lebih tinggi dan akhirnya melebur dalam Tuhan yang dalam ucapan Husain al Nuri (w.295 H/908 M):”terbentuk dalam sifat-sifat Tuhan”(al Takhalluq bi Akhlaq Allah). Nabi menganjurkan : “Takhallaqu bi Akhlaq Allah”(Berakhlak-lah dengan Akhlaq Tuhan/pakailah etika Tuhan). Dll.

Gagasan Kemanunggalan atau Kesatuan Eksistensi Semesta, bukan hanya milik al Hallaj. Hampir semua sufi besar yang tercerahkan bicara tentang gagasan ini. Abu Bakar al Syibli bilang: “Akulah Sang Waktu”, Abu Yazid al Bisthami berucap :”O, Betapa Maha Sucinya Aku”. Ibnu Arabi mengatakan : “Seorang sufi melihat Allah dalam Ka’bah, dalam Masjid, dalam Gereja dalam Kuil”. Syibli, sahabatnya yang hadir saat eksekusi Hallaj, membisikkan kepada temannya: “Hallaj dan Aku memiliki kepercayaan yang sama, tapi kegilaanku menyelamatkan diriku, sedangkan kecerdasan telah menghancurkan dirinya”
Para mistikus besar bicara tentang Kesatuan Eksistensi (Wahdah al Wujud) di atas. Bagi para bijakbestari itu,  di alam semesta ini hanya ada Dia, karena seluruhnya hancur dan tak bermakna. Ini digambarkan oleh Abd Wahab al Sya’rani (w. 973), sufi besar lain, dalam bait-bait puisi ini :

وكل ما سواه نجم آفل    بل فى شهود العارفين باطل

فليس إلا الله والمظاهر     لجملة الاسماء وهو الظاهر

فغيره فى الكون لا يقال    لانه فى ذاته محا ل
Seluruhnya, selain Dia adalah bintang yang lenyap
Dalam mata para bijakbestari ia adalah ketiadaan
Tak ada apapun, kecuali Allah
Sekumpulan nama dalam alamraya tak ada,
Yang tampak hanyalah Dia
Selain Dia, dalam semesta, tak berarti
Karena dirinya sendiri, tak mungkin mewujud

Menggoncangkan Otoritas Mapan
Para sufi besar adalah pribadi-pribadi tulus dengan pikiran-pikiran yang mengundang daya tarik yang luar biasa bagi rakyat. Mereka adalah para reformer sejati. Pandangan-pandangan dan sikap-sikap mereka sangat kritis terhadap kehidupan glamor dan korup para penguasa atas nama rakyat. Para sufi menekankan pelayanan masyarakat, kebersahajaan, ketulusan, kebersihan hati, toleransi yang luas dan mencintai sesama. Cahaya yang mereka pancarkan dari jiwa dan pikiran yang bersih telah menyedot gairah rakyat yang tertindas di mana-mana. Dan kata-kata mereka pun sampai. Kehadiran mereka dengan dukungan besar rakyat jelata yang diam, telah menggoyahkan kemapanan status quo. Kekuasaan politik beralih ke arah mereka. Sementara itu, ketika banyak orang mengejar dan memuaskan diri dengan simbol-simbol dan baju-baju eksoteris yang mengecoh, kaum sufi mencari Essensi yang esoteris dan ingin bersembunyi di tanah tak dikenal. Ketika banyak orang manggut-manggut di depan kekuasaan atau hasrat puja-puji rakyat, kaum sufi tak menjunjung tinggi-besar apapun kecuali Sang Essensi. Tak pelak, seluruh pikiran dan gerak mereka seperti itu mengancam sekaligus meruntuhkan kewibawaan dua otoritas maha perkasa : otoritas politik (struktral) dan otoritas keagamaan (kultural).
Karuan saja, otoritas-otoritas tersebut lalu menggunakan tangan kekuasaannya untuk menyingkirkan, mengkerangkeng dan melenyapkan para mistikus itu, dengan berbagai cara. Sejumlah sufi yang sudah disebut, dan masih banyak lagi yang lain,  mengalami nestapa sebagaimana atau serupa al Hallaj. Murid dan pembela Al Hallaj paling gigih, ‘Ain Qudhat al Hamdani, misalnya, mengalami hal serupa dengan guru dan pujaannya itu. Dia, (w. 1130 M), dihukum mati tepat di pintu sekolah tempat dia mengajar. Tubuhnya dibungkus kain dan dibakar. Abunya ditaburkan ke udaraImam Jalal al Suyuti, salah satu pembela Ibnu Arabi yang gigih, mengatakan : “Ma Kana Kabirun fi ‘Ashr Illa Kana Lahu ‘Aduwn min al Safalah”(Orang besar dalam sejarah selalu punya musuh orang-orang bodoh).

وقلوب وددكم تشتاقكم     والى لذيذ لقائكم ترتاح
Hati dan jiwa pencintamu merinduimu
Kelezatan bertemu engkau
O, betapa damai
Semoga Tuhan memberkati dan membagi mereka kegembiraan di Manzilah al Raghaib (Tempat Istirah Idaman)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar